Suara riuh rendah dari lantai bawah rumah besar keluarga Andina terdengar seperti dengung lebah yang menyakitkan di telinga Mila. Bau melati yang tajam merayap masuk melalui celah pintu kamar, mencekik paru-parunya dengan keharuman yang seharusnya melambangkan kesucian, namun bagi Mila, itu adalah aroma perpisahan yang mutlak. Hari ini, di ruang tamu yang dulu menjadi saksi bisu lamaran Fery kepadanya sepuluh tahun lalu, pria yang sama akan mengucapkan janji suci yang sama. Namun, nama yang disebut di belakang kata "bin" bukanlah Armila Andina, melainkan Intan Erlitasari.
Mila menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya masih cantik, namun ada gurat kelelahan yang tak bisa disembunyikan oleh bedak setebal apa pun. Dua anaknya, Arka dan Mika, sudah turun lebih dulu dengan pakaian seragam batik yang mungil. Mereka belum paham mengapa Ayah mereka mengenakan beskap pengantin untuk menikahi Tante Intan. Yang mereka tahu, hari ini adalah pesta, dan akan ada banyak es krim.
Pintu kamar terketuk pelan. Sosok Intan masuk dengan kebaya putih brokat yang sangat anggun. Wajah adiknya itu pucat, matanya sembab, jauh dari binar bahagia seorang pengantin pada umumnya. Di belakangnya, Fery berdiri dengan bahu yang tegang. Tidak ada gairah perselingkuhan di sini. Tidak ada pengkhianatan di belakang punggung yang selama ini menjadi bumbu drama picisan. Justru fakta bahwa mereka menikah karena "baik-baik" dan "murni saling mencintai" itulah yang membuat hati Mila terasa seperti diremas perlahan hingga hancur.
"Mbak Mila..." suara Intan bergetar. Ia berlutut di depan kaki kakaknya, memegang jemari Mila yang dingin. "Maafkan Intan. Demi Allah, Intan tidak pernah merencanakan ini. Intan tidak pernah berniat mencuri Mas Fery dari Mbak."
Mila menarik napas panjang, menatap ubun-ubun adiknya. Ia teringat kembali dua tahun lalu, saat ia dan Fery memutuskan untuk mengakhiri segalanya. Bukan karena orang ketiga, bukan karena tangan ringan yang melayang ke pipi. Mereka bercerai karena tembok perbedaan prinsip yang sudah terlalu tinggi untuk dipanjat. Mila yang perfeksionis dalam mendidik anak, mengutamakan disiplin dan pendidikan karakter yang keras, berbenturan dengan Fery yang santai, yang menganggap anak-anak biarlah tumbuh secara natural tanpa tekanan. Pertengkaran demi pertengkaran tentang jam tidur, jenis makanan, hingga sekolah mana yang terbaik, perlahan mengikis rasa cinta yang mereka miliki hingga yang tersisa hanyalah rasa lelah yang amat sangat.
Mereka berpisah secara dewasa. Tanpa drama perebutan harta, tanpa saling maki di depan hukum. Namun, takdir memiliki selera humor yang gelap. Intan, sang adik yang selalu menjadi pendengar setia bagi Fery saat rumah tangga mereka retak, dan menjadi pelipur lara bagi keponakan-keponakannya pasca perceraian, perlahan menemukan frekuensi yang sama dengan Fery. Mereka jatuh cinta di saat keduanya sama-sama sendiri, di saat Mila sudah resmi menjadi "masa lalu".
"Bangun, Tan," bisik Mila lembut. Suaranya serak. "Jangan menangis. Nanti riasanmu rusak. Ini hari bahagiamu."
Fery melangkah maju, ia menunduk dalam, tidak berani menatap langsung mata wanita yang pernah menghabiskan satu dekade bersamanya. "Mil, aku tahu ini sulit. Aku tahu dunia akan menganggap ini aneh. Tapi aku tidak bisa berbohong pada perasaanku sendiri. Intan adalah rumah yang berbeda bagiku. Dan aku berjanji, aku akan tetap menjadi Ayah yang baik bagi Arka dan Mika. Aku minta restumu, bukan hanya sebagai mantan suami, tapi sebagai calon adik iparmu."
Mila memejamkan mata. Kata "adik ipar" itu seperti sembilu yang menyayat tepat di bekas luka yang belum sepenuhnya kering. Ia membayangkan masa depan: saat lebaran, ia akan melihat Fery duduk di samping Intan, bukan di sampingnya. Ia akan melihat Fery mencium kening Intan di rumah orang tua mereka. Dunianya telah bergeser porosnya, dan ia dipaksa untuk tetap berdiri tegak.
"Kalian tidak bersalah," ujar Mila akhirnya. Ia mengangkat wajah Intan dan mengusap air mata di pipi adiknya. "Kita berpisah karena kita memang tidak lagi satu arah, Fery. Dan Intan, kamu berhak bahagia. Jika bahagiamu ada pada pria yang pernah gagal bersamaku, maka itu adalah takdir yang harus kutelan, meski pahitnya sampai ke tenggorokan."
Mila berdiri, merapikan baju Fery yang sedikit miring—kebiasaan lama yang sulit hilang. Fery tersentak kecil, matanya berkaca-kaca. Ada rasa hormat sekaligus rasa bersalah yang teramat besar di sana.
"Aku merestui kalian," kata Mila tegas, meski hatinya menjerit. "Tapi ingat satu hal, Fery. Kamu menikahi adikku. Jika kamu menyakitinya, kamu tidak hanya berurusan dengan seorang istri, tapi kamu berurusan denganku, kakaknya. Dan Intan, cintai Arka dan Mika seperti kamu mencintaiku."
Tangis Intan pecah. Ia memeluk pinggang Mila dengan erat, menumpahkan segala beban rasa bersalah yang dipendamnya berbulan-bulan sejak Fery melamarnya. Fery hanya bisa menunduk, bahunya terguncang hebat. Di kamar itu, tiga manusia dewasa terjebak dalam pusaran emosi yang luar biasa hebat. Sebuah permohonan maaf yang tulus dan sebuah keikhlasan yang dipaksakan oleh keadaan.
Saat prosesi ijab kabul dimulai di bawah sana, Mila memilih untuk tetap di atas, di balkon yang menghadap taman belakang. Ia mendengar suara Fery melalui pengeras suara, mantap mengucapkan janji untuk menjaga Intan seumur hidupnya. "Sah!" teriak para saksi.
Mila menggenggam pagar balkon hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh satu per satu, membasahi kain kebayanya. Ia teringat bagaimana dulu ia dan Fery membangun mimpi tentang rumah kecil dengan pagar putih. Kini, mimpi itu tetap ada, pagar putih itu tetap berdiri, namun bukan dia yang memegang kuncinya.
Ia melihat Arka dan Mika berlarian di taman, tertawa riang menyambut "Mama baru" yang sebenarnya adalah Tante kesayangan mereka. Mila tersenyum getir. Setidaknya, anak-anaknya tidak akan kehilangan figur Ayah, dan mereka mendapatkan kasih sayang tambahan dari seorang ibu sambung yang sudah mereka kenal sejak lahir. Itulah satu-satunya penghibur lara yang ia miliki.
Sore itu, setelah tamu-tamu mulai pulang, Mila duduk sendirian di meja makan yang sudah sepi. Secangkir kopi yang ia buat sejak tadi sudah mendingin, permukaannya tenang tanpa riak, persis seperti perasaannya sekarang. Kosong, hambar, namun stabil.
Intan dan Fery menghampirinya sebelum mereka berangkat ke hotel untuk beristirahat. Intan memeluk Mila lama sekali, seolah ingin mentransfer seluruh kekuatan yang ia miliki. "Terima kasih, Mbak. Terima kasih sudah menjadi manusia paling tegar yang aku kenal."
Mila hanya mengangguk pelan. Ia menatap Fery yang berdiri di belakang Intan. Tak ada lagi benci, tak ada lagi dendam. Yang ada hanyalah sebuah kesadaran bahwa hidup tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tapi hidup selalu memberikan apa yang kita butuhkan untuk bertumbuh.
"Berangkatlah," kata Mila. "Jaga adikku baik-baik."
Saat mobil mereka perlahan meninggalkan halaman rumah, Mila berdiri di ambang pintu. Ia menarik napas panjang, menghirup udara malam yang mulai dingin. Ia tahu, mulai besok, ia harus belajar memanggil mantannya dengan sebutan "Adik Ipar". Ia tahu, setiap pertemuan keluarga akan menjadi ujian kesabaran yang baru. Namun, ia juga tahu, bahwa dengan melepaskan, ia sedang menyembuhkan dirinya sendiri.
Mila menutup pintu rumah dengan perlahan. Ia mematikan lampu ruang tamu, membiarkan kegelapan menyelimuti ruangan yang tadi penuh dengan tawa dan air mata. Ia melangkah menuju kamar anak-anaknya, mencium kening mereka yang sedang terlelap. Di dalam hati, ia berbisik pada dirinya sendiri, bahwa ia telah menang. Bukan menang karena memiliki, tapi menang karena berhasil merelakan tanpa menyisakan benci di hati.
Esok adalah hari baru. Dan bagi Mila, meski cintanya telah berpindah tangan ke rahim yang sama dengannya, ia tetaplah seorang ibu, seorang kakak, dan seorang wanita yang utuh. Ia akan terus berjalan, meski langkahnya kini harus melewati jalan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Karena pada akhirnya, ikhlas bukan tentang melupakan, melainkan tentang mengingat tanpa rasa sakit.
---