Bandung, 1930. Kota itu masih berselimut kabut saat Johana Margaretta melangkah turun dari mobil Plymouth hitam milik ayahnya di pelataran Gedung Sate. Aroma aspal basah dan wangi pohon kenari menyambutnya. Johana, dengan gaun chiffon sewarna gading yang menjuntai anggun, sebenarnya bosan setengah mati mengikuti tur arsitektur yang dipandu pamannya.
Ia memilih memisahkan diri, menyusuri selasar gedung yang masih menyisakan aroma cat baru. Di sanalah, di sebuah lorong dekat tangga kayu jati yang megah, ia melihat seorang pemuda sedang berjongkok, membetulkan instalasi kabel lampu dinding.
"Hati-hati, Meneer. Listrik itu tidak punya perasaan, sekali kau kena, dia tidak akan minta maaf," celetuk Johana dengan bahasa Belanda yang aksennya sangat kental kelas atas.
Pemuda itu tersentak, hampir menjatuhkan tangnya. Ia menoleh, dan Johana merasa jantungnya baru saja melakukan lompatan kecil yang tidak sopan. Pemuda itu memiliki rahang tegas khas Eropa, namun kulitnya sewarna tembaga dengan mata cokelat yang hangat—ciri khas darah Priangan yang kental.
"Listrik mungkin tidak punya perasaan, Mejuffrouw. Tapi dia jauh lebih jujur daripada manusia," jawab pemuda itu, bangkit berdiri dan mengusap tangannya yang kotor ke celana kainnya. Ia tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat Johana lupa caranya berkedip. "Saya Pieter. Dan saya bukan Meneer. Saya hanya asisten tukang yang kebetulan bisa membaca cetak biru."
Johana mengangkat dagunya, mencoba kembali ke mode nona besar. "Seorang asisten tukang yang bicara filosofi? Kau menarik, Pieter. Tapi kelihatannya ibumu tidak akan senang melihat kemeja putihmu penuh noda oli begini."
Pieter tertawa kecil, suara baritonnya bergema di lorong sepi. "Ibuku seorang Nyai, Nona. Baginya, noda oli adalah tanda laki-laki itu bekerja. Yang dia benci adalah noda di harga diri."
Jawaban itu memukul Johana. Sederhana, tapi berani. Selama berbulan-bulan setelah itu, koridor Gedung Sate menjadi saksi bisu pertemuan rahasia mereka. Johana sering berpura-pura kehilangan sarung tangan atau ingin melihat pemandangan menara, hanya untuk bertemu Pieter.
"Mengapa kau terus kembali, Anna?" tanya Pieter suatu sore di balik pilar besar. Ia mulai memanggilnya Anna, nama yang menurutnya lebih "membumi". "Kau tahu ini berbahaya. Ayahmu bisa membuatku lenyap dari Bandung dalam semalam."
Johana menatap Pieter, lalu dengan berani menarik ujung kerah kemeja pemuda itu. "Ayahku punya segalanya, Pieter. Tapi dia tidak punya mata yang menatapku seolah aku adalah satu-satunya manusia di dunia ini. Hanya kau yang punya."
Pieter terdiam, lalu perlahan ia melepaskan topi yang dikenakan Johana, membiarkan rambut pirangnya tertiup angin Bandung yang sejuk. "Kalau begitu, bersiaplah untuk hidup susah, Nona. Karena aku tidak punya istana untukmu, hanya sebuah gubuk di Garut dan cinta yang keras kepala."
"Gubuk di Garut terdengar lebih mewah daripada penjara di Bandung ini," balas Johana mantap.
Namun, badai datang lebih cepat. Tuan Van de Bosch menemukan surat-surat Pieter di laci meja rias Johana. Ruang tamu rumah mereka di Lembangweg mendadak terasa seperti medan perang.
"Seorang Indo? Anak Nyai?" Ayahnya meludah ke lantai. "Kau merusak darah murni keluarga kita, Johana! Besok kau berangkat ke Amsterdam!"
"Darahku mungkin murni Belanda, Papa. Tapi hatiku sudah menjadi milik tanah ini, milik laki-laki itu!" teriak Johana, sebelum akhirnya ia diseret masuk ke kamar dan dikunci dari luar.
Malam itu, hujan turun dengan angkuhnya di Bandung. Johana menatap jendela kamarnya yang tinggi. Di bawah sana, di balik pagar besi, ia melihat bayangan seseorang dengan sepeda tua. Itu Pieter. Tanpa pikir panjang, Johana merobek sprei tempat tidurnya, menyambungnya menjadi tali, dan nekat turun meski tangannya perih tergesek kain.
Saat kakinya menyentuh tanah, Pieter langsung memeluknya erat, menutupi tubuh mungil Johana dengan jas hujannya yang kusam.
"Kau gila, Anna. Kau meninggalkan semua ini demi aku?" bisik Pieter tak percaya.
Johana menggigil, tapi ia tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Jangan banyak bicara, Pieter Abimanyu. Cepat bawa aku pergi sebelum aku berubah pikiran dan minta dibelikan es krim di Braga!"
Mereka memacu sepeda itu menembus pekatnya malam menuju selatan. Di stasiun kecil, mereka naik kereta terakhir menuju Garut. Di gerbong kelas tiga yang pengap dan bau sayuran, Johana menyandarkan kepalanya di bahu Pieter. Ia menanggalkan sepatu hak tingginya yang mahal dan membiarkan kakinya yang tanpa alas menyentuh lantai kereta yang kotor.
"Selamat datang di hidup baru, Nyonya Abimanyu," bisik Pieter sambil mengecup kening istrinya.
Di Garut, hidup mereka adalah sebuah puisi tentang ketabahan. Johana yang dulu tidak tahu cara memegang sapu, kini fasih menumbuk padi. Suatu sore, Pieter pulang dari perkebunan teh dengan wajah lelah dan baju yang basah kuyup. Ia mendapati Johana sedang berjongkok di depan tungku, wajahnya cemong oleh abu kayu bakar karena gagal menyalakan api.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Johana cemberut saat melihat suaminya terkekeh di pintu.
Pieter mendekat, mengusap pipi istrinya dengan ibu jari. "Aku hanya sedang berpikir, betapa cantiknya Nona Belanda ini saat sedang bertarung melawan kayu bakar. Kau tahu? Kau jauh lebih hebat daripada para meneer di Bandung itu."
Johana mencibir, tapi kemudian ikut tertawa. "Tentu saja. Dan jangan lupa, aku sudah bisa memasak sambal terasi sekarang. Meskipun kau harus menyiapkan air minum yang banyak."
Tawa mereka pecah di gubuk kecil itu, sebuah kebahagiaan yang tak mampu dibeli dengan emas. Namun, takdir kembali menguji. Perang Dunia II pecah, dan Jepang mendarat. Pieter dibawa paksa menjadi romusha. Saat tentara Jepang menyeretnya, Pieter sempat menoleh ke arah Johana yang sedang memeluk anak-anak mereka di pinggir jalan.
"Jaga mereka, Anna! Aku akan pulang!" teriaknya.
Johana tidak menangis di depan anak-anaknya. Ia berdiri tegak, meski hatinya hancur berkeping-keping. Bertahun-tahun ia bertahan, menghitamkan kulitnya dengan kunyit dan jelaga, mengaku sebagai perempuan peranakan agar tidak dibawa ke kamp interniran. Ia menjadi buruh cuci, tangannya yang dulu hanya pernah memegang buku kini kasar karena menyikat pakaian di sungai.
Hingga suatu hari, seorang teman Pieter pulang membawa kabar duka. Pieter telah tiada di jalur kereta api maut di Burma. Johana terduduk di lantai tanah rumahnya. Ia tidak menjerit. Ia hanya mengambil selendang pemberian Pieter yang sudah kusam, mencium aromanya yang masih tersisa, lalu tersenyum pedih.
"Kau sudah pulang, Pieter. Kau pulang ke dalam hatiku," bisiknya lirih.
Puluhan tahun kemudian, Johana Margaretta Abimanyu duduk di kursi goyang di teras rumahnya yang kini sudah permanen di Garut. Rambutnya sudah seputih kapas. Anak-anaknya, yang kini menjadi guru dan dokter, duduk mengelilinginya.
"Eyang, kenapa dulu Eyang mau meninggalkan Bandung yang bagus demi tinggal di sini?" tanya cucu terkecilnya.
Johana menatap pegunungan Garut yang hijau, matanya yang biru masih nampak cerah meski sudah renta. Ia teringat koridor dingin Gedung Sate, senyum tipis pemuda blasteran dengan tangan penuh oli, dan keberanian gila di malam hujan itu.
"Karena di Bandung, Eyang hanya punya cermin untuk melihat diri sendiri," jawab Johana lembut sambil membelai rambut cucunya. "Tapi di sini, bersama kakekmu, Eyang punya hidup. Hidup yang berbau tanah, berbau peluh, tapi rasanya sangat manis. Seperti sambal terasi buatan Eyang yang pertama kali."
Semua orang tertawa. Johana menutup matanya perlahan, merasakan hembusan angin Garut yang dingin, membayangkan Pieter sedang menunggunya di selasar sebuah gedung megah di surga, lengkap dengan kemeja putih dan senyum yang selalu membuatnya lupa cara bernapas. Di tanah ini, cintanya tidak pernah mati; ia hanya sedang menunggu waktu untuk kembali bersatu.