Kalian pikir kalian tahu segalanya hanya dari potongan tangkapan layar dan video durasi lima belas detik di TikTok? Kalian pikir kalian punya hak untuk meludahi layar ponsel kalian dan mengetik kata "binatang" di kolom komentarku? Silakan. Teruskan. Ketik sampai jari kalian keriting. Karena pada akhirnya, kalian tetaplah penonton di tribun yang berdebu, sementara aku adalah pemeran utama yang sedang menyesap champagne di sebuah klinik estetika di Gangnam, menunggu perban di hidungku dibuka.
Namaku—ah, kalian sudah memberiku sejuta nama panggilan: Pelakor, Coas Tak Tahu Diri, Penghancur Rumah Tangga Dokter. Tapi panggil saja aku Vanya. Dan ini adalah sudut pandangku. Sudut pandang yang tidak akan kalian temukan di unggahan sedih si "Mantan Artis Cilik" pujaan kalian itu.
Mari kita bicara tentang Dokter Hana. Si "Malaikat UGD" yang fotonya selalu dipuja-puja karena tetap cantik meski memakai masker dan baju scrub hijau yang membosankan. Seluruh Indonesia tahu kisahnya. Mantan artis cilik yang menghilang dari layar kaca demi mengejar cita-cita jadi dokter, istri setia yang membayari kuliah spesialis suaminya, Dokter Aris, hingga sukses. Ibu dari tiga anak yang tampak sempurna.
Muak. Aku mual setiap kali melihat profilnya yang sok suci itu.
Kalian bilang aku merebut Aris? Tidak. Aris yang datang padaku. Kalian harus mengerti posisi seorang dokter muda, seorang coas sepertiku yang disiksa oleh jam jaga yang tidak manusiawi di rumah sakit pendidikan itu. Dan di sana ada Aris. Konsulenku yang tampan, cerdas, tapi matanya selalu memancarkan kelelahan yang sama denganku.
"Istriku terlalu sibuk menyelamatkan dunia di UGD sampai dia lupa suaminya juga butuh diselamatkan," bisik Aris padaku suatu malam di ruang jaga, saat hujan deras menghantam jendela rumah sakit.
Hana itu robot. Dia bukan wanita. Dia hanya mesin yang diprogram untuk menjahit luka orang asing, sementara luka di hatinya suaminya sendiri dia biarkan menganga. Dia merasa karena dia yang membiayai kuliah Aris, dia punya hak untuk memerintah. Dia merasa jasanya setinggi gunung sehingga Aris harus jadi pelayan di rumahnya sendiri.
"Vanya, kamu berbeda," kata Aris sambil membelai rambutku. "Kamu segar. Kamu tidak bicara soal tagihan rumah sakit atau jadwal sekolah anak-anak. Kamu bicara soal mimpi."
Ya, mimpiku sederhana. Aku ingin cantik. Aku ingin menjadi versi terbaik dari diriku yang tidak pernah bisa dicapai oleh Hana dengan wajahnya yang pucat dan mata pandanya karena kurang tidur itu. Dan Aris memberikannya padaku.
Kalian marah karena Aris menggunakan uang "hasil keringat" Hana untuk membiayai operasi plastikku di Korea? Lucu sekali. Aris itu dokter spesialis sekarang. Dia punya penghasilan sendiri. Bahwa dulu Hana membayari kuliahnya, itu kan investasi rumah tangga mereka. Sekarang, Aris berhak menikmati hasilnya, bukan? Dan dia memilih menikmatinya bersamaku.
Aku ingat hari saat foto-foto kami di Incheon tersebar. Aku sedang duduk di kursi malas, menatap gedung-gedung tinggi di Seoul, sementara dokter bedah terbaik di sini baru saja selesai membentuk ulang rahangku agar lebih tirus, lebih sempurna. Tiba-tiba ponselku meledak. Ribuan notifikasi masuk.
“Dasar lonte! Makan tuh duit haram!”
“Dokter Hana kurang apa? Dia artis, dia pinter, dia baik. Kamu cuma sampah!”
“Semoga hasil oplasmu busuk!”
Aku tertawa. Benar-benar tertawa sampai jahitan di telingaku terasa perih. Kalian tahu apa yang paling lucu? Saat netizen menghujatku, Aris ada di sampingku, menggenggam tanganku, dan berbisik, "Biarkan saja, Sayang. Mereka cuma iri karena tidak punya suami yang bisa membiayai mereka ke Korea."
Hana kemudian mengunggah video. Oh, video itu sangat dramatis! Dia duduk di depan kamera tanpa riasan, menggendong anaknya yang bungsu, sambil terisak menceritakan bagaimana dia berjuang dari nol demi Aris. Dia bilang dia kecewa. Dia bilang dia dikhianati saat dia sedang bertaruh nyawa di garda terdepan UGD.
*Cih.* Aktris tetaplah aktris. Dia tahu betul cara menarik simpati publik. Dia menggunakan anak-anaknya sebagai tameng untuk menghancurkan karir Aris dan reputasiku.
Apakah aku merasa bersalah? Sedikit pun tidak.
Kenapa aku harus merasa bersalah karena mencintai seseorang yang lebih menghargai keberadaanku daripada wanita yang hanya menganggapnya sebagai "aset" yang sudah dia beli? Aris bilang padaku, tinggal bersama Hana itu seperti tinggal di dalam museum. Semuanya rapi, semuanya benar, tapi dingin dan mati. Bersamaku, dia merasa hidup.
Kalian bilang aku menghancurkan masa depan tiga anak kecil? Dengar ya, anak-anak itu akan baik-baik saja. Hana punya uang banyak, kan? Dia punya warisan dari karir artisnya, dia punya gaji dokter. Mereka tidak akan kelaparan. Yang mereka butuhkan adalah ibu yang tidak gila kerja, tapi itu bukan urusanku. Itu salah Hana sendiri yang lebih memilih stetoskop daripada suaminya.
Sekarang, aku masih di Korea. Menikmati masa pemulihan. Setiap kali aku bercermin, aku melihat wajah baru yang sangat cantik. Hidung yang mancung sempurna, kelopak mata yang indah, dan kulit yang berkilau. Semua ini dibayar dengan uang yang kalian klaim sebagai "milik Hana". Tapi bagiku, ini adalah upah karena aku sudah memberikan kebahagiaan yang tidak bisa diberikan oleh wanita suci itu selama sepuluh tahun pernikahan mereka.
Hujatlah aku sesuka kalian. Sebut aku parasit. Tapi ingat satu hal: saat kalian sibuk mengetik makian di kolom komentar dalam kamar kalian yang sempit dan panas, aku sedang berbaring di hotel bintang lima, menunggu Aris membawakanku stroberi segar.
Dunia ini memang tidak adil, bukan? Hana yang baik kehilangan segalanya, dan aku yang "jahat" mendapatkan apa yang kuinginkan. Itu karena aku tahu cara bermain. Aku tidak bermain sebagai pahlawan yang berkorban sampai habis. Aku bermain untuk menang.
Dan untuk kalian netizen yang sok pahlawan, simpan saja simpati kalian. Hana tidak butuh itu, dia butuh cermin untuk melihat kenapa suaminya lebih memilih coas muda yang haus belaian daripada istri yang sibuk mengurus usus buntu orang lain.
Hasil operasi ini sangat memuaskan. Aku tidak sabar pulang ke Jakarta, berjalan di lobi rumah sakit dengan wajah baru ini, dan melihat Hana menatapku dari balik pintu UGD-nya yang suram. Aku akan tersenyum padanya, sebuah senyuman yang harganya ratusan juta rupiah, senyuman yang diambil dari tabungan masa depan keluarganya.
Karena pada akhirnya, kecantikan adalah kekuasaan. Dan aku baru saja memenangkan tahta itu.
---