Satya Purnama (38 tahun) adalah sebuah anomali di apartemen mewah itu. Di tengah riuhnya orang yang sibuk dengan healing dan self-reward, Satya adalah sosok yang "hening". Dia duda, tanpa anak, dan selalu terlihat rapi dengan kemeja flanel yang disetrika kaku. Wajahnya ramah, tipe pria yang akan menahan pintu lift untukmu atau membantu membawakan belanjaan tetangga yang keberatan. Semua orang menyukainya. Dia dianggap sebagai potret pria yang berhasil melewati duka ditinggal mati istrinya, Arini, lima tahun lalu.
Namun, Gathan, seorang mahasiswa semester akhir yang kamarnya tepat bersandar pada kamar utama Satya, mulai merasa ada yang tidak beres. Bukan karena suara hantu, tapi karena suara-suara yang terlalu manusiawi.
Setiap malam, sekitar pukul dua pagi, Gathan mendengar suara gesekan benda berat di lantai. Srek... srek... Lalu, suara Satya yang berbicara dengan nada yang sangat lembut, namun penuh tekanan intimidasi yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Ayo makan, Sayang. Kalau tidak dihabiskan, Ayah akan kecewa. Kamu tahu kan apa yang terjadi kalau Ayah kecewa?"
Masalahnya satu: Satya tidak punya anak.
---
Rasa penasaran Gathan memuncak saat ia melihat Satya membawa pulang tiga kotak besar mainan anak perempuan dan satu set gaun pesta ukuran tujuh tahun. Gathan mencoba berbasa-basi di lobi. "Wah, buat keponakan ya, Pak Satya?"
Satya menoleh. Senyumnya tidak berubah, tetap ramah, tapi matanya... matanya tetap sedingin es. "Bukan, Gathan. Ini untuk putriku. Dia baru saja ulang tahun."
Gathan tertegun. "Putri? Bukannya Pak Satya..."
"Dia ada di rumah sekarang. Dia tidak suka keluar. Kulitnya sensitif," potong Satya cepat, lalu masuk ke lift tanpa menoleh lagi.
Malam itu, Gathan tidak bisa tidur. Dia menempelkan telinganya ke dinding. Dia mendengar suara tangisan lirih. Bukan tangisan bayi, tapi tangisan anak kecil yang mulutnya seolah dibekap. Gathan tahu, ini bukan soal digital atau simulasi. Ini soal nyawa manusia.
Gathan memanfaatkan momen saat Satya pergi berbelanja untuk menyelinap. Sebagai anak muda yang nekat dan merasa pahlawan, dia memanjat balkon unitnya menuju balkon Satya. Pintu gesernya tidak terkunci.
Begitu masuk, bau yang menyengat langsung menyerang hidungnya. Bukan bau busuk mayat, tapi bau disinfektan yang sangat kuat, bercampur dengan aroma bedak bayi yang berlebihan hingga menyesakkan paru-paru.
Rumah itu terlihat normal, sampai Gathan sampai di depan pintu kamar utama yang digembok dari luar dengan rantai besi. Gathan mengambil obeng dari sakunya, berusaha mencongkel engselnya. Setelah sepuluh menit penuh keringat dingin, pintu itu terbuka.
Gathan menutup mulutnya agar tidak berteriak.
Di dalam kamar yang seluruh dindingnya dilapisi busa kedap suara, seorang anak perempuan sedang duduk di pojok ruangan. Dia memakai gaun pesta mewah yang kotor oleh bekas makanan. Rambutnya dikuncir dua dengan pita merah yang indah, tapi wajahnya pucat pasi. Kakinya diikat dengan rantai tipis ke kaki tempat tidur yang kokoh.
Di sekeliling ruangan itu, ada puluhan foto Arini, istri Satya yang sudah meninggal. Dan di samping anak itu, ada sebuah manekin seukuran orang dewasa yang dipasangi baju-baju milik mendiang Arini, lengkap dengan wig rambut panjang yang mirip dengan rambut istri Satya.
"Siapa kamu?" bisik anak itu dengan suara bergetar.
"Aku... aku tetangga sebelah. Aku akan menolongmu," jawab Gathan panik. "Namamu siapa?"
"Nama saya Alana. Ayah bilang nama saya Alana."
Gathan teringat berita lama. Lima tahun lalu, Arini meninggal saat sedang hamil tujuh bulan. Bayinya tidak selamat. Satya kehilangan segalanya. Ternyata, Satya tidak pernah sembuh. Dia menculik anak-anak yang memiliki kemiripan fisik dengan apa yang dia bayangkan sebagai "Alana" jika anaknya tumbuh besar.
Tiba-tiba, suara pintu depan terbuka. Klik.
Gathan membeku. Dia tidak punya waktu untuk keluar lewat balkon. Dia bersembunyi di bawah tempat tidur yang ditutupi sprei panjang.
Satya masuk ke kamar dengan langkah ringan. Dia membawa sepiring nasi dengan lauk ayam goreng. "Alana, lihat apa yang Ayah bawa? Tadi ada kakak di sebelah yang bertanya tentangmu. Ayah rasa dia terlalu ingin tahu. Kamu mau Ayah ajak dia makan malam bersama kita?"
Satya duduk di kursi kayu, tepat di depan manekin istrinya. Dia mulai menyuapi manekin itu seolah benda mati itu bisa mengunyah. "Tenang, Arini. Aku sudah menyiapkan tempat untuknya di gudang bawah. Dia tidak akan mengganggu keluarga kecil kita lagi."
Satya kemudian beralih ke anak itu. Dia mencengkeram rahang si anak dengan kasar agar mulutnya terbuka. "Makan. Jangan menangis. Anak pintar tidak menangis kalau ibunya sedang melihat."
Gathan melihat dari bawah tempat tidur. Di bawah sana, dia menemukan sesuatu yang lebih mengerikan: deretan botol plastik berisi potongan kuku, rambut, dan gigi-gigi kecil. Satya tidak hanya menculik satu anak. Dia mengumpulkan "bagian" dari setiap anak yang pernah dia culik sebelumnya sebagai kenang-kenangan jika mereka "rusak" atau mencoba melarikan diri.
Tiba-tiba, ponsel Gathan di saku celananya bergetar. Sebuah notifikasi TikTok masuk. Suaranya kecil, tapi di ruangan kedap itu, suara getaran itu terdengar seperti ledakan.
Satya berhenti menyuapi. Dia terdiam. Matanya melirik ke arah kolong tempat tidur.
"Alana... sepertinya kita punya tikus di bawah tempat tidurmu," ucap Satya dengan nada yang sangat tenang, tapi penuh dengan haus darah.
Satya berdiri, mengambil sebuah palu besar yang tergeletak di atas meja rias "istrinya". Dia berjalan pelan, menyeret palu itu di lantai. Srek... srek... Suara yang selama ini didengar Gathan.
"Keluar, Gathan. Aku tahu itu kamu. Jangan buat aku harus merusak karpet baru ini dengan darahmu."
Gathan merangkak keluar dengan gemetar. Dia berdiri, memegang kursi sebagai pelindung. "Om, ini gila! Om harus ke dokter! Anak ini bukan anak Om! Istri Om sudah meninggal!"
Satya tertawa. Tawa yang sangat tulus, seolah Gathan baru saja menceritakan lelucon terbaik. "Meninggal? Dia ada di sana, Gathan. Dia sedang melihatmu dengan benci karena kamu masuk tanpa izin ke kamar kami."
Satya mengayunkan palunya, menghantam kursi kayu itu hingga hancur berkeping-keping. Gathan mencoba lari ke arah pintu, tapi Satya lebih cepat. Dia menjambak rambut Gathan dan membenturkan kepalanya ke dinding busa. Gathan setengah sadar saat ia merasa tubuhnya diseret menuju sebuah lemari besar di sudut ruangan.
"Duda tanpa anak itu menyedihkan, bukan?" bisik Satya sambil mengunci tangan Gathan dengan borgol ke pipa besi di dalam lemari. "Makanya, aku memutuskan untuk tidak menjadi duda lagi. Dan kamu... kamu akan menjadi 'paman' yang baik untuk Alana. Setidaknya sampai aku bosan mendengarmu memohon."
Satya menutup pintu lemari, meninggalkan Gathan dalam kegelapan total.
---
Keesokan paginya, suasana apartemen tetap sama. Satya keluar dari unitnya dengan pakaian olahraga yang segar. Dia menyapa satpam di lobi dengan senyum lebar.
"Pagi, Pak Satya! Sehat benar ya," puji satpam itu.
"Harus, Pak. Tanggung jawab sebagai kepala keluarga itu besar," jawab Satya ramah.
Di unit 404, di balik dinding yang dilapisi busa, Gathan berteriak sampai tenggorokannya berdarah, tapi tak ada satu pun tetangga Gen Z yang mendengarnya. Mereka semua terlalu sibuk dengan dunia mereka sendiri, dengan *earphone* yang menyumbat telinga, dan dengan asumsi bahwa tetangga mereka yang duda itu adalah pria paling baik sedunia.
Sisi gelap Satya bukan karena dia seorang monster digital, tapi karena dia adalah pria yang sangat nyata, yang memilih untuk membusukkan dunia di sekitarnya demi menghidupkan kembali apa yang sudah mati di dalam kepalanya.
Dan bagi Alana—atau siapa pun nama aslinya—ulang tahunnya tidak akan pernah berakhir. Karena di unit 404, waktu berhenti, dan Satya adalah tuhan yang memegang kunci pintu neraka yang ia sebut surga.
---