Aris selalu percaya bahwa takdir memiliki selera humor yang gelap. Namun, ia tidak menyangka takdir akan menertawakannya tepat di depan pintu sebuah rumah asri di pinggiran Jakarta.
Saat itu, Aris (35) datang membawa hantaran buah untuk melamar Tiara (26), kekasihnya selama dua tahun terakhir. Pintu terbuka, dan jantung Aris seolah berhenti berdetak. Sosok wanita yang muncul bukanlah ibu-ibu paruh baya berkonde, melainkan Siska (36).
Wanita yang enam tahun lalu duduk di hadapan hakim pengadilan agama bersamanya. Mantan istrinya.
Kilas Balik Mengapa Mereka Cerai? Inilah kisahnya, enam tahun lalu, Aris dan Siska adalah pasangan muda yang ambisius. Mereka menikah di usia awal 20-an karena cinta monyet yang menggebu. Namun, pernikahan itu hanya bertahan tiga tahun.
Alasannya klise tapi nyata: Ketidakdewasaan. Aris saat itu adalah pria yang gila kerja dan abai pada hal-hal kecil di rumah. Siska adalah wanita yang perfeksionis dan menuntut perhatian penuh. Puncaknya adalah ketika Siska mengalami keguguran, dan Aris justru sedang berada di luar kota untuk proyek besar. Siska merasa sendirian, Aris merasa tidak dihargai usahanya mencari nafkah. Mereka bercerai secara baik-baik, namun dengan luka yang belum benar-benar kering.
Setelah cerai, Siska yang mandiri memutuskan untuk tidak menikah lagi. Ia mendedikasikan hidupnya mengurus Tiara, adik sepupunya yang yatim piatu yang sudah ia anggap seperti anak kandung sendiri sejak kecil. Di mata Tiara, Siska adalah sosok "Mama".
Tibalah saatnya pertemuan yang canggung di suatu tempat.
"Aris?" Siska berbisik, wajahnya pucat pasi.
"Mama sudah kenal Aris?" Tiara muncul dengan wajah berseri-seri, memecah keheningan yang mencekam itu.
Siska menarik napas panjang, naluri pelindungnya bangkit. "Kami... pernah satu lingkaran pertemanan dulu. Masuklah."
Sesi makan malam itu adalah ujian ketahanan mental bagi Aris. Ia duduk di meja makan yang dulu sering ia abaikan saat masih bersama Siska, kini ia duduk di sana sebagai "calon menantu".
"Jadi, Aris," Siska memulai dengan nada yang sangat formal, seolah sedang mewawancarai karyawan baru. "Apa yang membuatmu merasa layak menjadi suami Tiara? Mengingat... pengalaman masa lalumu yang mungkin kurang berhasil?"
Aris tersedak sup ayamnya. Tiara tertawa kecil, mengira itu hanya candaan ibunya.
"Ma, jangan galak-galak. Aris itu orangnya sangat bertanggung jawab sekarang."
"Oh ya?" Siska menaikkan alis. "Apa dia masih suka menaruh kaos kaki kotor di dalam sepatu? Atau lupa membayar tagihan listrik sampai diputus PLN?"
Aris berdehem, berusaha menjaga martabatnya. "Saya sudah banyak belajar dari kesalahan masa lalu, Tante... eh, Ma. Saya sadar bahwa rumah tangga bukan cuma soal uang, tapi soal kehadiran."
Siska tertegun. Kalimat itu adalah kalimat yang selalu ia harapkan keluar dari mulut Aris tujuh tahun lalu.
Setelah makan malam, saat Tiara sedang mencuci piring di dapur, Siska menarik Aris ke taman belakang.
"Kamu gila, Ris? Dari jutaan wanita di Jakarta, kenapa harus adikku—maksudku, anakku?" Siska mendesis pelan.
"Aku beneran nggak tahu kalau dia anak angkatmu, Sis! Kita sudah putus kontak total setelah cerai. Tiara cuma bilang ibunya adalah wanita hebat yang membesarkannya sendirian."
Siska memijat pelipisnya. "Tiara sangat mencintaimu. Dia cerita tentangmu setiap hari. Tapi kalau dia tahu calon suaminya adalah orang yang pernah menceraikan ibunya... dia akan hancur."
"Atau mungkin dia akan paham kalau kita sudah sama-sama berubah?" Aris mencoba optimis. "Kita cerai karena kita masih bocah saat itu. Sekarang aku sudah paham cara menghargai wanita."
Ketegangan itu pecah ketika Tiara berjalan keluar membawa teh hangat. Ia menatap keduanya dengan pandangan yang dalam, bukan pandangan gadis polos yang mereka kira.
"Kalian mau merahasiakan ini sampai kapan?" tanya Tiara tenang.
Aris dan Siska membeku.
"Tiara, maksud kamu..."
"Aku tahu kalian pernah menikah," Tiara duduk di kursi taman. "Dua bulan lalu, aku nggak sengaja menemukan surat cerai Mama di laci tua. Nama suaminya: Aris Subiakto. Dan paspor Aris yang aku lihat di tasnya namanya sama."
Siska menutup mulutnya dengan tangan. "Sayang, maafkan Mama..."
"Aku awalnya marah," lanjut Tiara, matanya berkaca-kaca. "Tapi aku perhatikan kalian malam ini. Tidak ada kebencian di mata kalian, yang ada cuma rasa malu dan penyesalan. Ma, kalau Aris adalah orang jahat, Mama pasti sudah mengusirnya tadi. Tapi Mama malah menantangnya untuk jadi pria yang lebih baik."
Cerita ini tidak berakhir dengan keributan. Justru berakhir dengan sebuah rekonsiliasi yang mengharukan. Siska menyadari bahwa ia tidak bisa menghalangi kebahagiaan Tiara hanya karena kegagalannya di masa lalu bersama Aris.
Sementara Aris menyadari bahwa menjadi menantu Siska adalah cara semesta memberinya kesempatan untuk menebus kesalahannya dulu—bukan sebagai suami, tapi sebagai keluarga yang bisa diandalkan.
Enam bulan kemudian...
Di hari pernikahan, saat Aris hendak mengucapkan janji suci, ia melirik ke barisan depan. Siska duduk di sana, tampak anggun dengan kebaya kutubaru.
Saat bersalaman di pelaminan, Siska membisikkan sesuatu yang membuat Aris tertawa sekaligus merinding:
"Kalau kamu telat pulang lagi atau lupa hari ulang tahunnya, ingat... aku punya semua kunci cadangan rumah kalian. Dan aku tahu semua titik lemahmu, Aris."
Aris hanya bisa mencium tangan mertuanya—yang juga mantan istrinya—dengan penuh hormat. "Siap, Mama Mertua."
---