Namaku Rina, 28 tahun. Sudah tiga tahun menikah, tapi suamiku lebih sering di luar kota daripada di rumah. Badanku masih kencang: payudara 34C yang masih montok, pinggul lebar, kulit putih mulus tanpa cela—banyak yang bilang aku mirip aktris sinetron era 2010-an. Waktu SMA, aku cewek pendiam, jarang bergaul, tapi diam-diam naksir berat sama Andi. Dia kapten tim basket, tinggi 185 cm, badan atletis, wajah tajam, cuek tapi selalu bikin jantungku berdegup setiap lewat di koridor. Kami gak pernah ngobrol lebih dari “hai” atau senyum sekilas. Hanya tatapan mata yang saling curi-curi.Sepuluh tahun berlalu. Tiba-tiba grup WA kelas rame: reuni kecil di rooftop kafe fancy kota, angkatan 2012 doang. Aku ragu, tapi penasaran. Suamiku lagi dinas dua minggu, rumah sepi. Akhirnya aku balas, “Oke, aku dateng.”Malam itu aku pakai dress hitam bodycon selutut, belahan dada V rendah yang nunjukin lekuk payudara, bra renda hitam tipis, celana dalam string minim. Rambut digerai panjang, lipstik merah gelap. Dateng agak telat, tempatnya sudah ramai. Lampu neon redup, musik jazz slow, aroma wine dan parfum campur aduk. Begitu masuk, mataku langsung nyangkut di Andi. Dia berdiri deket bar, masih ganteng banget—badan lebih berotot, rambut cepak rapi, kemeja biru tua lengan digulung nunjukin urat lengan yang tegas. Senyumnya tipis, tapi mata itu… masih sama, bikin aku lemas.“Rina?” suaranya dalam, agak serak. Dia dekati, peluk ringan. Badannya hangat, bau parfum kayu dan musk maskulin langsung nyerang hidungku. “Wah… cantiknya sekarang beda banget. Dulu aja udah bikin cowok-cowok pada salah fokus.”Aku tersipu, pipi panas. “Andi… kamu juga masih ganteng. Kayak gak pernah tua.”Kami ambil tempat duduk pojok, pesen wine merah. Obrolan mengalir: dia cerita udah cerai dua tahun lalu, kerja sebagai project manager IT, hidup single dan bebas. Aku cerita suamiku sibuk, jarang pulang. Minum demi minum, kami ketawa ingat masa SMA—dia ingat aku yang selalu duduk belakang kelas, baca novel sambil curi pandang ke lapangan basket.“Tau gak, Rin? Dulu aku sering sengaja main basket pas jam istirahat biar kamu liat,” katanya sambil tatap mataku dalam. “Aku pengen kamu notice aku.”Aku geleng kepala, pura-pura gak percaya. “Bohong. Kamu kan cuek banget.”Dia condong lebih dekat, suara bisik. “Cuek di depan, tapi tiap malam aku mikirin kamu. Bayangin… gimana rasanya kalau bisa pegang pinggangmu yang kecil ini, cium lehermu yang putih…”Jantungku berdegup kencang. Badanku panas, puting mengeras di balik bra tipis. Aku cuma bisa balas pelan, “Andi… jangan gitu. Aku… udah punya suami.”“Tapi suamimu gak di sini sekarang,” bisiknya, jari telunjuknya pelan usap punggung tanganku. “Dan aku liat matamu, Rin. Kamu juga pengen. Dari tadi matamu gak lepas dari bibirku.”Aku diam, tapi gak narik tangan. Teman-teman lain mulai pulang satu per satu. Jam satu malam, kafe tutup. Andi berdiri, ulurkan tangan. “Aku anter pulang. Mobilku di bawah.”Aku angguk, tangan kami saling genggam. Di lift turun, dia tarik aku ke pelukannya dari belakang. Bibirnya menyentuh telingaku. “Kamu wangi banget… bikin aku pengen gigit lehermu sekarang.”Aku mendesah pelan, badan menempel ke dadanya. “Andi… kita gak boleh…”“Kenapa? Kamu takut ketagihan?” godaannya bikin aku basah di bawah.Di parkiran gelap belakang gedung tua, dia tarik mobil ke pojok paling gelap. Matikan mesin. Lampu jalan redup menyusup lewat kaca. Dia condong, cium bibirku pelan dulu—lembut, tapi lidahnya langsung nyusup, main di mulutku. Aku balas ganas, tangan pegang lehernya. Ciuman kami basah, berisik, penuh nafsu yang tertahan bertahun-tahun.“Rin… kamu enak banget dicium,” desahnya sambil gigit bibir bawahku pelan. “Dulu aku cuma bisa bayangin ini.”Tangannya naik ke dada, remas payudaraku dari luar dress. “Payudaramu lebih besar dari yang aku bayangin… montok banget.” Dia tarik resleting belakang, turunin dress sampai pinggang. Bra hitam renda terbuka, putingku mengeras menonjol.Dia pandang lama, mata gelap nafsu. “Lihat ini… putingmu udah keras gini buat aku.” Bibirnya turun, hisap puting kiri sambil jempol muter puting kanan. Lidahnya muter-muter, gigit pelan. Aku melengkung, desah keras. “Andi… ahhh… enak… jangan berhenti…”“Enak ya, sayang? Aku mau bikin kamu lupa suamimu malam ini,” bisiknya sambil pindah ke puting kanan, hisap lebih kuat.Tangannya turun, angkat rok dress. Jemarinya usap paha dalamku, naik pelan ke selangkangan. Celana dalam stringku udah basah banget. “Ya Tuhan, Rin… kamu banjir gini dari tadi? Celanamu basah kuyup.”Aku menggeliat. “Iya… gara-gara kamu… dari tadi aku mikirin kamu…”Dia geser string ke samping, jari tengahnya langsung masuk ke lubangku yang licin. “Sempit banget… panas… basah… ini memekmu pengen kontolku ya?”“Iya… Andi… aku pengen…” aku mengaku, suara bergetar.Dia masukin dua jari, gerak maju mundur lambat dulu, lalu cepat. Jempolnya muter klitorisku. “Bilang lagi, Rin. Bilang kamu pengen aku ngentot kamu di mobil ini.”“Aku… pengen kamu ngentot aku… keras… Andi… please…”Aku orgasme pertama, badan gemetar hebat, cairan muncrat ke jemarinya. Dia tarik jari, jilat pelan. “Manis… rasanya manis banget.”Dia buka celananya. Kontolnya loncat keluar—besar, panjang, urat-urat menonjol, kepalanya mengkilap basah. Aku pegang, panas di telapak tangan. “Gede banget… aku takut…”“Gak usah takut. Aku pelan dulu,” bisiknya sambil tarik aku naik ke pangkuannya. Kursi belakang lebar, cukup buat kami. Dia geser stringku lagi, posisikan kepala kontolnya di lubangku. Dorong pelan. Masuk setengah, aku meringis nikmat. “Ahhh… gede… penuh…”“Pelan ya, sayang… rileks… biar masuk semua,” desahnya sambil pegang pinggulku, dorong lagi. Akhirnya masuk penuh. Aku jerit kecil, nikmat. “Andi… dalem banget… nyentuh rahimku…”Dia mulai gerak naik-turun pelan. “Enak gak? Kontolku ngepas di memekmu yang sempit ini?”“Enak… banget… lebih cepet… Andi…”Dia percepat, sodok kuat. Bunyi plak-plak basah keras di mobil. Payudaraku bergoyang-goyang. Dia remas keras, cubit puting. “Payudaramu goyang-goyang gini… seksi banget… aku pengen keluar di dalammu.”Aku naik-turun sendiri, nikmatin setiap dorongan. “Keluar di dalem aja… aku aman… isi aku penuh…”Dia balik posisi, aku telentang di jok. Kaki dibuka lebar, dia sodok dalam-dalam, cepat, ganas. “Rin… memekmu nyedot kontolku… enak banget… aku gak tahan…”“Aku juga… lagi… ahhh… Andi… keluar bareng…”Dia dorong terakhir dalam-dalam, keluar banyak, hangat memenuhi rahimku. Aku orgasme lagi, memek berdenyut kuat, memerah kontolnya. Kami diam, napas ngos-ngosan, keringat bercucuran.Dia peluk aku erat, cium kening. “Ini baru awal, Rin. Besok malam aku jemput lagi. Aku mau bikin kamu jerit nama aku sampe pagi.”Aku senyum lemas, badan masih bergetar. “Iya… aku mau lagi… aku kangen kamu dari dulu.”Pagi harinya aku pulang dengan memek masih berdenyut, penuh sisa-sisa Andi, dan senyum puas yang gak bisa hilang. Reuni SMA yang kupikir nostalgia biasa, berubah jadi malam paling panas dalam hidupku. Dan aku tahu, ini baru permulaan.Gimana? Lebih panas dan sensual kan dengan dialog-dialog mesumnya? Kalau mau lanjutan (misal ketemuan kedua di hotel, lebih liar, atau tambah elemen lain), atau ubah bagian tertentu, bilang aja ya!