Suasana kamar kecil itu terasa sesak meskipun jendela sudah terbuka lebar. Cahaya senja merembes masuk, menerangi tumpukan buku di mejanya yang penuh coretan. Rina masih duduk di kursinya, mata menatap ke arah luar jendela sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Sekarang sudah kelas 12, aku harus bisa membantu Ayah," bisiknya pelan.
Baru beberapa hari yang lalu, dia mendengar suara Ayah yang terdengar lesu saat berbicara dengan Ibu di ruang tamu. "Pengeluaran semakin besar, terutama untuk biaya sekolahnya Rina. Aku khawatir tidak akan cukup jika hanya mengandalkan gajiku ini."
Rina tidak sengaja mendengarnya, tapi kata-kata itu seperti menusuk hati. Dia tidak mau terus menjadi beban. Sehari-hari dia berpikir keras mencari cara untuk menghasilkan uang, sampai suatu hari matanya tertuju pada buku catatan yang selalu dia isi dengan tulisan-tulisan sehari-hari.
"Mungkin... aku bisa mencoba menulis untuk dijual?"
Tanpa berpikir panjang, dia mengambil pulpen dan mulai menuliskan cerita pertama yang ada di benaknya. Jari-jarinya bergerak cepat di atas kertas, mengubah setiap pemikiran dan perasaan menjadi kata-kata yang tersusun rapi. Meskipun tidak tahu apakah tulisannya akan diterima atau tidak, dia merasa ada harapan baru yang muncul dalam dirinya.
Di akhir lembaran kertas itu, dia menuliskan kalimat pendek dengan tangan yang sedikit gemetar: "Ini adalah awal dari segalanya."