“Aku suka dia, Nay.”
Kalimat itu seperti biasa keluar dari mulutnya. Aku tersenyum, meski hatiku tidak pernah benar-benar siap mendengarnya.
“Siapa lagi sekarang?” tanyaku, pura-pura santai.
Dia tertawa kecil. “Anak kelas sebelah. Namanya Keira.”
Lagi-lagi bukan aku.
Sudah dua tahun aku jadi tempatnya bercerita. Dari gebetan A sampai gebetan Z.
Aku selalu ada.
“Teman terbaiknya.”
Status yang menyakitkan.
Sore itu kami duduk di bangku belakang sekolah.
“Aku mau nembak dia minggu depan,” katanya penuh semangat. “Kamu bantuin aku ya?” lanjutnya
Aku ingin berkata tidak. Ingin berteriak kalau aku capek, tapi yang keluar hanya satu kata.
“Iya.”
Hari dia menyatakan cinta pada Keira, aku berdiri jauh dari lapangan.
Aku melihat dia gugup.
Melihat Keira tersenyum.
Melihat mereka resmi jadian.
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar sendirian.
Malamnya dia mengirim pesan.
"Makasih ya udah dukung aku. Kamu sahabat terbaik."
Sahabat.
Aku menatap layar lama sebelum akhirnya membalas. "Iya. Selamat."
Seminggu kemudian, aku mulai menjauh.
Tidak lagi duduk di sampingnya.
Tidak lagi menunggu dia pulang.
Tidak lagi menjawab pesan secepat biasanya.
Dia mulai sadar.
“Kamu kenapa sih akhir-akhir ini?” tanyanya suatu hari.
“Kenapa?” aku balik bertanya.
“Kamu berubah.”
Aku tertawa kecil. “Aku cuma berhenti jadi cadangan.”
Wajahnya bingung.
“Maksud kamu?”
Aku menarik napas dalam. “Selama ini aku selalu ada saat kamu gagal. Saat kamu ditolak. Saat kamu patah hati. Tapi begitu kamu bahagia, aku cuma jadi penonton.”
Dia terdiam.
Dan untuk pertama kalinya, dia tidak punya jawaban.
Beberapa hari kemudian,
Aku melihatnya bertengkar dengan Keira.
Hubungan mereka tidak bertahan lama. Dan seperti biasa, Dia datang padaku.
“Nay, aku salah pilih ya?”
Aku menatapnya lama.
Dulu aku pasti langsung menghiburnya. Tapi kali ini tidak.
“Kamu tidak salah pilih,” jawabku pelan. “Kamu cuma tidak pernah benar-benar melihat.”
“Melihat apa?”
“Aku.”
Sunyi.
Matanya membesar sedikit.
“Aku selalu ada. Tapi kamu tidak pernah bertanya apa aku juga menyukaimu.”
Jantungku berdetak kencang.
“Aku capek jadi tempat pulang kalau kamu gagal.”
Air matanya mulai menggenang. “Kamu… suka aku?”
Aku tersenyum tipis. “Dulu.”
Satu kata itu terasa lebih menyakitkan daripada semuanya. Aku melangkah pergi sore itu.
Untuk pertama kalinya, aku memilih diriku sendiri. Dan saat dia memanggil namaku dari belakang,,,,
Aku tidak berhenti. Karena kadang, cinta pertama bukan tentang memiliki.
Tapi tentang belajar bahwa kamu pantas jadi pilihan utama.
Bukan cadangan.