Seno datang ke kafe seberang kantor imigrasi tiga puluh menit lebih awal. Ia sudah mengganti seragam birunya dengan kemeja flanel yang lengannya digulung sesiku—gaya yang menurut Rania dulu membuatnya terlihat seperti "mas-mas SCBD tapi versi rendah hati". Ia duduk di pojok, dekat jendela, berulang kali mengecek pantulan wajahnya di layar ponsel. Apakah garis rambutnya masih rapi? Apakah aromanya sudah cukup "aman"?
Tepat pukul tujuh malam, lonceng pintu kafe berdenting. Rania masuk dengan sweter *oversized* berwarna krem dan rambut yang dibiarkan tergerai. Ia melihat Seno, lalu berjalan menghampiri dengan senyum tipis yang sanggup membuat sistem pertahanan imigrasi mana pun jebol.
"Wah, disiplin banget ya. Bapak Petugas ini memang teladan," goda Rania sambil menarik kursi di depan Seno.
"Disiplin itu kunci pelayanan publik, Ran," jawab Seno, berusaha terlihat tenang padahal dadanya bergemuruh.
"Tadi di kantor kok kaku banget sih? Pak Seno Darmawan yang terhormat," Rania memesan kopi susu gula aren, lalu menopang dagu dengan kedua tangannya, menatap Seno lekat-lekat. "Sampai nanya Korea Utara segala. Kamu takut aku diculik sama tentara di sana ya?"
Seno tertawa kecil, rasa canggung mulai mencair. "Ya, secara prosedur aku harus memastikan keamanan warga negara. Secara pribadi... ya, aku cuma nggak mau kamu kenapa-napa."
"Halah, bilang aja gagal *move on*," potong Rania cepat. "Tadi aku lihat ya, paspor lamaku kamu buka-buka halamannya lama banget. Nyari stempel dari cowok lain?"
Seno terpojok. Memang benar, tadi siang ia sempat mengecek apakah ada stempel keberangkatan Rania bersama laki-laki lain dalam dua tahun terakhir. "Cuma verifikasi sejarah perjalanan, Rania. Itu standar operasional."
"Oh ya? Terus kenapa pas aku bilang tinggal di Myeongdong, muka kamu langsung berubah jadi asem gitu? Padahal itu kan kawasan turis."
Seno menghela napas, ia menyerah untuk berbohong. "Karena di Myeongdong ada kedai es krim panjang yang dulu kita pengen banget datengin tapi nggak jadi karena kita putus seminggu sebelumnya. Aku cuma... keinget aja."
Suasana mendadak hening. Rania menatap cangkir kopinya, mengaduk-aduknya perlahan. "Aku juga keinget, Sen. Makanya aku sengaja pilih hotel di sana. Aku mau... *self-healing* katanya anak zaman sekarang. Menyelesaikan urusan yang belum selesai sama memori."
Seno memberanikan diri meraih tangan Rania yang ada di atas meja. Kali ini tidak ada sengatan listrik statis seperti tadi siang, yang ada hanya kehangatan yang familiar. "Ran, soal paspor kamu... sebenarnya ada masalah sedikit."
Rania mendongak, matanya membulat panik. "Loh, kenapa? Fotonya beneran jelek ya? Atau ada data yang salah?"
"Nggak," Seno tersenyum misterius. "Data kamu aman. Tapi ada satu dokumen yang belum lengkap."
"Dokumen apa? Tadi kamu bilang sudah beres semua!"
Seno merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah kertas kecil berbentuk *sticky note* berwarna kuning yang sudah ia tulis sebelumnya. Ia menggeser kertas itu ke hadapan Rania. Di sana tertulis:
*Nama Pemohon: Rania*
*Tujuan: Masa Depan*
*Status: Perlu Pendamping (Wajib)*
Rania membaca tulisan itu, lalu menatap Seno dengan pandangan tak percaya. "Sen, ini... ini nggak ada di SOP imigrasi."
"Ini SOP khusus buat kamu," bisik Seno. "Aku nggak bisa kasih izin kamu pergi ke Korea sendirian kalau tujuannya cuma buat nangisin es krim di Myeongdong. Jadi, gimana kalau keberangkatan kamu ditunda sampai bulan depan? Aku sudah ajukan cuti. Kita urus visa berdua."
Rania terdiam sejenak, lalu tawa kecilnya pecah. "Kamu ini beneran penyalahgunaan wewenang ya, Seno Darmawan! Kamu mau nyusul aku cuma buat jadi *tour guide* atau mau jadi... apa?"
Seno menatap mata Rania dalam-dalam. "Mau jadi petugas yang memastikan paspor kamu nggak akan pernah kadaluwarsa karena kita bakal sering jalan-jalan bareng lagi. Mulai dari sekarang."
Rania mengambil pulpen dari tasnya, lalu menulis sesuatu di bawah tulisan Seno pada kertas kuning itu: *Approved. Stempel di sini.*
Ia menunjuk pipinya sendiri sambil nyengir jahil. Seno tertawa, wajahnya memerah, tapi ia tahu bahwa malam ini, ia telah berhasil memberikan "izin masuk" yang paling penting dalam hidupnya: izin untuk kembali menetap di hati Rania tanpa perlu takut dideportasi lagi.
Pembaca Gen Z di meja sebelah yang sedari tadi menguping tampak menahan pekikan gemas, sementara Seno dan Rania hanya bisa saling melempar senyum, menyadari bahwa birokrasi paling rumit ternyata bukanlah mengurus paspor, melainkan meyakinkan mantan untuk kembali percaya pada satu tujuan yang sama.