Napas Bagus memburu, membuang uap tipis di udara malam yang mendadak beku. Di depannya, gerbang besi berkarat Asrama Putri Saint Maria berdiri angkuh, seperti rahang raksasa yang siap mengunyah siapapun yang berani melangkah masuk. Kayu-kayu kusen jendela di gedung tiga lantai itu sudah lapuk, beberapa kaca pecah menyisakan lubang-lubang gelap yang tampak seperti mata yang mengawasi. Ini bukan lokasi syuting acara uji nyali murahan. Bagi Bagus, Reno, dan Maya, ini adalah pertaruhan terakhir reputasi mereka sebagai "Hantu Hunter Nusantara", saluran YouTube yang perlahan sekarat karena ditinggalkan subscriber.
"Kita nggak bisa mundur sekarang, Gus," Reno, sang teknisi, berbisik sambil menyesuaikan gimbal kamera 4K di tangannya. Wajahnya pucat terkena cahaya ring light mini, tapi matanya menyala ambisius. "Video ini harus viral. Kalau enggak, kita gulung tikar bulan depan."
Maya, sang 'mediator' yang memiliki sensitivitas lebih, hanya diam. Jari-jarinya gemetar, meremas ujung jaketnya yang kusam. Ia menatap ke lantai paling atas, di mana sebuah menara lonceng kecil bertengger di puncak gedung. "Energinya… kotor sekali, Gus. Sesak," gumamnya, suaranya hampir hilang ditelan angin malam yang menderu pelan.
Bagus, sang pemimpin sekaligus *
host, memaksakan senyum di depan kamera yang sudah menyala. "Selamat malam, Sahabat Hunter! Malam ini, kami berada di lokasi yang paling banyak kalian *
request: Asrama Saint Maria. Tempat di mana lima siswi hilang secara misterius dua puluh tahun lalu, tepat saat lonceng asrama berdentang dua belas kali di tengah malam. Konon, mereka tidak pernah keluar dari sini." Ia memberi isyarat pada Reno untuk mendekat. "Kita akan masuk, dan kita akan buktikan apakah legenda itu nyata, atau hanya histeria masa lalu."
Pintu utama asrama itu terkunci, tapi rantai dan gemboknya sudah begitu berkarat hingga Bagus hanya perlu sedikit tenanga untuk mematahkannya. Denting besi yang jatuh ke lantai semen terdengar nyaring di tengah keheningan yang mencekam. Udara di dalam asrama terasa berbeda; lembap, berbau debu lama, kertas lapuk, dan sesuatu yang samar seperti anyir darah yang sudah mengering puluhan tahun.
Mereka mulai menyusuri koridor lantai satu. Cahaya senter mereka membelah kegelapan, menampakkan sisa-sisa kehidupan asrama yang ditinggalkan terburu-buru. Buku-buku pelajaran yang berserakan, sepatu-sepatu usang yang berdebu, dan seragam-seragam kotak-kotak yang tergantung kaku, tampak seperti kulit yang ditinggalkan pemiliknya. Reno sibuk menangkap detail-detail itu, sesekali menunjuk ke arah bayangan yang tampak bergerak di ujung koridor.
"Ada suara," Maya tiba-tiba berhenti. Ia menutup matanya, keningnya berkerut rapat. "Seperti suara anak kecil menangis… dari ruang kelas di sebelah kiri."
Bagus memberi isyarat pada Reno untuk terus merekam. Mereka mendekati pintu ruang kelas yang setengah terbuka. Di dalam, meja dan kursi kayu tersusun rapi, menghadap ke papan tulis hitam yang masih menyisakan tulisan kapur yang buram. Di pojok ruangan, di bawah meja guru, ada sesuatu yang bergerak.
"Siapa di sana?" Bagus berteriak, suaranya bergema di ruangan kosong itu.
Reno mengarahkan senter dan kameranya ke pojok ruangan. Itu bukan anak kecil. Itu adalah seekor kucing hitam besar yang sedang mengoyak sesuatu di lantai—bangkai seekor tikus. Mata kucing itu menyala kuning keemasan terkena cahaya senter, menatap mereka dingin sebelum melompat keluar jendela yang pecah.
Bagus tertawa kecil, mencoba mencairkan ketegangan. "Hanya kucing, Sahabat Hunter. Jangan panik dulu."
Namun, tawa Bagus terhenti saat ia menatap papan tulis. Tulisan kapur yang tadinya buram, kini tampak jelas, seolah baru saja ditulis dengan tangan yang gemetar: Kalian tidak seharusnya datang. Lonceng akan berdentang.
"Gus, lihat monitor," suara Reno bergetar. Ia memperlihatkan layar kameranya. Di sudut kanan atas, di belakang Bagus, ada bayangan putih samar yang tertangkap kamera, hanya sepersekian detik sebelum menghilang.
Mereka memutuskan untuk naik ke lantai dua, tempat kamar-kamar tidur siswi berada. Koridor lantai dua lebih sempit dan lebih gelap. Pintu-pintu kamar berderet kaku, beberapa tertutup rapat, beberapa sedikit terbuka, menampakkan kegelapan yang pekat di dalamnya.
Maya berjalan di paling belakang, langkahnya terasa berat. Ia merasa seperti sedang berjalan di dalam air, setiap gerakan membutuhkan energi ekstra. Di setiap pintu kamar yang mereka lewati, ia mendengar bisikan-bisikan samar, suara tawa anak perempuan yang teredam, dan suara goresan kuku di pintu kayu.
"Kita harus cek kamar nomor 205," kata Maya, suaranya terdengar datar, seolah ia sedang mengigau. "Di sana puncaknya."
Kamar 205 adalah kamar tempat tiga dari lima siswi yang hilang itu tinggal. Pintu kamarnya terkunci. Bagus mencoba mendobraknya, tapi pintu itu tidak bergeming sedikit pun, seolah ditahan dari dalam.
"Reno, pegang kameranya," Bagus mengambil sebuah linggis kecil dari tas ranselnya. Ia menyisipkan linggis itu di celah pintu dan menekan dengan sekuat tenaga. Kayu pintu mengerang, dan dengan suara kretek yang nyaring, pintu itu terbuka.
Cahaya senter menyinari isi kamar. Kamar itu terlihat sama seperti kamar-kamar lainnya, hanya saja ada satu detail yang berbeda: di tengah ruangan, ada lima pasang sepatu seragam yang tersusun rapi di lantai, membentuk lingkaran sempurna. Di tengah lingkaran sepatu itu, ada sebuah boneka kain tua yang sudah usang dan kotor.
"Ini aneh," kata Bagus, mendekati lingkaran sepatu itu. "Seperti mereka baru saja melepasnya."
Tiba-tiba, pintu kamar di belakang mereka tertutup dengan dentuman keras. Sinar senter mereka mendadak redup, lalu mati total. Kegelapan pekat menyelimuti ruangan. Suara napas mereka terdengar memburu di tengah keheningan yang mencekam.
"Maya? Reno?" Bagus berteriak, panik. Tidak ada jawaban.
Bagus meraba-raba kegelapan, mencoba mencari gagang pintu. Di bawah kakinya, ia merasakan sesuatu yang lembut dan dingin. Ia meraba-raba dengan tangannya. Itu adalah tangan anak kecil, dingin seperti es, yang mencengkeram pergelangan kakinya.
"Lepaskan!" Bagus menendang tangannya dengan panik. Ia mendengar suara tawa melengking anak perempuan di sekelilingnya, diikuti suara langkah kaki yang berlarian di dalam kamar.
Di sudut lain, Reno mencoba menyalakan kembali kameranya. *Night vision* menyala, menampakkan pemandangan yang mengerikan di layar kecil itu. Bagus sedang berjuang melawan bayangan-bayangan hitam yang mengelilinginya, tangan-tangan kurus kelabu mencoba menariknya ke bawah meja. Maya berdiri kaku di pojok ruangan, matanya melotot kosong ke atas, mulutnya terbuka lebar, mengeluarkan suara dengungan rendah yang aneh.
"Maya! Sadar!" Reno berteriak, mencoba mendekatinya. Namun, sebuah kekuatan tak kasat mata mendorongnya hingga ia terbanting ke dinding, kamera di tangannya terjatuh ke lantai.
Kamera itu terus merekam, mengarah ke lantai. Di layar, bayangan-bayangan hitam itu perlahan-lahan menyatu, membentuk satu entitas yang besar dan gelap yang merayap di langit-langit, bermata merah menyala. Entitas itu menjatuhkan dirinya ke arah Bagus.
Layar kamera mendadak glitch, lalu mati.
Beberapa menit kemudian, yang terasa seperti selamanya bagi mereka yang terjebak di dalam, lampu asrama mendadak menyala kembali, remang-remang kekuningan. Pintu kamar 205 terbuka. Bagus tersungkur di lantai, napasnya tersengal-sengal, wajahnya penuh cakaran. Reno terduduk di pojok, gemetar hebat, kameranya hancur berantakan di sampingnya. Maya… Maya tidak ada.
Mereka mencari Maya di seluruh lantai dua, berteriak memanggil namanya, tapi tidak ada jawaban. Keheningan asrama kini terasa lebih berat, seolah baru saja menelan sesuatu.
"Kita harus ke menara lonceng," kata Bagus, suaranya parau. "Dia pasti dibawa ke sana."
Reno menatapnya dengan ketakutan yang mendalam. "Tapi, Gus… loncengnya…"
Mereka naik ke lantai tiga, lalu meniti tangga kayu sempit yang menuju ke menara lonceng. Tangga itu berderit setiap kali mereka melangkah, seolah akan runtuh. Di puncak tangga, ada sebuah pintu besi kecil yang menuju ke ruang lonceng.
Mereka mendorong pintu itu dan masuk. Ruang lonceng itu kecil dan terbuka di keempat sisinya, menghadap ke pemandangan kota di kejauhan. Di tengah ruangan, sebuah lonceng besi raksasa yang sudah berkarat tergantung kaku. Di bawah lonceng itu, Maya duduk bersimpuh, membelakangi mereka. Ia mengenakan seragam asrama Saint Maria yang kusam, yang entah dari mana ia dapatkan.
"Maya?" Bagus mendekatinya perlahan.
Maya menoleh. Wajahnya pucat pasi, matanya hitam pekat, tanpa pupil. Senyum tipis mengembang di bibirnya. Di tangannya, ia memegang sebuah tali tambang yang terhubung ke pemukul lonceng.
"Kalian tidak mengerti, Gus," suara Maya terdengar berbeda, lebih berat dan bergema. "Mereka tidak hilang. Mereka hanya menunggu."
Bagus melihat ke sekeliling Maya. Di kegelapan di balik lonceng, lima bayangan anak perempuan berdiri berjejer, menatap mereka dingin.
"Maya, letakkan talinya. Kita pergi dari sini," bujuk Bagus.
"Sudah terlambat," kata Maya. "Saatnya berdentang."
Maya menarik tali tambang itu dengan kuat. Lonceng berkarat itu berayun.
DONG.
Dentangan lonceng itu terdengar memekakkan telinga, bergema di seluruh asrama, meruntuhkan keheningan malam. Bagus dan Reno jatuh berlutut, menutupi telinga mereka yang terasa akan meledak.
DONG.
Bayangan lima anak perempuan itu mulai melangkah maju, mendekati mereka. Wajah-wajah mereka tampak hancur, mata mereka kosong, mulut mereka terbuka, mengeluarkan suara jeritan tanpa suara.
DONG.
"Lari, Reno!" Bagus berteriak, mendorongnya ke arah tangga.
Reno mencoba berlari, tapi bayangan-bayangan itu lebih cepat. Tangan-tangan dingin mereka mencengkeram kaki Reno, menariknya kembali ke ruang lonceng.
DONG.
Bagus mencoba melawan, mencoba menerkam Maya yang masih menarik tali lonceng dengan tenaga yang tidak masuk akal. Tapi sebelum ia sempat menyentuh Maya, entitas hitam besar yang mereka lihat sebelumnya muncul dari balik lonceng, menerkamnya.
Dentangan lonceng terus berlanjut, satu demi satu, hingga dentangan ke dua belas.
Pagi harinya, polisi menemukan asrama Saint Maria kembali hening. Pintu utama terkunci rapat dari dalam. Di dalam kamar 205, mereka menemukan kamera Reno yang hancur, namun kartu memorinya masih utuh. Di ruang lonceng, mereka tidak menemukan siapapun. Hanya lonceng besi raksasa yang masih berayun pelan, tertiup angin pagi.
Di kartu memori Reno, polisi menemukan video terakhir yang direkam. Video itu glich berkali-kali, tapi di sela-sela glitch, mereka bisa melihat Bagus dan Reno yang berjuang melawan kegelapan, dan Maya yang tersenyum di bawah lonceng. Dan di detik terakhir video itu, di belakang Maya, terlihat lima pasang mata yang menyala di kegelapan, menatap lurus ke kamera.
Saluran YouTube "Hantu Hunter Nusantara" tidak pernah unggah video lagi. Namun, beberapa subscriber lama mengklaim bahwa di tengah malam, jika mereka memutar video lama saluran itu dengan volume penuh, mereka bisa mendengar suara lonceng samar yang berdentang, diikuti suara bisikan lirih yang menyebut nama mereka. Dan kadang-kadang, di pantulan layar monitor yang gelap setelah video berakhir, mereka melihat bayangan putih samar berdiri di belakang mereka, tersenyum dingin. Gema lonceng berkarat Saint Maria tidak pernah benar-benar berhenti berdentang.