Riasa menatap pantulannya di kaca spion mobil sedan mewah miliknya. Gaun sutra berwarna zamrud itu membalut tubuhnya dengan sempurna, memperlihatkan garis bahu yang tegas dan pinggang yang dulu hanya menjadi angan-angan di balik daster longgar penuh noda kunyit. Rambutnya jatuh bergelombang, berkilau sehat di bawah lampu jalanan Jakarta yang temaram. Ia tidak lagi melihat wanita yang dulu selalu menunduk saat berjalan di samping Wendi.
Tiga tahun lalu, dapur adalah dunianya. Ia menghabiskan waktu berjam-jam memasak semur daging kesukaan Wendi, hanya untuk mendengar suaminya itu mencibir, "Kamu makan terus, Ri. Pantas saja jalanmu sudah seperti pinguin. Malu aku kalau teman kantor mampir ke rumah."
Luka itu tidak berdarah, tapi bernanah di dalam. Puncaknya adalah saat Wendi meletakkan surat cerai di meja makan, tepat di samping hidangan ulang tahun pernikahan mereka yang kelima. Wendi pergi demi Shila, perempuan dari masa lalunya yang memiliki kaki jenjang dan perut rata. Saat itu, Riasa hanya bisa menangis sampai sesak napas, merasa separuh nyawanya direnggut bersama pria yang sangat ia puja.
Malam ini, di ballroom hotel berbintang tempat reuni akbar universitas diadakan, Riasa melangkah masuk. Kehadirannya seperti magnet. Bisik-bisik mulai menjalar. Orang-orang yang dulu merundungnya karena ukuran tubuhnya kini terpaku, tak percaya bahwa dewi yang baru saja masuk adalah Riasa yang dulu mereka juluki "Si Gentong".
Wendi ada di sana. Penampilannya kontras dengan kemewahan ruangan itu. Setelannya tampak agak kusam, dan wajahnya menyimpan kelelahan yang nyata. Begitu melihat Riasa, gelas di tangannya hampir terlepas. Matanya membelalak, memindai dari ujung kaki hingga ujung kepala Riasa dengan lapar.
Wendi membelah kerumunan, mengabaikan Shila yang sedang asyik memamerkan tas barunya di sudut lain. Ia berdiri di depan Riasa, aroma parfum murahnya menusuk indra penciuman Riasa yang kini terbiasa dengan aroma niche yang mahal.
"Riasa? Kamu... benar-benar berubah. Kamu cantik sekali," suara Wendi parau, penuh penyesalan yang dibuat-buat.
Riasa menyunggingkan senyum tipis. "Terima kasih, Wendi. Kabarmu baik?"
"Tidak. Sejak kita berpisah, semuanya berantakan. Shila... dia tidak sepertimu. Dia tidak bisa mengurus rumah, dia hanya tahu cara menghabiskan uang. Aku merindukan masakanmu. Aku merindukan caramu menungguku pulang," Wendi mencoba meraih jemari Riasa, suaranya merendah penuh permohonan. "Ri, aku khilaf dulu. Bisakah kita bicara berdua saja? Aku ingin memperbaiki semuanya."
Riasa tidak menarik tangannya. Ia membiarkan Wendi menggenggam ujung jemarinya, memberi pria itu harapan palsu yang memabukkan. Mereka berjalan menuju balkon yang sepi, menjauh dari hingar bingar musik jazz di dalam.
"Aku sudah melakukan segalanya untukmu dulu, Wen. Aku bahkan melupakan diriku sendiri," ucap Riasa pelan, menatap langit malam.
"Aku tahu, dan aku bodoh telah menyia-nyiakanmu. Lihat dirimu sekarang, kamu sempurna. Kita bisa mulai lagi dari nol. Aku akan menceraikan Shila jika itu yang kamu mau," janji Wendi menggebu-gebu.
Riasa tertawa, sebuah tawa renyah yang terdengar seperti denting es dalam gelas kristal. "Mulai dari nol? Kamu lucu, Wendi. Kamu pikir transformasiku ini hanya untuk menarik perhatianmu kembali?"
Wendi tertegun. "Maksudmu?"
"Selama dua tahun ini, aku tidak hanya berolahraga dan melakukan perawatan wajah. Aku belajar cara bekerja di balik layar. Kamu tahu perusahaan investasi yang menjanjikan keuntungan besar pada istrimu tahun lalu? Yang membuatnya rela menggadaikan sertifikat rumah ibumu?"
Wajah Wendi mendadak pucat pasi. "Darimana kamu tahu soal itu?"
"Karena aku pemilik saham mayoritas di perusahaan itu, Wendi. Aku yang menyuruh agenku untuk mendekati Shila, memberinya impian palsu tentang kekayaan instan karena aku tahu dia wanita yang rakus. Dan besok pagi, seluruh aset yang tersisa atas namamu akan disita untuk menutupi kerugian investasi fiktif itu."
Wendi terhuyung, berpegangan pada pagar balkon. "Kamu... kamu merencanakan ini? Kamu menghancurkanku karena rasa sakit hati?"
Riasa mendekat, merapikan kerah kemeja Wendi yang sedikit miring dengan gerakan lembut yang mematikan. "Bukan karena sakit hati, tapi karena keadilan. Kamu menghancurkan mentalku selama bertahun-tahun, menganggapku sampah karena penampilanku. Sekarang, aku berdiri di sini dengan tubuh yang kamu idamkan, tapi dengan hati yang tidak akan pernah bisa kamu miliki lagi."
Riasa melepaskan pegangannya dan berbalik. "Oh, satu lagi. Shila sudah tahu soal pertemuan kita malam ini. Aku yang mengirimkan undangan anonim padanya agar dia melihatmu berlutut memohon padaku di balkon ini. Selamat menikmati kehancuranmu, Wendi."
Riasa melangkah pergi dengan anggun, tumit sepatunya berbunyi ritmis di atas lantai marmer, meninggalkan Wendi yang hancur dalam kesunyian malam. Ia tidak pernah merasa seringan ini. Bukan karena berat badannya yang turun, tapi karena beban masa lalunya telah ia letakkan tepat di pundak orang yang pantas menerimanya.