Hujan turun deras sore itu. Motor Alana berhenti mendadak di depan gerbang rumahnya. Gavin ikut menepi di belakang dengan motor sport hitamnya, seragamnya sudah basah sebagian. Alana membuka gembok pagar dengan gerakan cepat.
"Masuk. Jangan bikin lantai gue kotor," kata Alana pendek.
Dia melempar handuk kecil ke arah Gavin lalu berjalan ke dapur tanpa menoleh. Rumah terasa sepi karena ibunya belum pulang. Gavin menutup pintu dan meletakkan tas di meja makan kayu.
Alana menyalakan kompor dan merebus air. Tangannya masih agak kaku setelah perjalanan di bawah hujan. Gavin duduk dan membuka buku catatan yang sempat terkena percikan air. Dia langsung mengeluarkan kertas latihan.
"Kita kerjain soal logika," kata Gavin sambil mendorong kertas ke arah Alana.
"Gue nggak mau waktu kebuang cuma karena hujan."
Alana duduk di seberangnya dan menatap soal yang penuh angka.
Dia membawa dua cangkir teh dan sepiring biskuit kaleng ke meja.
Aroma mint dari tubuh Gavin bercampur dengan bau hujan yang lembab. Alana menyeruput teh terlalu cepat sampai lidahnya panas. Dia tetap memaksa fokus pada kertas di depannya.
Tiga puluh menit berlalu dengan suara hujan menghantam atap dapur. Grafik fungsi di kertas Alana semakin berantakan. Gavin memutar pulpen di tangannya sambil mengamati coretan itu. Alana mengabaikannya dan terus menulis.
"Variabel X nggak bakal ketemu kalau lo nggak pakai eliminasi dari awal," kata Gavin.
Ujung pulpennya menunjuk bagian yang salah di kertas Alana.
Alana langsung menggeser kertasnya menjauh.
"Gue tau apa yang gue kerjain, Gavin."
Dia mencoret ulang perhitungannya sampai kertas hampir robek. Gavin hanya bersandar di kursi dan menatap langit-langit dapur.
Pintu depan tiba-tiba terbuka.
Ibunya masuk dengan payung yang masih meneteskan air.
Alana hampir menjatuhkan cangkir tehnya.
Ibunya menaruh plastik belanjaan di konter dapur. "Teman sekolah kamu?" tanyanya santai.
Gavin langsung berdiri dan membungkuk sopan.
"Gavin, Tante. Kami lagi latihan olimpiade."
Alana berdiri cepat dan menutup sebagian buku catatannya dengan tangan. Dia tidak ingin ibunya melihat isi halaman yang terbuka. Ibunya hanya mengangguk lalu masuk ke kamar untuk berganti pakaian.
Begitu ibunya pergi, Gavin duduk lagi.
Namun matanya tidak lagi ke soal kalkulus.Dia melihat sebuah coretan di pojok buku catatan Alana,Gavin menarik buku itu mendekat sebelum Alana sempat bereaksi.
"Balikin!" Alana langsung mencoba merebutnya.
Gavin mengangkat tangannya lebih tinggi.
Di halaman itu ada gambar wajah cowok bertanduk setan dengan taring panjang.
Di bawahnya tertulis
Satanas Gavin Peringkat Dua yang Menyebalkan.
Wajah Alana memanas saat Gavin membaca tulisan itu.
"Ternyata peringkat satu punya hobi gambar gue," kata Gavin.
Dia menaruh buku itu kembali di meja, matanya terlihat seperti menahan tawa.
Alana langsung menutup buku dan memasukkannya ke tas.Tas itu jatuh ke lantai dengan suara keras.
"Lo nggak berhak liat itu."
"Gambarnya nggak jelek," jawab Gavin santai.
"Tapi taringnya kurang panjang kalau mau bikin gue lebih jahat."
Alana tidak langsung menjawab.
Dia kembali melihat soal logika di depannya.
Hujan di luar mulai mereda, menyisakan tetesan air dari talang.
Alana akhirnya menggeser kertasnya sedikit ke tengah meja.
"Gue coba lagi," katanya pendek.
Kali ini dia membiarkan Gavin melihat langkah perhitungannya.Gavin tidak berkomentar, hanya memperhatikan.
Satu jam kemudian langit sudah lebih terang.Gavin menutup bukunya dan memasukkan semuanya ke tas.
Dia berdiri dari kursi.
"Sore ini lumayan produktif," katanya.
"Sampai ketemu besok, Sang Seniman."
Dia berjalan keluar sebelum Alana sempat membalas.
Alana menatap pintu yang sudah tertutup, dia kembali ke meja makan dan melihat kotak susu cokelat yang ditinggalkan ibunya.
Tangannya menutup wajah sebentar.
"Seniman apaan sih..." gumamnya pelan.
Dia mematikan lampu dapur dan meninggalkan ruangan yang masih menyimpan bau mint.