Suara tawa dari ruang tengah itu terdengar seperti pecahan kaca yang jatuh ke atas hamparan karpet beludru—berisik, tajam, dan sama sekali tidak bisa kusentuh. Di sana, di balik pintu kayu yang membatasi ruang tamu dan dapur, dunia terbagi menjadi dua. Dunia depan adalah dunia para pemilik nama besar, para saudari ayah yang duduk dengan punggung tegak, mencicipi teh melati dengan ujung jari lentik, sembari sesekali melempar instruksi melalui lubang ventilasi. Sedangkan dunia belakang adalah dunia ibuku.
Dapur kakek saat itu terasa seperti kotak yang menyusut. Asap dari tungku kayu dan uap dari dandang besar mengepung wajah ibu, membuat peluh menetes di pelipisnya yang mulai berkerut. Ibu tidak pernah duduk. Tangannya yang kasar karena detergen selalu punya tugas: jika tidak memotong bawang, ia sedang menggosok kuali besar yang hitamnya seolah ingin menelan seluruh tenaganya.
Aku, seorang bocah kelas empat SD yang belum paham arti kasta dalam keluarga, hanya bisa berdiri di sampingnya. Aku merasa asing di depan, di tengah-tengah sepupuku yang sibuk memamerkan mainan baru atau berebut potongan kue bolu. Maka, aku memilih di sini, di sela-sela tumpukan piring kotor.
"Nduk, ke depan sana. Main sama sepupumu. Jangan di sini, nanti bajumu kotor kena arang," bisik ibu tanpa mengalihkan pandangan dari cucian piringnya. Suaranya serak, tertelan riuh rendah percakapan dari ruang tengah.
"Aku mau bantu Ibu saja," jawabku pelan. Aku mengambil kain lap, mencoba mengeringkan gelas-gelas kaca yang akan dibawa ke depan.
Ibu tersenyum, jenis senyum yang paling menyedihkan yang pernah kulihat. Senyum yang menyembunyikan rasa lelah demi menjaga agar harga diriku tidak ikut runtuh. "Ibu tidak apa-apa. Ini sudah biasa. Kamu anak kecil, tempatmu di depan, bukan di dapur."
Tapi aku tahu itu bohong. Aku melihat bagaimana budhe-budheku—saudara perempuan ayah—berjalan masuk ke dapur hanya untuk mengecek apakah rendang sudah empuk atau apakah sambal goreng hatinya kurang garam. Mereka datang seperti mandor di proyek bangunan. Tanpa menyapa ibu, tanpa bertanya apakah punggung ibu pegal, mereka hanya menunjuk-nunjuk piring yang retak atau lantai yang sedikit becek karena tumpahan air cucian. Bagi mereka, ibuku bukanlah ipar. Ibuku adalah tetangga yang kebetulan sedang membantu karena tidak enak hati, atau lebih buruk lagi, seorang pelayan yang tidak digaji.
Suatu kali, kakiku mulai pegal karena terlalu lama berdiri di dapur. Aku mencoba memberanikan diri berjalan ke ruang tengah. Di sana, sepupu-sepupuku sedang duduk melingkar di atas lantai yang dilapisi permadani tebal. Mereka tertawa, menceritakan sekolah mereka yang mahal. Aku duduk di pojokan, hanya ingin merasakan sebentar empuknya karpet itu.
Namun, belum sempat aku menaruh pantatku sepenuhnya, suara tajam Budhe menyambar seperti petir.
"Lantai ini kotor sekali, ya? Debunya tebal, bikin gatal." Matanya menatapku lurus, tidak dengan amarah, tapi dengan penghinaan yang halus. Ia seolah jijik melihat kehadiranku di sana. "Lantai ini harus dibersihkan sekarang juga. Tidak enak dilihat tamu."
Aku tersentak. Aku tidak menangis. Saat itu, aku pikir itu adalah tugas yang wajar karena aku yang paling kecil. Aku langsung bangkit, mencari sapu dan kain pel. Aku membersihkan setiap sudut lantai itu, merangkak di bawah meja, memastikan tidak ada sebutir debu pun yang tersisa agar Budhe tidak perlu memandangku dengan tatapan itu lagi. Aku melakukannya dengan sungguh-sungguh, tanpa sadar bahwa saat itu aku sedang diperbudak oleh egonya yang merasa lebih tinggi dari darah yang mengalir di nadiku.
Setelah selesai, aku kembali ke dapur. Aku melihat ibu sedang duduk di atas kursi dingklik kayu kecil di dekat pintu belakang. Ia memegang piring plastik berisi sisa-sisa nasi dan sedikit kuah opor yang sudah dingin. Ia tidak makan di meja makan besar di depan. Ia makan di sana, di dekat tempat sampah, dengan keringat yang belum kering.
"Ibu sudah makan?" tanyaku.
Ibu menoleh, matanya terlihat merah. Mungkin karena asap, atau mungkin karena hal lain yang tak ingin ia ceritakan padaku. "Sini, makan bareng Ibu. Ambil sendokmu."
Hanya saat itulah aku berani makan. Selama acara berlangsung, meskipun perutku keroncongan melihat tumpukan sate dan rendang di meja depan, aku tidak pernah berani menyentuhnya. Aku merasa makanan itu bukan untukku. Aku merasa jika aku mengambil sepotong daging, akan ada mata yang menatapku seolah aku mencuri milik mereka. Aku hanya akan makan jika ibu yang mengajakku, di pojok dapur yang gelap, berbagi satu piring untuk berdua.
Kami adalah orang pertama yang datang saat matahari belum bangun sepenuhnya, dan kami adalah orang terakhir yang pulang saat rembulan sudah tinggi. Saat budhe-budheku sibuk berpamitan dengan tas belanja berisi oleh-oleh sisa makanan yang dibungkus rapi, ibuku masih sibuk mengikat kantong sampah dan menyiram lantai dapur agar tidak licin.
Ayah? Ayah ada di depan, terjebak dalam obrolan laki-laki yang merasa bahwa urusan dapur adalah urusan perempuan. Ayah tidak tahu, atau mungkin pura-pura tidak tahu, bahwa istrinya sedang diperlakukan seperti debu di bawah keset kakek.
Bertahun-tahun kemudian, saat aku sudah dewasa, ingatan itu kembali seperti luka lama yang dipaksa terbuka. Aku baru sadar bahwa lantai yang "kotor" itu bukanlah tentang debu, melainkan tentang keberadaanku yang dianggap noda di tengah kemewahan mereka. Aku baru sadar bahwa ibu tidak pernah dianggap keluarga oleh mereka. Ibu hanyalah tenaga kerja cuma-cuma yang kehadirannya hanya dirindukan saat piring kotor menumpuk.
Hingga saat ini, setiap kali ada acara keluarga, aku selalu melihat ibu. Ia masih orang yang sama—orang yang paling rajin di dapur, orang yang paling enggan duduk di kursi utama. Bedanya sekarang, aku tidak lagi membiarkannya sendiri. Aku akan duduk di sampingnya di atas dingklik kayu itu, memegang tangannya yang kini sudah penuh bintik hitam penuaan, dan berbisik dalam hati bahwa bagiku, dialah satu-satunya ratu di rumah ini, meski mahkotanya hanyalah aroma bawang dan sisa uap tungku yang tak pernah dihargai siapa pun.
Kesedihan itu bukan karena kami miskin harta, tapi karena betapa miskinnya hati mereka yang menyebut diri kami "keluarga" namun memperlakukan kami seperti orang asing di rumah sendiri.