Langit sore itu berwarna jingga keabu-abuan, seperti kanvas tua yang mulai memudar. Ombak memecah perlahan di tiang-tiang kayu dermaga yang mulai lapuk, mengeluarkan suara derit yang terdengar seperti rintihan kecil. Di ujung dermaga yang menjorok jauh ke laut, seorang pria berdiri tegak. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana panjang biru tua yang rapi. Kemeja putih slim fit-nya terbuka tiga kancing atas, membiarkan angin laut yang asin membelai dadanya. Dasi hitamnya sudah terlepas, menggantung longgar di leher seperti beban yang ingin ia buang namun tak sanggup ia lepaskan.
Namanya Arka Pradana. Usia empat puluh tahun. Dingin, tegas, dan sulit ditebak. Di mata dunia, ia adalah penguasa samudera, pemilik perusahaan pelayaran terbesar di kota itu. Namun di balik rahang tegas dan tatapan tajamnya, Arka adalah seorang pria yang berhenti percaya pada cinta. Baginya, cinta hanyalah jangkar karatan yang hanya akan menahan kapal untuk berlayar maju.
"Tuan Arka... kapal sudah siap," suara pelan asisten pribadinya memecah keheningan dari belakang.
Arka tidak menoleh. Ia tetap memandang horizon yang memudar, tempat matahari perlahan tenggelam ditelan kegelapan. "Aku belum selesai," jawabnya datar.
Pria tua itu mengangguk pelan lalu mundur. Semua orang tahu, jika Arka sedang berada di dermaga saat senja, tak ada yang boleh mengganggunya. Karena di tempat itulah, sepuluh tahun yang lalu, dunianya runtuh. Seorang wanita bernama Livia meninggalkannya di dermaga yang sama. Tanpa janji, tanpa kata, tanpa pernah kembali. Sejak saat itu, Arka membangun tembok setinggi langit di sekeliling hatinya.
"Aneh," sebuah suara lembut tiba-tiba terdengar, memecah kesunyian yang Arka ciptakan sendiri. "Seorang pria terlihat seperti menunggu seseorang… tapi wajahnya seperti sudah menyerah."
Arka mengerutkan alis. Jarang ada yang berani mendekatinya tanpa izin, apalagi menilainya dengan begitu lancang. Ia menoleh perlahan dan untuk pertama kalinya setelah satu dekade, jantungnya berdetak dengan irama yang asing.
Seorang wanita berdiri tepat di depannya. Rambut panjang bergelombang tertiup angin, mata cokelatnya hangat dan berani menatap langsung ke dalam manik mata Arka yang dingin. Ia mengenakan gaun sederhana warna krem yang menari-nari ditiup angin laut.
"Tidak sopan menilai orang yang tidak kamu kenal," kata Arka dingin.
Wanita itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang tampak seperti sisa cahaya matahari yang terakhir. "Dan tidak sopan juga menatap laut seolah dunia sudah berakhir. Aku suka tempat ini. Terasa seperti... seseorang pernah meninggalkan hatinya di sini."
Arka menegang. Pertahanannya sedikit goyah oleh kalimat sederhana itu. "Siapa kamu?"
"Namaku Nayla," jawabnya pelan sebelum berjalan melewati Arka menuju ujung dermaga, seolah-olah ia sudah biasa berada di sana.
Sejak hari itu, sosok Nayla menjadi anomali dalam hidup Arka yang kaku. Nayla ternyata seorang pelukis sketsa yang senang mengabadikan objek-objek yang "terluka". Arka sering menemukannya duduk di sudut pelabuhan, mencoretkan pensil di atas kertas linen.
Suatu pagi, Arka menghampirinya. "Kenapa harus kapal yang rusak?" tanya Arka, menunjuk sketsa kapal kayu yang karam setengah badan.
Nayla menoleh, matanya berbinar kena pantulan air. "Karena kapal yang rusak punya cerita tentang badai yang berhasil mereka lewati, Tuan Arka. Kapal baru itu membosankan. Mereka belum punya luka, belum punya jiwa."
"Dermaga ini akan segera dirobohkan," cetus Arka tiba-tiba, berusaha menekan rasa sesak di dadanya. "Aku akan membangun terminal peti kemas modern di sini. Semuanya akan beton dan baja. Efisiensi lebih penting daripada kenangan."
Nayla menghentikan goresan pensilnya. "Jadi, Anda ingin menghapus satu-satunya tempat yang masih menyimpan sisa napas Livia?"
Nama itu menghantam Arka seperti badai. "Bagaimana kamu tahu nama itu?"
"Orang-orang membicarakanmu seperti legenda tragis, Arka. Pria hebat yang dikalahkan oleh satu nama. Tapi menghancurkan dermaga ini tidak akan menghancurkan rasa sakitmu. Itu hanya akan membuatmu kehilangan jalan pulang."
Puncak dari segalanya terjadi saat badai besar menghantam kota dua minggu kemudian. Hujan turun seolah langit sedang menangis histeris. Arka, yang entah mengapa merasa gelisah, memacu mobilnya menuju pondok kecil di pinggir pantai tempat Nayla tinggal. Ia menemukan wanita itu sedang basah kuyup, mencoba menyelamatkan kanvas-kanvasnya dari atap yang bocor.
"Biarkan saja lukisan itu! Kamu bisa mati konyol!" teriak Arka di tengah deru angin.
"Tidak! Ini semua yang aku punya!" teriak Nayla balik, air mata bercampur dengan air hujan di pipinya. "Setidaknya aku mati demi sesuatu yang aku cintai! Bukan seperti kamu, yang mati setiap hari karena tidak berani mencintai apa pun lagi!"
Kalimat itu meruntuhkan sisa-sisa tembok es di hati Arka. Ia menerjang hujan, menangkap bahu Nayla, dan menariknya ke dalam pelukan yang erat. Hangat tubuh Arka menjadi pelindung bagi Nayla, dan untuk pertama kalinya, Arka merasa ia bukan lagi sebuah kapal yang tersesat di tengah samudera.
Malam itu, setelah badai mereda, Arka membawa Nayla ke rumah besarnya. Ia membuka sebuah kotak kayu tua yang selama sepuluh tahun terkunci rapat. Di dalamnya ada sepucuk surat dari Livia yang tak pernah sanggup ia baca sampai tuntas.
"Baca ini, Nayla," bisik Arka serak.
Nayla membaca surat yang sudah menguning itu, lalu menatap Arka dengan tatapan yang sangat dalam. "Arka... kamu harus membaca bagian akhirnya. Livia tidak pergi karena membencimu."
Dengan tangan gemetar, Arka membaca baris demi baris yang selama ini ia hindari:
"...Aku harus pergi, Arka. Bukan karena aku tidak mencintaimu, tapi karena penyakit ini memakan sisa waktuku. Aku tidak ingin kamu mengingatku sebagai wanita yang layu. Aku ingin kamu mengingatku sebagai wanita yang berdiri di dermaga dengan senyum paling cerah. Jangan menungguku, Arka. Hiduplah. Carilah dermaga lain untuk hatimu bersandar. Karena cinta sejati bukan tentang menahan, tapi tentang merelakan."
Isak tangis Arka pecah. Selama sepuluh tahun ia hidup dalam kemarahan yang sia-sia. Livia pergi untuk menjaganya, bukan untuk menyakitinya. Nayla berlutut di depan Arka, memeluk pria itu dengan penuh kasih. "Dia sudah tenang sekarang, Arka. Kini giliranmu untuk tenang."
Enam bulan berlalu. Dermaga tua itu tidak jadi dirobohkan. Arka mengubahnya menjadi pusat konservasi laut dan galeri seni terbuka. Sore itu, senja kembali datang, namun kali ini Arka tidak lagi memandangnya dengan benci.
Langkah kaki terdengar dari belakang. Arka tersenyum. Ia tidak menoleh, tapi ia tahu siapa yang datang. Nayla berdiri di sampingnya, menyandarkan kepalanya di bahu bidang Arka.
"Terima kasih," bisik Arka di antara hembusan angin laut.
"Untuk apa?" tanya Nayla lembut.
"Karena sudah menjadi dermaga terakhir tempat hatiku akhirnya bisa berlabuh."
Arka merangkul pinggang Nayla, menatap matahari yang tenggelam. Kini ia tahu, senja bukan lagi tanda berakhirnya segalanya, melainkan janji bahwa esok akan ada cahaya yang baru. Di dermaga itu, cinta tidak lagi meninggalkan luka, melainkan sebuah kepulangan yang abadi.