Aku menatap layar ponselku untuk kesekian kalinya. Jemariku bergetar di atas tombol send. Pesan sederhana yang telah aku tulis ulang puluhan kali, “Anaya, aku ingin bicara. Ini penting.”
Tiga titik muncul. Kemudian tertera balasan singkat, “Oke, kapan?”
Tanpa sadar aku tersenyum tipis. Setidaknya ia masih bersedia mendengar.
***
Kami bertemu di taman kota yang sepi. Anaya Senja datang dengan senyum hangatnya, membawa dua gelas kopi seperti biasa, ia selalu ingat aku suka yang pahit tanpa gula. Perempuan itu duduk di sebelahku, menunggu.
“Naya” aku memulai, suaraku pelan tapi tegas. “Aku tahu ini mungkin terlalu tiba-tiba, tapi... aku tidak ingin menyimpannya lebih lama lagi.” Anaya menatapku dengan tatapan penuh tanya.
“Aku menyukaimu. Bukan sebagai teman. Aku ingin ada di hidupmu dengan cara yang berbeda.”
Kata-kata itu keluar, akhirnya. Setelah berbulan-bulan aku pendam. Anaya terdiam. Tatapannya jatuh ke tangannya sendiri yang gemetar.“Gaharu...”
“Aku tidak meminta jawaban sekarang,” potongku cepat, mencoba tersenyum meski dadaku berdebar keras. “Aku hanya ingin kamu tahu.” Anaya mengangguk pelan. “Terima kasih sudah jujur.”
***
Sejak hari itu, sesuatu berubah di antara kami. Ia menjadi lebih perhatian, atau mungkin aku yang mulai menyadarinya. Aku selalu menemaninya, saat Anaya lembur, aku mengantarkan makan malam. Saat hujan turun, aku sudah menunggu dengan payung. Saat ia gelisah di malam hari, aku menjawab teleponnya meski tengah malam.
Kami menghabiskan waktu lebih banyak bersama. Tertawa di warung kopi langganan, berbagi cerita tentang mimpi masa depan dan luka masa lalu masing-masing. Anaya terlihat nyaman, aman, aku berharap ia merasa seperti menemukan tempat pulang. Tapi sepertinya, ada bayangan yang selalu mengikutinya. Algra Mahatama. Nama itu tidak pernah benar-benar pergi dari pikirannya.
***
“Ngomong-ngomong, kamu pernah bilang ingin pergi ke pantai Mertasari,” kataku suatu hari.
“Bagaimana kalau kita ke sana akhir pekan ini?”
Anaya menatapku, terkejut. “Loh... kamu ingat?”
“Tentu saja. Kamu bilang itu tiga bulan yang lalu, waktu kita jalan malam-malam sambil makan es krim.”
Anaya tersenyum, tapi ada kepedihan di balik senyumnya. “Algra juga pernah berjanji akan mengajakku ke sana.”
Aku menelan ludah. Algra, lelaki yang pernah menjadi segalanya bagi Anaya. Lelaki yang pernah melindunginya, membuatnya merasa spesial, lalu pergi tanpa ada penjelasan yang jelas. Tapi bayangannya tetap ada, seperti hantu yang tak bisa diusir.
“Kalau begitu, ayo kita buat kenangan baru di sana,” ujarku dengan lembut. Anaya mengangguk, namun matanya berkaca-kaca.
***
Di pantai itu, kami duduk di pasir putih sambil menikmati suara deburan ombak dan hembusan angin yang tertiup pelan. Aku membawa kamera polaroid dan memotret Anaya yang tertawa lepas, rambutnya berantakan tertiup angin.
“Ayo foto bareng!” ajak Anaya, menarik tanganku. Kami berpose di depan kamera dengan timer, pipi Anaya bersandar di bahuku, senyum kami tulus dan hangat. Saat foto polaroid itu keluar, Anaya menatapnya lama. “Kita terlihat... bahagia. Terima kasih, Haru,” ucap Anaya pelan. “Terima kasih sudah selalu ada.”
“Untuk apa?” Aku tersenyum.
“Untuk... semuanya. Untuk sabar. Untuk tidak pernah memaksaku.” Jawab Anaya sambil membalas senyumanku.
Aku menatap ke arah laut. Angin laut menerpa wajahku. “Aku hanya ingin kamu bahagia, Naya. Itu saja.”
Anaya terdiam. Lalu, dengan ragu, ia berkata, “Algra mengirim pesan kemarin.”
Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku sengaja tidak menatap Anaya, mataku tetap tertuju pada ombak yang memecah.
“Dia bilang dia sudah siap. Sudah berubah. Ingin memperbaiki semuanya.” Suara Anaya terdengar rapuh.
Aku tersenyum pahit. Aku sudah menduga ini akan datang, entah cepat atau lambat, tapi sepertinya waktu itu sudah tiba. “Lalu... apa yang kamu rasakan?” tanyaku.
“Aku tidak tahu,” jawab Anaya jujur. “Aku bingung. Aku senang denganmu, Haru. Tapi Algra... dia bagian dari diriku yang tidak bisa aku lepaskan begitu saja.”
Aku mengangguk perlahan. “Aku mengerti.”
“Maafkan aku” jawab Anaya dengan suara lirih, ia tak sanggup menatap mataku.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan.” Aku menatapnya, mataku berkaca-kaca dengan berat hati aku mencoba untuk tersenyum.
“Kamu tidak salah karena masih mencintai seseorang. Hati tidak bisa dipaksa, kan?”
***
Minggu-minggu berikutnya terasa seperti siksaan yang indah. Dua bulan sudah berlalu, aku masih menemaninya, seperti biasanya, masih perhatian, masih mencintai Anaya dengan sepenuh hati. Tapi aku melihat perubahan pada diri Anaya, caranya menatap ponsel dengan gelisah, senyumnya yang semakin sering terlihat jauh, dan sebutan Algra yang kini lebih sering muncul dalam percakapan kami. Sampai pada suatu malam, Anaya meneleponku. “Haru, bisa kita bertemu?”
Kami bertemu di taman yang sama, tempat segalanya dimulai. Anaya duduk dengan wajah penuh kegelisahan. Aku sudah menduga apa yang akan ia katakan.
“Algra dan aku... kami memutuskan untuk mencoba lagi” ujar Anaya pelan, matanya tidak berani menatapku, tangannya gemetar, jari kecilnya saling meremas. Pada akhirnya hati Anaya masih terpaut pada masa lalunya, bayangan Algra masih lebih kuat dari semua yang telah aku berikan. Aku tersenyum, meski dadaku terasa hancur. “Senang akhirnya kamu menemukan kebahagiaanmu, Naya.”
“Aku menyakitimu, ya?”
“Tidak.” Aku menggeleng. “Kamu jujur. Itu lebih baik daripada memberiku harapan palsu.”
“Kamu terlalu baik untukku, Haru. Aku tidak pantas untukmu.” Anaya menangis, air matanya mengalir deras tanpa henti.
“Justru itu yang salah, Naya.” Aku menggenggam tangannya untuk yang terakhir kali. “Kamu pantas untuk bahagia. Dan jika Algra bisa memberikan itu, maka aku ikhlas. Aku tidak akan pernah menyesali waktu yang kuhabiskan bersamamu. Bersamamu, aku belajar mencintai tanpa perhitungan. Itu sudah lebih dari cukup.”
Ia memelukku dengan erat. Aku mengelusnya dengan lembut, menghirup aroma rambutnya, mengingat setiap detik yang kami lalui, setiap tawa yang kami ciptakan, dan setiap mimpi yang aku rajut sendiri.
“Senang bisa mengenalmu di perjalanan ini,” bisikku.
“Aku juga,” jawab Anaya di antara isakannya.
***
Aku berjalan pulang sendirian malam itu. Langit gelap tanpa bintang, seperti hatiku saat ini. Tapi aku tidak menyesal. Aku telah mencintai dengan tulus, dengan sepenuh jiwa. Dan meski cintaku tidak berbalas, aku telah belajar sesuatu yang tak ternilai. Bahwa mencintai bukan tentang memiliki, tapi tentang memberi kebebasan.
Di perjalanan ini yang aku rindukan, ada Anaya dalam setiap mimpi. Tapi kini, aku belajar merindukannya dari kejauhan, dengan doa agar ia bahagia, meski bukan bersamaku. Karena cinta sejati bukan tentang memaksa seseorang untuk memilih kita, tetapi tentang keikhlasan, membiarkan mereka bahagia, bahkan jika kebahagiaan itu bersama orang lain. Dalam melepaskan, aku belajar. Mencintai adalah tentang memberi, bukan memiliki.
Semoga Anaya bahagia selalu dengan pilihannya -Gaharu Dhiratmaja