Di sebuah gang sempit yang baunya selalu bercampur antara selokan mampet dan asap rokok murah, Nizam (7 tahun) adalah sebuah bayangan yang dipaksa nyata. Tubuhnya kecil, lebih mirip kerangka yang dibalut kulit pucat penuh memar keunguan. Matanya yang besar tidak lagi memancarkan binar bocah seumurannya; hanya ada ruang kosong yang dalam, tempat ketakutan mengendap seperti lumpur.
Semua bermula ketika ibunya, Rahma, memilih pergi ke Arab Saudi menjadi TKW. Rahma bukan tidak sayang, tapi ia melarikan diri dari kepalan tinju suaminya, bak pahlawan yang kalah sebelum berperang. Dia meninggalkan Nizam dengan janji-janji manis tentang mainan dan baju baru, tanpa menyadari bahwa dia baru saja melemparkan anak kandungnya ke dalam kandang monster.
"Ayah, lapar..." lirih Nizam suatu sore.
Jawaban yang diterima bukan sepiring nasi, melainkan sebuah tendangan sepatu bot kotor tepat di ulu hati. Farhan, ayahnya, adalah pria yang urat malunya sudah putus oleh alkohol dan judi. Bagi Farhan, Nizam bukan anak; Nizam adalah pengingat akan kegagalannya dan wajah Rahma yang ia benci.
"Makan tuh lantai! Ibu lo enak-enakan di sana, lo di sini cuma nyusahain gue!" bentak Farhan sambil menjambak rambut Nizam hingga bocah itu terjungkal.
Tak lama setelah cerai, Farhan membawa pulang wanita bernama Lastri. Wanita dengan riasan menor dan hati sekeras batu kali. Nizam mengira Lastri akan menjadi pelindung, namun Lastri justru menjadi algojo yang lebih kreatif. Lastri hanya peduli pada uang kiriman Rahma yang masuk ke rekening Farhan, dan tentu saja, dia sangat "mencintai" Farhan—atau lebih tepatnya, mencintai ego Farhan yang suka menguasai.
Penyiksaan itu menjadi rutinitas yang menjijikkan. Jika Farhan memukul dengan tangan, Lastri menggunakan benda-benda rumah tangga. Nizam pernah disundut rokok hanya karena tidak sengaja menumpahkan air minum Lastri. Dia pernah dikunci di kamar mandi yang gelap dan dingin selama dua hari tanpa makan, sementara di ruang tamu, Farhan dan Lastri tertawa menonton televisi sambil menyantap ayam goreng.
"Mas Farhan, lihat deh, anakmu ini malas sekali. Masa disuruh nyapu saja lambat. Pantas saja ibunya kabur, anaknya saja cacat mental begini," hasut Lastri sambil menginjak tangan kecil Nizam yang sedang berusaha memegang sapu.
Kemarahan Farhan tersulut. Dia menyeret Nizam ke dapur, mencelupkan wajah bocah itu ke dalam bak air hingga Nizam meronta-ronta kehabisan napas. Lastri berdiri di sana, bersandar di pintu, sambil mengikir kukunya. Dia tidak hanya membiarkan; dia menikmati pertunjukan itu.
Puncak kemuakan terjadi ketika Nizam secara tidak sengaja memergoki Farhan sedang berciuman dengan wanita lain di kamar saat Lastri pergi ke pasar. Dengan kepolosan yang fatal, Nizam memberitahu Lastri. Dia berharap Lastri akan marah pada ayahnya dan mereka akan berhenti menyiksanya.
Tapi dunia ini terlalu jahat bagi Nizam.
Lastri memang marah, tapi bukan kepada Farhan. Dia terlalu takut kehilangan sumber uangnya. Kemarahannya ia tumpahkan seluruhnya kepada Nizam. Dia menganggap Nizam adalah pembawa sial yang ingin menghancurkan hubungannya dengan Farhan.
"Ooh, jadi kamu mau jadi tukang adu? Mau jadi pahlawan buat ibu kandungmu yang pelacur itu?" teriak Lastri kalap.
Sore itu, Jakarta sedang mendung, tapi di dalam rumah itu, neraka pecah. Lastri mengambil ulekan batu dari dapur. Dia memukul tulang kering Nizam hingga terdengar suara *krek* yang memilukan. Nizam menjerit, memanggil ibunya yang ribuan mil jauhnya, memanggil Tuhan yang seolah sedang memalingkan wajah.
Farhan pulang dalam keadaan mabuk. Bukannya melerai, dia justru ikut emosi melihat istrinya menangis histeris (akibat manipulasi Lastri yang mengaku difitnah Nizam). Farhan mengambil ikat pinggang kulitnya. Dia mencambuk punggung kecil Nizam berkali-kali hingga baju kaos tipisnya robek dan menyatu dengan daging yang terbuka.
"Ampun, Yah... Sakit..." suara Nizam sudah hilang, tinggal sisa-sisa napas yang tersengal.
Gila karena cemburu dan amarah, Lastri mendorong kepala Nizam ke sudut meja jati yang tajam. Suara benturannya begitu keras. Darah segar menyembur, membasahi sajadah lusuh milik mendiang neneknya yang sering digunakan Nizam untuk sembunyi.
Nizam terjatuh. Matanya perlahan menutup. Tapi Farhan dan Lastri belum puas. Mereka menyiram tubuh bocah yang sudah tak berdaya itu dengan air es, menyuruhnya bangun dan "berhenti akting". Saat mereka menyadari Nizam tidak lagi bergerak dan napasnya hanya satu-satu seperti ikan yang sekarat di darat, barulah kepanikan palsu itu muncul.
"Bilang ke tetangga dia jatuh dari tangga! Awas kalau kamu macam-macam!" ancam Farhan pada Lastri.
Kini, Nizam terbaring di ruang ICU sebuah rumah sakit daerah. Kabel-kabel medis melilit tubuhnya yang ringkih. Dokter mengatakan ada pendarahan hebat di otak dan patah tulang di sekujur tubuh. Dia koma. Di luar ruangan, Farhan duduk berpura-pura menangis di depan wartawan dan polisi, sementara Lastri sibuk menelepon Rahma di Arab, meminta uang "biaya rumah sakit" yang nantinya akan mereka gunakan untuk menyewa pengacara atau melarikan diri.
Terasa muak dan mual melihat bagaimana dua manusia dewasa ini bisa makan dan tidur nyenyak setelah menghancurkan satu nyawa yang seharusnya mereka lindungi. Farhan yang pengecut dan Lastri yang iblis berhati manusia—mereka bukan sekadar pelaku KDRT. Mereka adalah predator yang layak membusuk di sel paling gelap, tanpa cahaya, tanpa ampunan.
Darah di atas sajadah lusuh itu menjadi saksi bisu. Nizam mungkin sedang tertidur dalam komanya, bermimpi tentang sebuah tempat di mana tidak ada ulekan batu, tidak ada ikat pinggang, dan di mana seorang ibu benar-benar pulang bukan untuk memberi uang, tapi untuk memeluknya dengan utuh.
---