Namanya Ardiantoro Shaputra, tapi Naomi memanggilnya Dion. Di usia 21 tahun yang seharusnya penuh logika, Naomi justru jatuh sejatuh-jatuhnya pada pria berumur 20 tahun yang jauh dari standar pangeran impian. Dion tidak tampan. Rambutnya selalu berantakan seperti sarang burung, kumis tipisnya tak pernah rapi, dan hobinya hanya tidur serta mengemil. Ia pemalas, tipe pria yang lebih suka menghabiskan energi untuk diam daripada bekerja.
Namun, entah sihir apa yang ia pakai, dia—Naomi Arlina—si sales kosmetik yang terbiasa melihat keindahan, justru terjerat. Naomi mencintainya dengan cara yang paling bodoh: menjadi "bucin" yang menanggung segalanya. Naomi memberikan ia cinta pertama yang tulus, mendukungnya saat ia akhirnya bekerja di bagian mesin sebuah perusahaan pertambangan. Naomi pikir, seragam kerja itu akan mengubahnya. Ternyata, ia hanya mengganti objek kemalasannya menjadi pengkhianatan yang rapi.
Di balik deru mesin tambang, Dion menjalin kasih dengan Diana Maretha. Ironisnya, Diana adalah istri orang di tempat kerja yang sama. Mereka bermain api di bawah hidung Dandika Serang, suami sah Diana. Naomi, yang setiap hari memoles wajah orang lain agar terlihat cantik, justru tak mampu menutupi luka busuk di hatinya saat mengetahui fakta itu.
Naomi ingin marah, ingin menjambak Diana, atau memaki Dion di depan rekan kerjanya. Namun, Naomi tetaplah Naomi Arlina yang lemah. Naomi menyerah bukan karena tak sayang, tapi karena Naomi sadar sedang memperebutkan sampah dengan pencuri. Naomi membiarkan Dion diambil oleh istri orang itu, membiarkan mereka tenggelam dalam dosa yang mereka anggap cinta.
Malam itu, di kontrakan sempit yang bau apeknya bercampur aroma kopi instan, Naomi mendapati Dion sedang asyik mengunyah keripik sambil menatap layar ponselnya yang redup. Rambutnya berantakan, dan seperti biasa, ia tampak malas bahkan hanya untuk sekadar menyapa Naomi yang baru pulang kerja dengan kaki pegal.
Naomi meletakkan tas kosmetik dengan pelan, lalu duduk di sampingnya. "Dion, aku dengar dari teman sekantormu... kamu sering terlihat di kantin belakang sama Mbak Diana. Bagian administrasi itu, kan?"
Dion tidak menoleh. Ia hanya mendengus, jempolnya lincah mengusap layar. "Cuma teman kerja, Nom. Jangan mulai deh, aku capek baru pulang dari bengkel mesin."
"Tapi dia itu istri orang, Dion. Istrinya Mas Dandika," suaranya mulai bergetar. "Aku yang bayar cicilan motor kamu bulan ini supaya kamu bisa kerja dengan tenang, tapi kenapa rasanya aku malah membiayai kamu untuk selingkuh?"
Dion tiba-tiba melempar bungkus keripiknya ke lantai. Ia menatap Naomi dengan mata yang dingin, tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. "Kamu itu cuma sales kosmetik, Naomi. Tugasmu itu dandan dan jualan, bukan jadi detektif. Diana itu beda, dia mengerti capeknya aku di bagian mesin. Dia nggak cerewet kayak kamu!"
"Dia punya suami!" teriaknya, air mata mulai luruh menghapus bedak yang dia pasang sejak pagi. "Aku kasih kamu cinta pertamaku, aku terima kamu apa adanya meski kamu malas, tapi ini balasannya?"
Ia berdiri, menyambar jaket tambangnya yang kotor, lalu tertawa sinis. "Cinta pertama nggak bikin kenyang, Nom. Dan jujur saja, selera Diana jauh lebih berkelas daripada sekadar sales kayak kamu."
Ia melangkah keluar, membanting pintu kayu yang rapuh itu, meninggalkan Naomi yang hancur sendirian. Naomi tidak tahu bahwa itu adalah percakapan terakhir mereka sebelum "kecelakaan" di area tambang itu merenggut nyawanya bersama Diana dalam pelukan maut yang paling tragis.
Malam itu, gerimis turun membasahi aspal saat Naomi mengikuti dari belakang dan melihat mereka untuk terakhir kalinya dari jauh. Dion tampak tertawa bersama Diana, tanpa tahu bahwa suaminya, Dandika, telah mengintai di balik bayangan dengan amarah yang meluap.
Dandika Serang bukan pria yang banyak bicara. Sebagai operator senior, ia adalah bagian dari besi dan oli di tambang itu. Namun, malam itu, di balik bayangan mesin crusher yang menderu pekak, ia melihat sesuatu yang lebih panas dari gesekan logam: istrinya, Diana Maretha, sedang tertawa di pelukan Ardiantoro Shaputra.
Dion, dengan rambut berantakannya yang khas dan sikap malasnya, tampak begitu hidup di sana. Ia tidak tahu bahwa maut sedang berdiri hanya lima meter di belakangnya, menggenggam kunci inggris besar yang berkilat tertimpa lampu sorot.
Dandika tidak berteriak. Ia hanya menatap punggung Dion yang terbalut seragam tambang—seragam yang mungkin cicilannya masih dibayar oleh air mata Naomi Arlina. Amarah Dandika bukanlah api yang meledak, melainkan es yang membekukan kewarasan.
"Jadi, ini alasan kamu sering lembur, Diana?" suara Dandika membelah deru mesin.
Dion dan Diana tersentak. Wajah Dion yang biasanya meremehkan kini pias, pucat pasi. Ia mencoba berdiri, namun kakinya lemas. Diana menjerit, mencoba berlindung di balik tubuh pria yang sebenarnya pengecut itu.
"Mas... ini nggak seperti yang kamu lihat," racau Diana gemetar.
Dandika melangkah maju, langkah botnya berdentum berat di atas lantai besi.
"Aku memberikanmu rumah, Diana. Tapi kamu memilih sampah ini?" Matanya beralih ke Dion. "Dan kamu, bocah ingusan... kamu pikir mesin ini hanya bisa menghancurkan batu?"
Tanpa peringatan, Dandika menerjang. Ia tidak hanya ingin memukul; ia ingin menghapus eksistensi mereka. Di tengah pergulatan itu, tangan Dandika meraih tuas pengunci manual. Dengan tawa yang pecah menjadi isak tangis gila, ia menariknya sekuat tenaga.
Mesin raksasa itu meraung, bergetar hebat melampaui batas kapasitasnya. Besi-besi mulai patah, dan dalam hitungan detik, ruang sempit itu menjadi jebakan maut. Dandika memeluk mereka berdua dalam amukan logam yang hancur, memastikan bahwa jika ia hancur, tak ada satu pun dari mereka yang boleh keluar dengan utuh.
Di kejauhan,Naomi Arlina yang sedang merapikan rak kosmetiknya, tiba-tiba merasakan dadanya sesak, seolah ada sesuatu yang patah tepat di jantungnya.
Beberapa jam kemudian, kabar itu sampai di telinganya. Sebuah kecelakaan kerja ataukah rencana pembunuhan? Mesin tambang yang dingin telah menelan nyawa Dion dan Diana dalam satu tragedi berdarah. Dandika Serang ditemukan bersimbah darah di samping mereka, tertawa gila sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri. Naomi terduduk di pojok kamar, menggenggam lipstik merah yang hancur. Naomi yang memberikan cinta pertama, Naomi yang mengalah, dan kini Naomi pulalah yang harus menanggung sisa ingatan tentang mereka yang mati dalam kehinaan, meninggalkannya sebagai satu-satunya saksi bisu dari cinta yang berakhir tragis ini.