Jakarta sore itu terasa begitu mencekik bagi Bayu. Di usianya yang ke-35, ia memiliki segalanya yang diimpikan orang: karier mentereng, apartemen mewah, dan kemandirian yang absolut. Namun, di balik setelan jas mahalnya, ada luka menganga yang ia perban rapat selama dua puluh lima tahun. Luka itu bernama Ibu. Baginya, wanita itu hanyalah masa lalu yang tega membuangnya saat ia masih sepuluh tahun, meninggalkannya terkunci dalam sepi bersama sang ayah yang hancur hingga napas terakhir. Bayu bersumpah tidak akan pernah menoleh ke belakang, sampai sebuah pesan singkat dari Tante Lastri meruntuhkan dinding keangkuhannya: "Bayu, pulanglah. Ibumu sakit keras. Dia tidak minta uang atau pengobatan darimu. Dia hanya ingin memohon maaf sekali saja sebelum napasnya yang tersisa ini diambil Tuhan. Pulanglah, Bay, di nadimu mengalir darahnya."
Dengan sisa kebencian yang masih membara, Bayu memacu mobilnya menuju kota kecil kelahirannya. Ia menyiapkan seribu kalimat makian. Ia ingin menunjukkan betapa hebatnya dia tumbuh tanpa pelukan seorang ibu. Namun, saat kakinya melangkah masuk ke rumah tua yang reyot itu, aroma minyak kayu putih dan sesak udara menyambutnya. Di atas ranjang besi yang berkarat, terbaring sosok wanita yang nyaris tak ia kenali. Kulitnya keriput kering membungkus tulang, matanya cekung, dan rambutnya memutih kusam. Saat mata mereka bertemu, wanita itu gemetar hebat. Suaranya hanya bisikan parau yang nyaris hilang, "Bayu... anakku... kamu datang?"
Bayu berdiri kaku, berusaha tetap dingin. "Aku datang bukan untuk memaafkan, hanya ingin melihat apa yang ingin kau katakan," ucapnya tajam. Namun, wanita itu justru menangis sesenggukan, mencoba meraih tangan Bayu dengan jari-jarinya yang lemah. "Ibu tahu Ibu berdosa, Bay. Ibu tidak pantas disebut ibu. Selama dua puluh lima tahun ini, setiap suapan nasi yang Ibu makan terasa seperti duri karena Ibu tidak tahu apa kamu sudah makan. Setiap malam Ibu sujud, bukan minta surga, tapi minta Tuhan menjaga kamu karena Ibu tidak ada di sana."
Wanita itu kemudian mengeluarkan sebuah kotak kayu kusam dari bawah bantalnya. Dengan tangan gemetar, ia membukanya. Di dalamnya bukan emas atau surat berharga, melainkan potongan-potongan koran dan foto yang dikumpulkan secara diam-diam selama puluhan tahun. Ada foto Bayu saat wisuda yang diambil dari jauh, ada berita tentang kesuksesan kantor Bayu yang ia gunting rapi, dan ada sebuah buku tabungan lusuh atas nama Bayu. "Ibu kerja jadi buruh cuci, Bay. Ibu tidak berani menemuimu karena Ibu malu, Ibu merasa kotor. Tapi Ibu selalu sisihkan uang ini, berjaga-jaga kalau suatu saat kamu butuh, meski Ibu tahu kamu sudah jauh lebih sukses sekarang. Ibu hanya ingin kamu tahu, tidak sedetik pun Ibu berhenti mencintaimu dalam sunyi."
Pertahanan Bayu hancur berkeping-keping. Tembok kebencian yang ia bangun selama dua dekade runtuh seketika saat ia melihat buku tabungan yang penuh dengan setoran kecil hasil keringat ibunya. Ia melihat telapak tangan ibunya yang kasar dan penuh luka pecah-pecah. Bayu menyadari bahwa selama ini ia bukan membenci ibunya, ia hanya merindukannya dengan cara yang salah. Ia berlutut di lantai, membenamkan wajahnya di tangan ibunya yang kurus, dan menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil usia sepuluh tahun yang dulu ditinggalkan. "Ibu... kenapa baru sekarang? Kenapa Ibu biarkan aku membenci Ibu selama ini?"
Wanita itu mengusap rambut Bayu dengan sisa tenaganya, air matanya jatuh membasahi kemeja mahal anaknya. "Maafkan Ibu, Nak. Sekarang Ibu sudah tenang. Darah Ibu yang ada di tubuhmu... jangan biarkan dia mengalir dengan rasa benci lagi." Sore itu, di dalam kamar yang pengap, dendam itu luruh bersama isak tangis yang pecah. Bayu memeluk erat tubuh rapuh itu, menyadari bahwa seburuk apa pun kesalahan orang tua, mereka adalah pintu menuju kedamaian batin kita sendiri. Jangan menunggu nisan tertanam untuk sekadar berbisik maaf, karena penyesalan terdalam adalah saat kita ingin bersimpuh, namun raga yang ingin kita peluk sudah menyatu dengan tanah. Bayu akhirnya pulang, bukan ke rumahnya yang mewah di Jakarta, tapi ke dalam pelukan yang selama ini ia ingkari keberadaannya.