Tepat sekali, Saudaraku. Terima kasih telah memperhalus pemahaman ini. Hijrah yang sejati memang bukanlah memutus hubungan dengan bumi, melainkan memutus keterikatan hati pada selain Ilahi. Kita tetap berjalan di atas tanah, mencari rezeki, dan berinteraksi dengan sesama, namun arah kompas di dalam dada hanya tertuju pada satu titik: Mardhatillah.
Nama gadis itu Melati. Sebuah nama yang sederhana, namun mengandung beban harum yang sering kali layu sebelum berkembang. Sejak kecil, Melati adalah definisi dari "anak dunia". Ia tumbuh di antara gedung-gedung pencakar langit, di sela-sela dentum musik kafe yang tak pernah tidur, dan di bawah gemerlap lampu kota yang menyilaukan mata hingga bintang di langit tak lagi terlihat. Baginya, cinta adalah tentang memiliki. Cinta adalah tentang validasi dari mata manusia. Ia mengejar kasih sayang seperti seorang musafir yang mengejar fatamorgana di padang pasir; semakin ia berlari mendekat, semakin ia merasa haus dan hampa.
Hingga suatu hari, sebuah badai yang tak terlihat memorak-porandakan dunianya. Lelaki yang ia sangka adalah dermaga terakhir tempatnya berlabuh, pergi tanpa kata, meninggalkan luka yang menganga lebar di dadanya. Melati merasa dunia telah berakhir. Ia mencoba mencari pelarian pada kesibukan, pada tawa-tawa palsu di meja makan yang mewah, namun kekosongan itu tetap ada. Ia merasa seperti robot yang bergerak tanpa nyawa. Di tengah kebisingan itu, jiwanya meronta, merindukan sesuatu yang tak bisa dibeli dengan materi.
Suatu sore, saat hujan turun membasahi jendela apartemennya yang dingin, ia mendengar suara azan dari kejauhan. Suara itu terasa berbeda. Biasanya, ia hanya menganggapnya sebagai penanda waktu, namun kali ini, getarannya seolah mengetuk pintu hatinya yang telah lama terkunci rapat. Melati menangis. Bukan menangisi lelaki yang meninggalkannya, melainkan menangisi dirinya sendiri yang telah lama meninggalkan Penciptanya.
Itulah titik awal ia memahami makna Khalwat fil Jalwat—sunyi di tengah bising. Melati tidak lantas pergi ke gunung atau mengurung diri di gua. Ia tetap bekerja sebagai manajer pemasaran di sebuah perusahaan ternama. Ia tetap bertemu klien, berdebat dalam rapat, dan tersenyum pada rekan kerja. Namun, ada yang berubah di dalam dadanya. Kompasnya telah bergeser.
Dahulu, ia berdandan demi pujian manusia. Kini, ia merapikan diri karena ia tahu kebersihan dan keindahan adalah bagian dari iman. Dahulu, ia mengejar target penjualan demi bonus besar untuk membeli kemewahan. Kini, ia bekerja keras karena ia tahu bahwa mencari nafkah yang halal adalah bentuk ibadah, dan bonusnya ia gunakan untuk menjadi tangan di atas bagi mereka yang membutuhkan. Ia berada di tengah keramaian, namun hatinya sering kali sedang "menepi" ke dalam Tabir Senyap. Di sela-sela dering telepon kantor yang bising, batinnya berbisik, "Hanya untuk-Mu, ya Allah."
Perjalanan hijrah cinta Melati bukanlah jalan yang bertabur bunga. Ia sering kali dicemooh. Teman-temannya berkata ia telah "kehilangan asyiknya hidup." Mereka tidak mengerti bahwa Melati justru baru saja menemukan kehidupan yang sesungguhnya. Ia tidak lagi diperbudak oleh tren, tidak lagi merasa rendah diri jika tidak memiliki barang bermerek terbaru, dan tidak lagi haus akan perhatian lelaki. Ia telah menanggalkan dunia dari hatinya. Dunia baginya kini hanyalah sebuah tunggangan, seperti seekor kuda yang ia kendalikan untuk membawanya menuju satu tujuan abadi.
Pernah suatu ketika, tawaran untuk kembali ke masa lalunya datang. Lelaki yang dulu meninggalkannya datang kembali dengan janji-janji manis. Dahulu, Melati pasti akan luruh dan menyerahkan segalanya. Namun kini, ia menatap lelaki itu dengan pandangan yang tenang namun tegas. Tidak ada kebencian, tidak ada pula kerinduan yang membara. Ia hanya melihat seorang hamba Allah lainnya. Melati menyadari bahwa ia tidak lagi mencintai makhluk untuk memiliki, melainkan mencintai karena-Nya. Ia menolak dengan santun, bukan karena ia merasa lebih suci, tapi karena ia tahu cintanya kini terlalu berharga untuk diletakkan di tangan yang tidak membawanya lebih dekat kepada Allah.
Melati kini memahami bahwa hijrah bukan berarti ia harus berhenti menjadi manusia yang produktif. Sebaliknya, ia menjadi lebih fokus. Ia menjadi pribadi yang paling bisa diandalkan di kantor karena ia tahu kejujuran dalam bekerja adalah perintah Tuhan. Ia tetap membumi, kakinya tetap menginjak trotoar yang sama dengan orang lain, nafasnya menghirup polusi kota yang sama, namun matanya selalu menatap langit. Setiap keputusan yang diambilnya, sekecil apa pun, selalu melalui filter satu pertanyaan: "Apakah ini mendatangkan rida-Nya?"
Kini, Melati tidak lagi merasa kesepian meski ia sedang sendiri. Di tengah pesta pernikahan kerabat yang bising, ia bisa merasakan kedamaian yang luar biasa karena ia tahu Allah sedang menatapnya. Ia telah memutus keterikatan hati pada selain Ilahi. Ia telah belajar bahwa mencintai dunia adalah seperti memegang es batu; semakin erat digenggam, ia akan semakin menyakiti dan akhirnya mencair hilang. Namun mencintai Sang Pemilik Dunia adalah seperti memegang cahaya; ia tidak berat, namun ia menerangi setiap sudut gelap dalam langkahnya.
Kisah Melati adalah pengingat bagi kita semua. Bahwa kita tidak perlu lari dari kenyataan hidup untuk menjadi hamba yang taat. Kita tidak perlu membenci dunia untuk mencintai akhirat. Kita hanya perlu menempatkan dunia di tangan kita, bukan di hati kita. Biarkan tangan kita sibuk dengan urusan bumi, namun biarkan hati kita terus bertasbih dalam sunyi. Kita tetap berjalan di atas tanah, mencari rezeki dengan cara yang paling terhormat, dan menebar manfaat sebanyak-banyaknya, namun arah kompas di dalam dada hanya tertuju pada satu titik: Mardhatillah.
Melati telah menemukan cintanya. Bukan cinta yang menuntut, bukan cinta yang menyakiti, melainkan cinta yang membebaskan. Cinta yang membuatnya tetap membumi namun tetap bertujuan langit. Sebuah hijrah yang sejati, sebuah perjalanan pulang menuju pelukan rahmat-Nya yang tak bertepi. BarakaAllah fiik, bagi setiap jiwa yang sedang berjuang menepi di tengah bisingnya dunia.