Pukul delapan pagi di kawasan Lengkong Wetan selalu riuh. Suara motor menderu, ibu-ibu kos yang menjemur pakaian, dan aroma sabun cuci yang segar menguar di udara. Di tengah hiruk-pikuk itu, pintu kamar nomor 12 terbuka.
Keluar sesosok pria dengan kemeja slim-fit berwarna biru muda yang licin tanpa cela. Rambutnya tertata rapi dengan pomade, jam tangan melingkar elegan di pergelangan kirinya, dan aroma parfum citrus yang mahal langsung memenuhi lorong. Itulah Satria. Di mata penghuni kos lain, dia adalah "mas-mas SCBD" yang tersesat di kontrakan sederhana. Dia ramah, selalu menyapa "pagi, Bu" pada pemilik kos, dan tak pernah absen mengirim cucian ke laundry setiap dua hari sekali.
Namun, ada satu hal yang janggal: Satria tidak pernah membiarkan pintu kamarnya terbuka lebih dari tiga detik saat ia keluar atau masuk.
Awalnya, kamar Satria adalah yang paling bersih. Sebagai karyawan di sebuah perusahaan multinasional, hidupnya tampak mekanis dan teratur. Namun, perlahan-lahan, sesuatu dalam jiwanya mulai bergeser.
Mungkin dimulai dari botol air mineral. Satria merasa sayang membuangnya. "Bisa dipakai lagi," pikirnya. Lalu kotak sepatu bermerek. Lalu plastik pembungkus paket belanja online. Baginya, benda-benda itu bukan sampah; mereka adalah bukti keberadaannya, bukti bahwa ia mampu membeli sesuatu, bukti bahwa ia "ada".
Setiap kali ia merasa stres dengan tekanan target di kantor, ia akan membeli barang baru. Dan setiap kali barang itu datang, bungkusnya tidak pernah keluar dari kamar itu lagi.
Lima tahun berlalu. Satria masih pria yang sama di kantor. Presentasinya memukau, pakaiannya selalu wangi. Namun, di balik pintu nomor 12, realita telah berubah menjadi neraka yang tersusun rapi.
Untuk mencapai tempat tidurnya, Satria harus berjalan menyamping melewati lorong sempit yang dibentuk oleh tumpukan botol plastik setinggi bahu. Di sudut meja kecilnya, tumpukan wadah makanan styrofoam bekas seminggu lalu mulai menumpuk. Dia tidak malas—dia hanya merasa "belum saatnya" membuang itu semua.
"Nanti kalau sudah luang, aku rapikan," bisiknya pada diri sendiri sambil menyemprotkan pengharum ruangan dosis tinggi untuk menutupi aroma asam yang mulai muncul.
Rasa kesal mungkin akan muncul jika Anda melihatnya. Bagaimana bisa seseorang yang sanggup membeli sepatu seharga tiga juta rupiah, memilih tidur melingkar seperti janin di sisa ruang kasur yang hanya tinggal 40 sentimeter? Sisa kasurnya sudah dijajah oleh tumpukan koran lama, kabel-kabel tak terpakai, dan kantong plastik berisi baju kotor yang belum sempat diantar ke laundry.
Tahun ketujuh menjadi titik nadir. Satria mulai kehilangan kendali atas "koleksinya". Kecemasannya memuncak; membuang satu tutup botol saja bisa membuatnya gemetar hebat seolah kehilangan anggota tubuh.
Lantai kamarnya sudah tidak terlihat. Semuanya tertutup lapisan sampah. Hebatnya, Satria tetap bisa tampil necis. Dia akan mandi dengan cepat (karena kamar mandi pun sudah penuh tumpukan botol sabun kosong), lalu mengenakan baju bersih dari laundry yang ia letakkan di atas tumpukan sampah paling atas agar tidak kotor.
Tetangga mulai berbisik. "Kamar nomor 12 baunya aneh ya?" atau "Kok banyak lalat hijau di ventilasi Satria?" Namun, karena Satria selalu membayar sewa tepat waktu dan penampilannya sangat meyakinkan, pemilik kos hanya menganggap itu masalah drainase biasa.
Lebaran tiba. Satria bersiap pulang ke kampung halaman. Seperti biasa, ia tampil gagah dengan jaket bomber dan koper mahal. Namun, dalam ketergesaannya mengejar jadwal kereta, sebuah kecerobohan fatal terjadi.
Ia lupa mengunci pintu.
Dua hari setelah keberangkatannya, bau busuk yang selama ini tertahan di balik pintu nomor 12 mulai "berontak". Baunya bukan lagi sekadar asam, tapi aroma bangkai dan sampah basah yang membusuk di udara lembap. Fitriana, tetangga kos sebelah, akhirnya melapor karena tidak tahan.
"Bu, kayaknya ada tikus mati di kamar Mas Satria. Baunya sampai masuk ke kamar saya," keluh Fitriana.
Pemilik kos datang membawa kunci cadangan. Dengan perasaan tak enak, ia memutar kenop pintu. Begitu pintu didorong, mereka tidak bisa membukanya lebar-lebar. Ada ganjalan berat di balik sana.
Krak.
Pintu dipaksa terbuka, dan pemandangan di dalamnya membuat Fitriana berteriak histeris sementara pemilik kos hampir pingsan.
Apa yang mereka lihat bukan sekadar kamar berantakan. Itu adalah sebuah ekosistem sampah.
Tumpukan botol plastik mineral memenuhi separuh ruangan hingga menyentuh langit-langit. Di atas meja, sisa makanan yang sudah berjamur hitam dan dipenuhi belatung berserakan. Plastik-plastik laundry yang belum dibuka tertimbun di bawah tumpukan kulit durian kering dan kotak-kotak gadget kosong.
Tidak ada ruang untuk bernapas. Dinding yang dulunya putih kini berubah cokelat kehitaman karena lembap dan jamur yang tumbuh subur dari tumpukan sampah basah di bawahnya. Aroma yang keluar begitu menyengat hingga orang-orang di lorong harus menutup hidung dengan kain berlapis.
"Astagfirullahaladzim..." bisik Fitriana lemas. "Dia tidur di mana selama ini?"
Mereka menemukan sebuah "lubang" di tengah tumpukan itu. Di sanalah Satria tidur, di atas tumpukan kain dan plastik, dikelilingi oleh sisa-sisa kehidupan yang ia anggap berharga namun sebenarnya membusuk.
Rasa kesal membuncah di hati pemilik kos. "Tujuh tahun dia merusak kamar saya! Orang gila! Penampilan saja yang hebat, tapi kelakuan lebih rendah dari binatang!" umpatnya sambil mulai memanggil petugas kebersihan.
Namun, saat petugas mulai mengangkut sampah-sampah itu—yang totalnya mencapai tiga truk kecil—Fitriana menemukan sebuah buku harian kecil di bawah tumpukan botol. Di dalamnya, tertulis kalimat singkat yang menggetarkan hati:
"Aku takut membuang apa pun. Karena setiap kali aku membuang sesuatu, aku merasa bagian dari diriku ikut hilang. Kamar ini penuh, tapi aku merasa sangat kosong."
Di situlah kemarahan warga perlahan luntur menjadi keprihatinan yang perih. Satria bukan pemalas. Satria bukan orang kotor dengan sengaja. Satria adalah pria yang sakit secara mental—seorang penderita Hoarding Disorder akut yang bersembunyi di balik wangi parfum dan kemeja rapi.
Dia bekerja di perusahaan besar, sanggup membeli apa saja, namun tak mampu membeli ketenangan untuk melepaskan satu plastik sampah pun. Kehidupannya yang tampak sempurna di luar hanyalah topeng tebal untuk menutupi reruntuhan jiwa di dalamnya.
Saat Satria kembali dari mudik dan melihat kamarnya kosong melompong serta tatapan menghakimi dari tetangga, ia tidak marah. Ia justru jatuh terduduk dan menangis sejadi-jadinya. Bukan karena malu, tapi karena ia merasa dunianya—benteng pelindungnya—telah dirampas paksa.