Satu jam sebelum azan Magrib adalah waktu paling krusial bagi Arini. Sebagai jomblo abadi yang baru saja pindah ke kompleks perumahan baru, ia memutuskan untuk ikut berburu takjil di masjid raya terdekat. Namun, karena kurang tidur akibat begadang menonton drama Korea, kepala Arini terasa pening. Pandangannya agak kabur saat ia duduk di barisan belakang area perempuan, menunggu ceramah singkat selesai.
"Nduk, akhirnya kamu datang juga. Tadi Ibu cari-cari di depan," bisik seorang wanita paruh baya dengan mukena bordir mewah yang tiba-tiba duduk di sampingnya.
Arini mengerutkan kening. "Maaf, Bu? Saya—"
"Sstt, jangan berisik. Itu suamimu sudah mulai sambutan di depan. Gagah sekali ya dia pakai baju koko pemberian Ibu," potong wanita itu sambil menunjuk ke arah mimbar.
Arini menoleh. Di sana berdiri seorang pria tinggi, berkacamata, dan sangat tampan yang sedang memegang mik. Otak Arini yang sedang "lowbat" karena puasa mendadak macet. Pria itu menatap ke arah mereka, atau lebih tepatnya ke arah wanita di samping Arini, lalu tersenyum manis.
"Masya Allah, suamiku?" gumam Arini linglung. "Sejak kapan aku menikah?"
"Kamu ini lucu, Arini. Baru puasa hari kesepuluh sudah amnesia karena lapar," kekeh wanita itu yang ternyata bernama Bu Siti.
Sebelum Arini sempat mengklarifikasi bahwa namanya memang Arini tapi ia bukan istri siapa-siapa di ruangan itu, Bu Siti sudah menariknya berdiri. "Ayo, kita buka puasa di rumah. Farhan sudah pesan katering spesial buat merayakan kepulanganmu dari luar kota."
Arini terseret. Di kepalanya hanya ada satu pikiran: Mungkin ini berkah Ramadhan. Dari jomblo karatan langsung dapat suami spek ustadz dan ibu mertua kaya. Karena lapar yang luar biasa, Arini memutuskan untuk mengikuti permainan ini sebentar saja. Toh, hanya sampai kenyang, pikirnya nakal.
Sesampainya di rumah besar itu, si pria tampan bernama Farhan menyambut mereka. Ia menatap Arini dengan tatapan... bingung? Sedikit canggung?
"Mas Farhan, ini istrimu sudah Ibu jemput di masjid," seru Bu Siti riang.
Farhan berdehem, menyesuaikan kacamata. "Oh... iya, Bu. Mari masuk. Kita buka puasa dulu."
Suasana di meja makan sangat canggung. Arini makan dengan lahap, sementara Farhan hanya memperhatikannya dengan dahi berkerut. Setiap kali Farhan ingin bicara, Arini langsung menyumpal mulutnya dengan bakwan atau es buah. Ia takut rahasianya terbongkar sebelum perutnya benar-benar penuh.
"Kamu... banyak berubah ya, Arini," ucap Farhan pelan.
"Efek cuaca di luar kota, Mas. Jadi agak beda," jawab Arini asal-asalan sambil nyengir.
"Suara kamu juga jadi lebih cempreng," tambah Farhan lagi.
"Iya, sering teriak-teriak jualan... eh, maksudnya teriak karena bahagia," ralat Arini cepat.
Bu Siti tersenyum melihat mereka. "Ibu senang kalian akur. Farhan, cepat selesaikan urusan administrasi itu. Ibu ingin kalian segera bulan madu lagi setelah Lebaran."
Arini hampir tersedak biji selasih. Bulan madu? Urusan administrasi? Waduh, ini sudah terlalu jauh. Ia harus kabur sebelum diajak masuk ke kamar. Saat Bu Siti pergi ke dapur untuk mengambil cuci mulut, Arini segera berdiri.
"Mas Farhan, saya harus jujur," bisik Arini gemetar. "Sebenarnya saya bukan—"
"Saya tahu kamu bukan istri saya," potong Farhan tenang sambil menyesap teh hangatnya.
Arini melongo. "Hah? Kalau Mas tahu, kenapa diam saja dari tadi? Kenapa malah dibiarkan saya makan gratis di sini?"
Farhan menyandarkan punggungnya di kursi, sebuah senyum jahil muncul di wajahnya. "Sederhana. Ibu saya itu pengidap katarak parah yang baru operasi minggu lalu, penglihatannya masih sangat buram. Dan dia sangat terobsesi ingin saya segera menikah dengan tunangan saya yang namanya juga Arini."
"Lalu mana Arini yang asli?" tanya Arini penasaran.
"Dia kabur dua jam yang lalu. Dia mengirim pesan kalau dia tidak mau menikah dengan pria 'kaku' seperti saya. Kalau Ibu tahu, tensinya bisa naik dan dia bisa masuk rumah sakit lagi," jelas Farhan. "Jadi, saat Ibu salah gandeng orang di masjid, saya pikir... kenapa tidak? Setidaknya untuk acara buka puasa ini."
Arini merasa harga dirinya sedikit tersentil. "Jadi saya cuma jadi bemper?"
"Bemper yang makan bakwannya sangat banyak," goda Farhan.
Tiba-tiba pintu depan terbuka. Seorang wanita cantik dengan tas bermerek masuk sambil berteriak. "Tante Siti! Farhan! Aku kembali! Aku cuma bercanda soal kabur tadi, aku cuma mau tes mental Farhan!"
Arini dan Farhan saling pandang. Bu Siti keluar dari dapur dengan wajah bingung, menatap Arini (yang sedang memegang paha ayam) lalu menatap wanita di pintu.
"Lho, Arini kok ada dua?" tanya Bu Siti sambil mengucek matanya.
Inilah plot twist-nya: Farhan berdiri, merangkul bahu Arini (si jomblo takjil) dengan erat.
"Bu, maafkan Farhan. Arini yang baru datang itu sebenarnya adalah penipu yang mau mengincar harta kita. Arini yang asli adalah yang ini, yang makannya lahap. Ibu ingat kan kata nenek? Cari istri yang makannya lahap, tandanya dia pekerja keras dan sehat!"
Si Arini asli berteriak tidak terima, sementara Bu Siti yang masih kabur penglihatannya langsung mengacungkan sendok sayur ke arah pintu. "Pergi kamu penipu! Jangan ganggu menantuku yang sedang makan ayam!"
Setelah si Arini asli diusir keluar karena dianggap orang asing, Arini menatap Farhan dengan ngeri. "Mas, kenapa Mas malah bohong begitu? Sekarang saya malah terjebak jadi istri beneran!"
Farhan tertawa kecil, kali ini terlihat sangat tulus. "Daripada menikah dengan wanita yang hobi main drama seperti dia, lebih baik saya mencoba peruntungan dengan wanita yang jujur soal rasa laparnya. Lagipula, nama kita di garis takdir mungkin sudah tertukar di masjid tadi."
Arini terdiam, lalu kembali mengambil bakwan terakhir di piring. "Ya sudah. Tapi besok menunya rendang ya, Mas? Sebagai upah sandiwara saya."
Farhan mengacak rambut Arini pelan. "Apapun untuk 'istri' Ramadhan saya."
Dan begitulah, Arini yang awalnya hanya ingin mencari takjil gratis, malah mendapatkan "paket lengkap" dengan mertua yang baik hati meski agak rabun, dan suami ustadz tampan yang ternyata punya selera humor yang aneh.
---