CHAPTER [01] : PERTEMUAN TAK TERDUGA
Azela Larasati, seorang remaja berusia 17 tahun yang harus pindah ke ibu kota untuk pendidikan yang lebih baik dari sebuah desa terpencil.
"Ibu, Zela pergi dulu ya. Ibu jaga diri baik-baik selama aku tak ada" ucapnya lembut
Azela sebenarnya tidak tega meninggalkan ibunya—Niken sendirian di desa, tapi dia juga tidak bisa menyia-nyiakan beasiswa yang didapatkan
"Jangan khawatirkan ibu nak, ibu bisa jaga diri di sini" senyum menatap sang putri "justru ibu khawatir padamu yang harus berada di kota sendirian"
Azela tersenyum lembut "Zela akan baik-baik ibu, doakan Zela bisa bersekolah dengan baik ya disana"
"Pasti nak, ibu selalu doakan yang terbaik untukmu" senyum lembut
Tak berselang lama kemudian, sebuah bus berhenti tepat di depan rumah. azela berpamitan sekali lagi dengan Niken lalu masuk ke dalam bus.
"Tolong jaga dan lindungi putriku Tuhan, semoga semua yang dicita-citakan tercapai dan betah ada di kota seorang diri" gumam
Bus yang membawa Azela mulai melaju meninggalkan desa, perempuan itu duduk di pinggir jendela menatap keluar.
Pemandangan hijau, pegunungan yang indah dan para petani yang sedang bekerja di sawah adalah pemandangan yang Azela lihat selama berada di dalam bus.
Bus tiba-tiba berhenti di tengah jalan ketika ada yang akan memasuki bus, seorang laki-laki naik ketika kendaraan roda empat itu berhenti di depannya.
"Permisi!"
Azela yang semula menatap keluar jendela menatap "iya, ada apa ya?"
"Apa aku boleh duduk di sebelahmu nona?" tanya laki-laki yang baru saja masuk bus itu
"Oh tentu saja" azela langsung mengambil tas yang sengaja dia letakkan di sampingnya itu
"Terimakasih!" laki-laki itu duduk di sebelah Azela
Azela kembali menatap keluar jendela sambil bersandar "sepertinya perjalanan ini masih panjang" batinnya
Laki-laki yang ada di sampingnya melirik sekilas "sepertinya dia mulai bosan" batinnya
Laki-laki itu menaikkan sedikit kacamata yang digunakan lalu membuka ransel yang dia bawa, dia mengeluarkan sebuah laptop dan menghidupkannya
"Lebih baik aku mengerjakan tulisan ku diwaktu senggang seperti ini, hanya tinggal sentuhan ending saja kan?" batinnya
Laki-laki itu adalah seorang penulis sebuah novel, kepindahannya ke desa selain karena urusan pribadi juga karena tulisannya.
Suasana pedesaan yang hening dan sejuk membuatnya merasa nyaman dan mudah saat berkonsentrasi
Tuk!
Tampa sadar Azela menjatuhkan ponsel genggamnya karena tiba-tiba saja tertidur sesaat "astaga!" dia langsung bangun dan mengambil ponselnya
"Kamu baik-baik saja nona?" tanya laki-laki itu lalu menatap
Azela tersenyum "ya, aku tidak apa-apa. Maaf ya jika membuatmu terganggu"
Dia tersenyum "tidak apa-apa, aku sama sekali tidak merasa terganggu"
Setelahnya keadaan kembali hening, mereka kembali sibuk dengan pikiran masing-masing
Klap!
Laki-laki itu menutup laptopnya setelah sebelumnya mematikan benda elektronik itu lebih dulu dan memasukkannya dalam ransel kembali "apa kamu akan pergi ke kota?"
"Heun? Ya, aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di kota" ia menoleh dengan kedua tangan bersedekap dada
"Wahh, hebat sekali" menatap Azela "matanya entah kenapa mengingatkanku pada seseorang, tetapi siapa ya?" batinnya
"Hei, apa kamu baik-baik saja?" Azela meggoyangkan tangannya di depan laki-laki itu
Dia kembali pada kesadaran "ah iya, maaf maaf" tersenyum
"Senyum itu.... Ah itu tidak mungkin, dia tidak mungkin ada di desa ini lagi" batinnya
"Ah iya, namaku Seandra, kamu bisa panggil aku Sean" senyum lalu mengulurkan tangan
"Aku Azela, kau bisa panggil namaku Zela" membalas uluran tangan Sean
Sepanjang perjalanan ke kota keduanya mengobrol ringan mengenai banyak hal, Azela mengatakan semua tentang studinya sementara Sean mengatakan tentang apa saja yang dia lakukan di desa beberapa minggu ini.
"Wahh, sepertinya kamu menemukannya banuak hal baru di desa Sean" ucap Azela
Sean terkekeh "kamu benar, aku memang baru pertama kali menginjakkan kaki di desa ini, tapi entah kenapa aku merasa jika desa ini adalah rumahku" gumam
Yah, perasaan familiar itu membuat Sean merasa janggal. Sepertinya ada banyak hal yang dia lupakan setelah insiden yang dia alami malam itu.
"Mungkin saja kamu memang pernah pergi ke sini sebelumnya dan kamu melupakan hal itu" gumam Azela
"Yah, mungkin saja begitu" jawabnya lalu menatap Azela "lalu bagaimana dengan mu? Setelah ada di kota akan tinggal dimana?"
"Aku akan tinggal di rumah lama memdiang ayahku, menurut ibu dulu beliau pernah tinggal di kota sebelum akhirnya kembali ke desa" jawab Azela
🌟🌟🌟
Azela menghentikan langkahnya di depan sebuan rumah "wah, ini sangat besar jika aku sendiri yang menempatinya" gumam kecil
Sebuah rumah dengan arsitektur sederhana namun sangat luas, warnanya putih dan di sekeliling rumah banyak tanaman hias yang tertanam
"sepertinya aku akan punya pekerjaan disaat waktu senggang" menatap sekitarnya
Pekerjaan yang dia maksud adalah merapikan sekitar rumahnya, mencabuti rumput liar yang tumbuh di sekitar rumah, menata ulang dan menanam ulang tanaman hias yang ada di sekitar rumah nya.
Klek!
Azela membuka kunci rumah lalu berjalan masuk "sepertinya rumah ini akan membuat ku betah" menatap keseluruhan ruangan
Yah, tapi Azela harus membersihkan debu yang bertebaran dimana-mana lebih dulu. Selain itu dia juga harus membeli berbagai kebutuhan selama dia akan tinggal di rumah itu
"Untung saja aku tidak perlu sewa rumah, jadi uang yang akan ku dapatkan dari beasiswa itu bisa kugunakan untuk membeli kebutuhan sekolah dan kebutuhan hidup ku selama di sini" gumam
Setelah membersihkan sebuah kursi dan meja Azela duduk dan meletakkan tasnya di atas meja
"Untuk hari ini aku makan dari makanan yang ibu bawakan saja, aku tinggal memanaskannya saja nanti. Jadi besok aku akan berbelanja, untungnya besok adalah hari minggu"
Setelah beberapa menit mengistirahatkan tubuh Azela bangkit lalu melangkah ke lantai dua untuk mencari kamar yang sekiranya nyaman untuk dia tempati, tidak lupa dia juga membersihkan diri dan memberikan kabar pada ibunya jika sudah sampai di kota.
"Syukurlah jika kamu sudah sampai kota dengan selamat nak" nada lega terdengar dari Niken dari balik sambungan telepon
"Iya ibu, aku baru saja selesai mandi dan sekarang sedang merapikan pakaian sambil telepon dengan ibu"
"Oh iya nak, jangan lupa kamu hangatkan makakan yang ibu bawakan agar tidak basi" Niken mengingatkan "kamu pasti sekarang lelah dan tidak sempat juga membeli bahan makanan"
Azela tersenyum "iya ibu, setelah ini aku memang akan ke dapur menghangatkan makakan buatan ibu" jawabnya "makanan ibu kan enak, jadi aku tidak akan membiarkannya basi"
~ BERSAMBUNG ~
=========