Dinding kayu warung itu masih beraroma kopi saset dan tembakau, aroma yang selama dua puluh dua tahun menjadi napas bagi hidupku. Aku duduk di laci kayu kusam tempat Nenek biasa menyimpan uang receh hasil jualan. Di sana, di antara tumpukan koin lima ratusan, aku menemukan selembar kertas pembungkus gorengan yang sudah menguning. Isinya tulisan tangan Nenek yang gemetar: “Tabungan sukses Cucu Nenek.”
Hatiku hancur berkeping-keping. Dunia di luar sana mungkin sedang sibuk dengan hiruk pikuknya, tapi di sini, di rumah kecil ini, waktu seolah mati tepat saat napas terakhir Nenek terlepas dari raga senjanya.
Semua bermula saat usiaku baru satu bulan. Di saat bayi lain merasakan hangatnya dekapan ibu dan proteksi seorang ayah, aku justru diletakkan di dalam keranjang anyaman di depan pintu rumah Nenek. Orang tuaku memilih jalan masing-masing, membangun istana baru dengan pasangan baru, dan menganggapku sebagai kerikil dalam sepatu yang harus dibuang agar perjalanan mereka nyaman. Neneklah yang memungutku. Dengan tangan yang sudah mulai berkeriput, ia memelukku dan berjanji pada langit, "Anak ini tidak akan pernah merasa sendirian."
Nenek menghidupiku dengan warung kelontong kecil ini. Setiap hari, tanpa celah untuk mengeluh, Nenek bangun pukul tiga pagi. Saat udara sedang dingin-dinginnya menembus tulang, ia sudah menyalakan kompor, menggoreng bakwan, dan menyeduh kopi untuk para buruh yang berangkat pagi. Malamnya, ia sering begadang hingga larut hanya demi melayani tetangga yang butuh sebungkus mi instan atau sebatang rokok.
"Nek, istirahatlah. Matamu sudah merah," tegurku suatu malam saat aku sedang belajar untuk ujian kuliah.
Nenek hanya menoleh, lalu memberikan senyuman termanis yang pernah ada di dunia ini. Senyuman yang seolah berkata bahwa lelah itu tidak ada. "Sedikit lagi, Nak. Biar uang semesteranmu genap. Nenek tidak mau cucu Nenek putus sekolah gara-gara warung tutup kepagian."
Setiap malam sebelum tidur, kami selalu melakukan deep talk. Kami duduk di bangku panjang depan warung, menatap langit yang kadang tanpa bintang. Di saat itulah, aku sering menumpahkan segala mimpiku.
"Nek, kalau aku sudah sukses nanti, aku mau bahagiain Nenek saja. Aku tidak butuh Papa atau Mama. Aku mau beliin Nenek kursi pijat yang empuk, mau ajak Nenek jalan-jalan ke tempat yang sejuk, pokoknya apa saja yang Nenek mau," ucapku sambil menyandarkan kepala di bahunya yang ringkih.
Nenek terdiam. Aku merasakan bahunya sedikit bergetar. Ia mengusap kepalaku dengan lembut, tapi matanya terlihat sedih. "Nek, kok sedih? Harusnya Nenek senang dong punya cucu yang mau membalas budi."
"Nenek sedih karena Nenek takut tidak punya cukup waktu untuk melihat itu, Nak," bisiknya parau. "Tapi Nenek selalu doakan, di setiap tahajud Nenek, agar semua urusanmu dilancarkan. Jangan pikirkan membalas budi pada Nenek. Jadilah orang hebat, itu sudah cukup bagi Nenek."
Bulan kemarin, mendung seolah enggan beranjak dari atap rumah kami. Pagi dan siangnya, Nenek masih tampak segar. Ia masih sempat membuatkan sambal terasi kesukaanku dan tertawa saat aku menceritakan kejadian lucu di kampus. Namun, saat sore menjelang, wajah Nenek tiba-tiba pucat pasi. Keringat dingin sebesar biji jagung membanjiri keningnya.
"Bawa Nenek ke rumah sakit, Nak... Dada Nenek sesak sekali," rintihnya sambil memegangi dadanya.
Itu adalah pertama kalinya Nenek mengeluh sakit. Selama ini, ia selalu menyembunyikan segala nyeri di balik senyum manisnya. Di rumah sakit, vonis dokter seperti petir yang menghanguskan seluruh harapanku. Gagal jantung dan ginjal. Penyakit itu sudah lama bersarang di tubuhnya, perlahan menggerogoti karena kelelahan kronis dan kurangnya istirahat selama puluhan tahun demi menghidupiku.
"Harusnya Nenek tidak usah kecapean demi aku... Harusnya aku yang jaga warung itu, bukan Nenek," tangisku pecah di samping ranjangnya.
Dua hari dirawat, kondisi Nenek memburuk. Ia harus dipindahkan ke ruang ICU. Aku hanya bisa menatapnya dari balik kaca kecil, melihat tubuh kecil itu terhubung dengan berbagai selang yang mengerikan. Aku terus membisikkan doa, berjanji pada Tuhan bahwa aku akan menjadi hamba yang paling taat asalkan Nenek diberikan kesempatan kedua.
Malam ketiga di ICU, udara subuh terasa begitu menusuk. Aku diizinkan masuk karena kondisi Nenek kritis. Aku berdiri di samping telinganya, membisikkan kalimat tauhid sambil menggenggam tangannya yang sudah dingin. Tepat saat azan subuh berkumandang, aku melihat pemandangan yang akan menghantuiku seumur hidup.
Mata Nenek terbuka sedikit, ia menatapku untuk terakhir kalinya. Tidak ada rasa sakit lagi di sana, hanya kedamaian yang luar biasa. Ia mengembuskan napas panjang yang terakhir tepat di depanku. Genggaman tangannya melemas. Monitor di sampingnya mengeluarkan bunyi panjang yang datar. Beep...
Nenek pergi. Pahlawanku, duniaku, rumahku... semuanya hilang dalam satu embusan napas.
Kini, aku berdiri di tengah warung yang kosong. Tidak ada lagi suara ulekan sambal di pagi hari. Tidak ada lagi aroma kopi yang menenangkan. Orang tuaku? Mereka datang saat pemakaman hanya untuk basa-basi, lalu kembali ke keluarga mereka seolah-olah aku ini orang asing.
Aku duduk sendirian di sudut warung, memeluk lutut. Aku tidak punya siapa-siapa lagi untuk menceritakan betapa beratnya hariku. Aku tidak punya tempat pulang karena "rumah" itu bukan tentang bangunan, tapi tentang orang yang ada di dalamnya.
"Nek, aku sudah lulus... tapi kenapa Nenek tidak menunggu sebentar lagi?" bisikku pada kursi kosong di depanku.
Air mataku jatuh ke lantai tanah warung ini. Aku hidup sendirian sekarang, memikul semua mimpi yang kini terasa hampa. Nenek benar, ia tidak punya cukup waktu. Tapi satu hal yang pasti, senyum manisnya di pagi hari akan selalu menjadi api yang menjagaku agar tidak mati kedinginan di dunia yang kejam ini. Selamat jalan, Nek. Terima kasih sudah memilihku, saat semua orang membuangku.