Bau karbol yang menyengat adalah hal pertama yang menyapa indra penciuman Sekar saat ia siuman. Di sampingnya, sebuah ranjang bayi plastik transparan menampung sesosok mungil yang terbungkus kain bedung merah muda.
"Bayi Ibu sehat, cantik sekali," bisik Suster Lastri, seorang perawat paruh baya dengan seragam putih yang tampak sedikit kusam. Wajahnya pucat, namun senyumnya menenangkan.
Sekar tersenyum lemah. Suaminya, Rendy, belum juga kembali sejak mengurus administrasi di bawah. Anehnya, sinyal ponsel di ruangan itu nol besar. Setiap kali Sekar bertanya, Suster Lastri hanya menjawab bahwa bangunan beton rumah sakit ini memang terlalu tebal untuk gelombang radio.
Selama dua hari, Sekar merasa menjadi satu-satunya pasien di koridor itu. Sepi yang luar biasa. Tidak ada suara roda brankar, tidak ada tangis bayi lain, hanya suara tetesan air dari keran yang bocor di kamar mandi.
"Sus, kenapa tidak ada pasien lain?" tanya Sekar saat makan siang diantarkan. Menunya selalu sama: bubur hambar dan sayur bening yang terasa... berdebu.
"Lantai ini sedang direnovasi, Bu. Hanya kamar ini yang paling layak," jawab Suster Lastri singkat sambil terus menatap bayi Sekar dengan pandangan yang sulit diartikan—seperti orang lapar yang menatap hidangan mewah.
Malam itu, Sekar terbangun karena mendengar suara cakaran di bawah ranjangnya. Saat ia melongok ke bawah, ia hanya menemukan sepasang sandal karet putih yang sudah menguning dan retak-retak.
Pagi hari ketiga, Sekar memutuskan untuk keluar kamar. Kepalanya pening, tapi nalurinya meneriakkan bahaya. Ia menggendong bayinya, melangkah pelan menyusuri koridor.
Pemandangan di luar kamar membuatnya membeku.
Debu tebal menyelimuti meja perawat yang kosong.
Kaca jendela pecah di beberapa sudut, ditutup dengan papan kayu yang sudah lapuk.
Kursi roda berkarat tergeletak terbalik di tengah jalan.
Sekar berlari menuju lift, tapi pintunya macet. Ia beralih ke tangga darurat. Di sana, ia bertemu dengan Rendy yang tampak kacau. Baju suaminya kotor dan napasnya tersengal.
"Sekar! Kamu di mana saja?!" teriak Rendy histeris. Ia langsung merengkuh Sekar.
"Aku di kamar 304, Ren! Kenapa rumah sakit ini berantakan begini?"
Rendy mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. "Sekar... aku sudah mencarimu ke seluruh gedung ini bersama polisi sejak tiga hari lalu. Rumah sakit ini sudah kosong dan terbengkalai sejak satu tahun lalu karena kasus malpraktik massal."
"Nggak mungkin! Suster Lastri merawatku!" Sekar membela diri, suaranya bergetar.
"Suster Lastri meninggal setahun lalu, Kar. Dia bunuh diri di bangsal ini," bisik Rendy dengan suara tercekat.
Sekar menggeleng keras. Ia melihat ke arah bayi dalam gendongannya untuk mencari kekuatan. Namun, saat ia membuka kain bedungnya, jantungnya seakan berhenti berdetak.
Di dalam bedung itu, bukan bayi manusia yang ia temukan. Melainkan sebuah gundukan tanah kuburan yang masih basah dengan sisa-sisa bunga kamboja yang mulai layu.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang diseret terdengar dari balik kegelapan tangga di atas mereka. Suara Suster Lastri terdengar sangat dekat di telinga Sekar:
"Ibu mau ke mana? Bayinya belum selesai menyusu..."
Sekar perlahan menoleh ke belakang, dan tepat saat itu, lampu senter Rendy padam.
Kegelapan yang menyergap setelah senter Rendy padam terasa padat, seolah-olah udara di tangga darurat itu berubah menjadi cairan hitam yang menyumbat paru-paru. Sekar tidak bisa berteriak. Suaranya tertahan di kerongkongan, sementara tangannya masih mendekap gundukan tanah kamboja yang terbungkus kain bedung itu dengan erat.
"Rendy?" bisik Sekar. Suaranya gemetar, pecah menjadi serpihan ketakutan.
Tidak ada jawaban. Hanya suara napas berat yang terdengar... tapi itu bukan napas suaminya. Napas itu terdengar basah, seperti seseorang yang paru-parunya terendam air. Sruk... sruk... Suara langkah kaki yang diseret itu kini berada tepat di anak tangga di atas mereka.
"Rendy, jangan bercanda! Nyalakan lampunya!" Sekar meraba-raba kegelapan, mencari lengan suaminya. Namun, yang ia sentuh bukanlah kain kemeja katun milik Rendy. Kulit yang ia sentuh terasa dingin, licin, dan sedikit lengket.
"Ibu... jangan lari," suara itu bukan lagi bisikan lembut Suster Lastri. Suara itu kini berat, serak, dan bergema seolah muncul dari dasar sumur tua. "Prosedur pemulihannya belum selesai. Bayinya... dia masih lapar."
Tiba-tiba, klik. Senter di tangan Rendy menyala kembali, namun sinarnya meredup, berkedip-kedip sekarat.
Sekar menjerit. Di hadapannya, Rendy berdiri dengan mata melotot, namun mulutnya tersumpal dengan gumpalan rambut hitam yang panjang. Di belakang Rendy, sesosok wanita dengan seragam perawat yang kini tampak robek-robek dan dipenuhi noda hitam kecokelatan berdiri tegak. Wajah Suster Lastri tidak lagi pucat, melainkan hancur di satu sisi—seperti bekas benturan keras atau jatuh dari ketinggian.
"Lari, Sekar! Lari!" Rendy berhasil memuntahkan rambut itu dan mendorong Sekar menuju pintu keluar darurat di lantai dua.
Sekar berlari membabi buta. Ia tidak lagi peduli pada rasa sakit di bekas jahitan operasinya. Anehnya, saat ia berlari, ia tidak merasa sakit sedikit pun. Rasa perih yang seharusnya ada justru digantikan oleh sensasi dingin yang menjalar dari perut ke seluruh tubuhnya.
Ia masuk ke dalam sebuah ruangan besar yang pintunya terbuka sedikit. Ruang Operasi 1.
Di dalamnya, bau busuk menyeruak. Bukan lagi bau karbol, melainkan bau daging busuk yang disamarkan dengan wangi kamboja. Di tengah ruangan, sebuah lampu operasi yang sudah berkarat bergantung miring. Di bawahnya, sebuah meja operasi tua tampak penuh dengan noda darah kering yang menghitam.
Sekar jatuh terduduk. Ia menatap gundukan tanah di gendongannya. Tiba-tiba, tanah itu mulai bergerak. Sesuatu dari dalam gundukan itu berusaha keluar. Sebuah tangan mungil, biru keabu-abuan, dengan kuku-kuku yang tajam, merobek kain bedung itu dari dalam.
"Tidak... tidak mungkin," isak Sekar.
Ia teringat kembali kejadian tiga hari lalu. Kecelakaan mobil itu. Ia dan Rendy sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit karena ketubannya pecah. Sebuah truk menghantam sisi kiri mobil mereka.
Lalu, memori itu mulai berputar seperti film rusak.
Dia tidak pernah sampai ke rumah sakit yang baru.
Rendy tidak pernah mengurus administrasi.
Rumah sakit ini... memang sudah mati.
Kilas Balik: Tragedi Setahun Lalu
Di atas meja perawat yang berdebu, sebuah surat kabar usang tertiup angin dari jendela yang pecah. Judul utamanya terlihat jelas di bawah sinar bulan yang masuk:
"SKANDAL RS MEDIKA: SUSTER LASTRI DITEMUKAN TEWAS SETELAH MELAKUKAN RITUAL TERLARANG UNTUK MENGHIDUPKAN KEMBALI BAYI-BAYI YANG MATI."
Suster Lastri adalah perawat senior yang kehilangan akal sehat setelah bayinya sendiri meninggal di rumah sakit itu. Ia mulai mempercayai bahwa bangunan itu berdiri di atas tanah keramat yang bisa mengembalikan nyawa, asalkan ada "perantara" yang masih bernyawa untuk menampung ruh sang bayi.
Sekar kini menyadari sesuatu yang mengerikan. Mengapa ia tidak merasa lapar selama tiga hari? Mengapa ia tidak merasa sakit?
Ia meraba perutnya sendiri. Dengan gemetar, ia menyingkap baju rumah sakitnya yang kini tampak kumal dan sobek. Di perutnya, tidak ada jahitan operasi yang rapi. Yang ada hanyalah luka menganga yang dijahit kasar dengan benang hitam tebal, dan dari sela-sela jahitan itu, keluar belatung-belatung kecil yang menggeliat.
Ia sudah mati. Ia meninggal dalam kecelakaan itu.
Pertemuan di Perbatasan
Pintu ruang operasi berderit terbuka. Rendy masuk, tapi penampilannya berbeda. Ia transparan, pucat, dan ada darah yang mengalir dari pelipisnya.
"Sekar," panggil Rendy lembut. "Kita harus pergi. Tempat ini bukan untuk kita."
"Tapi bayi kita, Ren..." Sekar menunjuk gundukan tanah yang kini mulai membentuk sosok bayi yang mengerikan di lantai.
"Itu bukan bayi kita, Kar. Itu adalah sesuatu yang dipanggil Suster Lastri untuk mengisi kekosongan di rahimmu agar kau tetap tinggal di sini sebagai 'pasiennya' selamanya."
Di sudut ruangan, sosok Suster Lastri muncul kembali. Kali ini ia membawa jarum suntik besar yang berisi cairan hitam pekat. Matanya yang sebelah hanya menyisakan lubang hitam yang dalam.
"Waktunya kontrol, Ibu Sekar," suara Suster itu bergema di seluruh ruangan, tumpang tindih dengan suara ratusan tangis bayi yang tiba-tiba meledak dari balik dinding-dinding rumah sakit.
Rendy menarik tangan Sekar. "Lari ke arah cahaya, Kar! Jangan menoleh!"
Labirin Tanpa Akhir
Mereka berlari menyusuri koridor yang seolah memanjang tanpa batas. Pintu-pintu kamar di kanan kiri terbuka sendiri, memperlihatkan ranjang-ranjang kosong yang bergetar hebat. Suara tawa anak kecil dan tangisan pilu menyatu menjadi simfoni horor yang memekakkan telinga.
Setiap kali mereka melewati sebuah cermin, Sekar tidak melihat dirinya yang cantik. Ia melihat sosok mayat dengan kulit yang mulai membiru dan mata yang cekung.
"Hampir sampai!" teriak Rendy menunjuk sebuah pintu kaca besar di ujung lorong yang memancarkan cahaya putih menyilaukan.
Namun, tepat sebelum mereka mencapai pintu itu, sebuah tangan pucat mencengkeram pergelangan kaki Sekar. Suster Lastri merangkak di lantai dengan kecepatan yang tidak masuk akal, seperti labah-labah manusia.
"Kau tidak bisa pergi! Kau sudah menandatangani kontraknya dengan darahmu!" teriak Suster itu.
Sekar terjatuh. Ia menatap pintu cahaya itu, lalu menatap Rendy yang mulai memudar.
"Selamatkan dirimu, Kar," bisik Rendy sebelum ia menghilang sepenuhnya menjadi butiran debu.
Ending yang Menggantung
Sekar terbangun dengan napas tersengal.
Ia berada di sebuah ruangan yang bersih, terang, dan berbau antiseptik yang segar. Suara monitor jantung berbunyi ritmis. Pip... pip... pip...
Seorang dokter pria paruh baya masuk dengan senyum ramah. "Tenang, Bu Sekar. Anda baru saja sadar dari koma selama tiga hari setelah kecelakaan itu. Anda beruntung bisa selamat."
Sekar menghela napas lega. Air mata menetes di pipinya. "Bayi saya... suami saya?"
Dokter itu terdiam sejenak, lalu menatap suster di sampingnya. "Suami Anda sedang menunggu di luar. Dan bayi Anda... dia sehat sekali. Suster, tolong bawakan bayinya ke sini."
Seorang perawat masuk membawa bayi yang dibedung kain merah muda. Sekar tersenyum, merasa semua mimpi buruk itu telah berakhir. Namun, saat perawat itu mendekat, Sekar menyadari sesuatu yang aneh.
Perawat itu berjalan dengan sedikit menyeret kakinya. Dan saat ia memberikan bayi itu ke pelukan Sekar, perawat itu berbisik sangat pelan, hanya bisa didengar oleh Sekar:
"Ibu ingat saya, kan? Maaf, tadi di gedung sebelah agak gelap, jadi kita pindah ke sini..."
Sekar membeku. Ia melihat ke arah papan nama di dada perawat itu. Di sana tertulis: Suster Lastri.
Sekar perlahan menurunkan pandangannya ke bayi di pelukannya. Bayi itu membuka matanya. Mata bayi itu tidak memiliki bagian putih, hanya dua bola hitam pekat yang dingin. Dan di sela-sela bedungnya, sehelai bunga kamboja yang layu jatuh ke pangkuan Sekar.
Di luar jendela, ia tidak melihat jalan raya kota yang sibuk. Ia melihat sebuah papan besar yang tertancap di tanah kosong penuh semak belukar:
"DI SINI AKAN DIBANGUN KEMBALI RS MEDIKA SETELAH 1 TAHUN TERBENGKALAI."
Lalu, monitor jantung di sampingnya tiba-tiba mengeluarkan bunyi panjang yang datar. Beeeeeeeeeeeeeep...
Dokter dan suster di ruangan itu tidak ada yang bergerak. Mereka semua berdiri diam, menatap Sekar dengan senyum yang sama. Senyum yang tidak pernah mencapai mata mereka.
"Jadi," bisik Suster Lastri sambil membelai rambut Sekar dengan tangan yang terasa sedingin es. "Mau mulai dari hari pertama lagi?"
---