Bagi Hasya Zara Binti Emran, pelarian terbaik dari luka lama akibat Adnan Zikri Bin Kamran adalah kesibukan kuliahnya di Korea Selatan. Namun, rasa sepi di negeri orang terkadang lebih tajam dari sembilu. Iseng, jemarinya mengunduh aplikasi KakaoTalk, mencari pelampiasan atau sekadar teman bicara yang tidak mengenali masa lalunya.
Di sanalah ia bertemu dengan profil bernama "Kim" – nama yang muncul dengan foto profil wajah berwajah oriental yang memikat, dengan nama lengkap yang tertera di kolom biodata: Kim Seo Jun. Sesuai namanya yang dalam bahasa Korea bisa membawa nuansa keanggunan dan ketampanan, tampilan pria itu begitu memikat hati. Hasya mengira Kim Seo Jun hanyalah "Oppa" Korea biasa yang gemar berfoto aesthetic dan menghabiskan waktu di kafe-kafe Seoul.
Namun, percakapan mereka cepat menjadi candu. Kim Seo Jun bukan sekadar sosok yang tampan; ia adalah pendengar yang cerdas, dengan kata-kata yang selalu mampu menyentuh titik lembut hati Hasya yang masih terluka.
Kim Seo Jun:
"Zara, arsitektur itu seperti perasaan. Jika dasarnya tidak kokoh, ia akan runtuh saat badai datang. Seperti hatimu yang sedang terluka, biarkan aku membantumu membangun fondasi yang baru."
Setiap malam di Seoul, saat lampu-lampu kota mulai menyala, Hasya selalu menunggu notifikasi berwarna kuning dari KakaoTalk. Sampai suatu hari, Kim membuka rahasia yang tak pernah ia ungkapkan sebelumnya: di balik nama Kim Seo Jun yang ia gunakan di Korea, ia juga dikenal sebagai Sean Kim – seorang arsitek muda berbakat yang bekerja di sebuah firma ternama di New York. Ia mulai mengirimkan foto kesibukannya di Manhattan – sketsa gedung pencakar langit yang sedang ia rancang, cakrawala kota yang selalu terlihat megah di sore hari, hingga secangkir kopi yang ia nikmati sambil merencanakan rancangan baru.
"Di sini, orang-orang menyebutku Sean Kim," tulisnya pada salah satu pesan, disertai foto dirinya berdiri di depan bangunan yang baru saja ia selesaikan. "Namun untukmu, aku selalu akan menjadi Kim Seo Jun – Oppa yang akan selalu menemani kamu dari kejauhan."
Hasya yang tadinya hanya bermain-main dengan aplikasi tersebut, kini benar-benar mengidolakan sosok pria itu. Bagi Hasya, Kim Seo Jun alias Sean Kim adalah perpaduan sempurna: wajah oriental yang menawan dengan pola pikir visioner khas New York. Setiap rancangan bangunan yang Sean Kim kirimkan lewat foto, selalu terselip pesan dari Kim Seo Jun yang penuh kasih:
"Satu hari nanti, aku akan membangun rumah dengan sentuhan Melayu untukmu di sini – di antara gedung-gedung tinggi Manhattan, atau mungkin di sebuah sudut yang damai di Seoul. Cukup tunggu saja."
Hasya jatuh cinta pada visi dan kebaikan hati pria yang ia panggil 'Oppa' itu – cinta yang tumbuh perlahan di antara jarak ribuan kilometer, menghubungkan Seoul dengan Manhattan, New York.
Kehangatan yang selalu mereka bagi setiap malam tiba-tiba membeku. Kim Seo Jun – atau Sean Kim yang ia kenal di dunia profesional – menghilang tanpa jejak tepat saat ia berjanji akan memberikan "kejutan besar" untuk ulang tahun Hasya. Dua minggu tanpa kabar membuat Hasya merasa frustrasi dan cemas; tidak ada lagi foto cakrawala New York atau sketsa bangunan baru yang muncul di layar ponselnya. Hanya riak diam yang menggantikan semua pesan hangat yang pernah mereka tukarkan.
Hingga suatu hari, seorang karyawan kantor pos datang dengan sebuah paket berlabel internasional di asramanya. Bukan bunga atau perhiasan seperti yang sering ia bayangkan, melainkan sebuah tabung gambar khas arsitek dan amplop berisi surat resmi dari firma arsitektur tempat Sean Kim bekerja di Amerika.
Dengan tangan gemetar, Hasya membaca surat tersebut. Rekan kerjanya menuliskan bahwa Sean Kim mengalami kecelakaan fatal saat dalam perjalanan menuju Bandara Internasional John F. Kennedy (JFK). Ia berencana terbang ke Seoul untuk menemui Hasya secara langsung – sebuah kejutan yang ia persiapkan dengan sangat hati-hati untuk merayakan ulang tahunnya sekaligus menyampaikan sesuatu yang telah ia simpan dalam hati selama bertahun-tahun.
"Sebelum pergi, ia selalu menyebut nama Zara," tulis rekan kerja itu. "Ia bilang, untuknya, Sean Kim adalah bagian yang bekerja di New York, tapi Kim Seo Jun adalah bagian yang milikmu saja."
Hasya membuka isi tabung tersebut dengan tangan yang terus gemetar. Di dalamnya terdapat gulungan cetak biru (blue print) sebuah rumah mungil namun mewah yang dirancang khusus olehnya – dengan atap limas bergaya tradisional Melayu yang dihiasi ornamen kayu khas nusantara, namun dipadukan dengan desain modern khas Manhattan. Di sudut kanan bawah denah itu, dua nama tertera jelas di bawah judul proyeknya:
"Rumah Untuk Zara – Dirancang oleh Kim Seo Jun / Sean Kim"
Di balik kertas denah itu, ada sebuah buku sketsa asli yang penuh dengan gambar rancangan gedung dan catatan pribadi. Di halaman terakhirnya, ada gambar wajah Hasya yang dikelilingi bunga kamboja – bunga yang pernah ia ceritakan sebagai kenangan indah dari tanah air – dengan tulisan tangan yang mulai memudar:
"Aku menghabiskan waktu merancang gedung-gedung tinggi di Manhattan dengan nama Sean Kim, tapi satu-satunya tempat yang ingin kujadikan rumah adalah di sampingmu – sebagai Kim Seo Jun yang selalu menunggumu di Seoul. Sampai jumpa di tempat di mana jarak tak lagi menjadi dinding, Hasya.
Pemuja rahasiamu yang paling jauh, Kim Seo Jun alias Sean Kim."
Hasya menangis sejadi-jadinya di tengah dinginnya musim gugur Korea, dengan lembaran denah dan buku sketsa terpeluk erat di dadanya. Pria yang ia idolakan, yang ia temukan secara tidak sengaja di aplikasi kecil itu – dengan dua nama yang masing-masing menyimpan bagian hati yang berbeda – telah pergi selamanya. New York tetap berdiri megah dengan gedung-gedungnya, Seoul tetap bersinar dengan lampu-lampunya, namun arsitek hati Hasya telah pulang ke keabadian, menyisakan sebuah janji rumah yang tak akan pernah terbangun dan cinta yang baru saja menemukan jalan untuk bersinar.