Bagi Sarah di atas meja ini bukanlah wangi parfum mawar, melainkan bau amis kertas tagihan bank yang nyaris menyita rumah ibunya. Di usianya yang ke-26, ia harus menyerahkan tangannya untuk dijabat oleh seorang pria yang usianya sudah pantas menjadi kakeknya. Aki Lukman, begitu orang-orang memanggilnya. Seorang pria berusia 75 tahun yang jalannya sudah bungkuk, namun memiliki pundi-pundi kekayaan yang sanggup melunasi seluruh "dosa" riba almarhum ayah Sarah dalam sekali jentikan jari.
"Saya terima nikahnya Sarah binti Abdullah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Kalimat itu meluncur dari bibir Aki Lukman dengan suara bergetar namun mantap. Sarah menunduk, air matanya jatuh tepat di atas mukena putihnya. Ia merasa sedang menjual dirinya di bawah kedok ibadah. Teman-teman sebayanya sibuk mengunggah foto pernikahan estetik di Instagram, sementara dia sedang mempersiapkan diri untuk menjadi perawat di kamar pengantin yang lebih mirip apotek pribadi.
Malam pertama di rumah besar itu sunyi. Sarah menunggu dengan jantung berdebar, membayangkan segala skenario buruk tentang "kewajiban" istri. Namun, Aki Lukman hanya masuk ke kamar dengan mengenakan sarung dan peci. Ia tidak mendekati tempat tidur. Pria tua itu justru duduk di kursi kayu, menatap keluar jendela ke arah kegelapan.
"Sarah, kamu sudah shalat Isya?" tanyanya lembut.
"Sudah, Kek... eh, Mas," jawab Sarah kaku.
Aki Lukman terkekeh pelan. "Panggil Aki saja tidak apa-apa. Aku tahu matamu bicara bahwa ini bukan pernikahan impianmu. Kamu di sini untuk utang, dan aku di sini karena kesepian. Tapi ketahuilah, pernikahan dalam Islam bukan soal transaksi daging, tapi soal menjaga amanah."
Aki Lukman tidak menyentuh Sarah sedikit pun. Alih-alih menuntut hak biologis, setiap malam Aki justru membangunkan Sarah sepertiga malam untuk Tahajud berjamaah. Aki menghabiskan waktu berjam-jam membacakan tafsir Al-Qur’an tentang betapa beratnya beban riba yang ditinggalkan ayahnya. Aki bukan hanya pelunas utang bagi Sarah, dia seolah menjadi guru spiritual yang membersihkan hati Sarah dari kebencian pada keadaan.
Enam bulan berlalu. Sarah mulai menemukan kedamaian. Ia mulai menyayangi pria tua itu—bukan sebagai suami dalam arti romantis, tapi sebagai malaikat pelindung. Aki sangat dermawan, ia bahkan membiayai kuliah adik Sarah dan membelikan ibunya toko kelontong. Sarah merasa beruntung. "Tuhan memang punya cara unik untuk menyelamatkanku," pikirnya.
Hingga suatu hari, Aki Lukman jatuh sakit parah. Saat ia terbaring lemah di rumah sakit, ia memanggil Sarah dan memberinya sebuah kunci brankas kecil. "Buka ini jika aku sudah tidak ada," bisiknya.
Malam itu juga, Aki Lukman menghembuskan napas terakhirnya saat Sarah sedang membacakan surat Yasin di telinganya. Sarah hancur. Ia kehilangan sosok yang telah membawanya kembali pada Tuhan.
Setelah pemakaman, Sarah membuka brankas tersebut dengan tangan gemetar. Di dalamnya, tidak ada tumpukan uang atau perhiasan. Hanya ada sebuah buku catatan harian tua dan sebuah akta kelahiran asli yang sudah menguning.
Sarah membaca halaman pertama buku itu:
*"Untuk anakku, Abdullah. Maafkan ayah yang dulu meninggalkanmu karena obsesi harta. Aku kembali mencarimu, namun hanya menemukan nisanmu dan utang-utangmu yang mencekik anak perempuanmu—cucuku sendiri."*
Dunia Sarah runtuh seketika. Ia membolak-balik akta kelahiran itu. Aki Lukman ternyata adalah kakek kandung Sarah. Pria tua itu adalah ayah dari almarhum ayahnya yang telah menghilang puluhan tahun lalu setelah konflik besar keluarga.
Sarah membaca bagian akhir catatan itu yang ditulis sehari sebelum pernikahan mereka:
*"Hanya lewat pernikahan ini aku bisa melunasi utang ayahmu tanpa membuat ibumu curiga atau menolak bantuan dari pria yang pernah ia benci. Hanya dengan status 'suami', aku punya hak hukum penuh untuk memindahkan seluruh hartaku padamu tanpa dipotong pajak waris yang rumit atau diganggu gugat saudara jauh yang serakah. Sarah, cucuku, aku tidak pernah menikahimu untuk memilikimu. Aku menikahimu untuk 'menebus' dosa riba ayahmu dan dosa penelantaran yang kulakukan pada keluargaku dulu. Kini hartaku adalah maharmu, dan maharmu adalah tiket masa depanmu."*
Plot twist yang menohok itu membuat Sarah tersungkur di atas sajadah. Aki Lukman tidak pernah menginginkan istri muda; dia hanya seorang kakek yang ingin memastikan cucunya tidak hancur oleh beban masa lalu. Pernikahan itu bukanlah sebuah skandal, melainkan skenario penebusan dosa yang paling suci.
Sarah menyadari, bahwa selama ini dia tidak sedang melayani seorang suami, melainkan sedang dirangkul kembali oleh sisa-sisa akar keluarganya yang sempat hilang. Ia kaya raya sekarang, tapi bukan hartanya yang membuatnya merasa penuh, melainkan fakta bahwa Tuhan mengirimkan "Aki-aki" tersebut bukan untuk menguji imannya, tapi untuk menjawab doa-doa ibunya yang selama ini dirahasiakan.
---