Di Sincere Bakery, suasana sore itu terasa padat oleh orang-orang yang baru pulang kerja. Rere berdiri di depan etalase, menatap cheesecake terakhir yang tersisa.
"Tolong satu cheese—"
Kalimatnya terhenti. Suaranya berbarengan dengan pria di sampingnya.
Rere menoleh. Waktu seakan berhenti.
Saga.
"Rere…"
Sapaan sederhana itu seperti membuka kembali seluruh kenangan yang pernah ia simpan rapat. Tawa, janji, hingga perpisahan yang tak pernah benar-benar selesai.
Belum sempat ia menjawab, seorang wanita datang dan berdiri di sisi Saga. Senyumnya hangat, begitu akrab.
Tanpa sadar, mata Rere jatuh pada tangan mereka. Cincin di jari manis—serupa, berkilau, dan pasti. Seolah menegaskan sesuatu yang tak perlu dijelaskan.
Saga hanya memberi senyum singkat, lalu berlalu bersama wanita itu.
Rere tetap diam, terpaku di tempatnya.
Ternyata, yang hilang bukan hanya kamu—
tapi juga kemungkinan tentang kita.
Jika dulu aku tidak pergi, apakah cincin itu seharusnya ada di jariku?