Namaku Tasya. Aku punya dua saudara: kakak dan adik. Aku lahir dari keluarga yang kurang berkecukupan. Ayah dan ibuku bercerai sejak aku masih kecil. Aku hidup di sebuah rumah yang sudah sangat tua. Rumah itu seperti sebuah gubuk, tetapi aku bahagia karena di tempat kecil itu setidaknya aku bisa tidur.
Karena aku lahir dari keluarga miskin, tidak ada yang mau berteman denganku sejak kecil. Setiap kali aku datang ke sekolah, mereka membullyku. Mereka mengejekku dan memukuliku. Sering kali saat aku masuk ke dalam sekolah, mereka sengaja menabrakku. Mereka melempariku dengan batu kerikil, dan aku sudah biasa dengan itu semua.
Aku memiliki seorang kakak. Kakakku memiliki paras yang cantik. Dia sangat rapi. Apa pun yang dikenakannya, dia terlihat sangat cantik. Aku juga punya seorang adik. Adik laki-lakiku juga sangat rapi. Dia tidak berantakan. Apa pun yang mereka kenakan, mereka selalu terlihat cocok dengan pakaian yang mereka kenakan. Penampilan mereka sangat rapi. Namun, aku cukup berbeda dengan mereka. Aku orangnya sangat berantakan. Gayaku dan cara aku berpakaian sangat berbeda dengan cara aku berbicara. Aku adalah seorang introvert yang berantakan.
Suatu hari, saat aku melihat kakak dan adikku berpakaian dengan rapi, aku pun ingin mengikuti mereka. Aku mulai belajar untuk rapi. Setiap pagi, sebelum berangkat ke sekolah, aku mandi dengan bersih dan menyikat gigiku dengan bersih. Aku masih ingat, pada tahun 2013, kami anak-anak sekolah sering sekali memakai bedak bayi. Jadi, aku juga menaburkan bedak bayi itu di wajahku. Aku melihat diriku sekali di cermin, menatap seluruh tubuhku, dan aku sangat bangga saat itu karena aku sudah belajar menjadi anak yang rapi.
Namun, karena aku tumbuh dengan rasa kurang percaya diri, aku selalu menyimpan perkataan orang lain, dan kata-kata mereka membuatku merasa sangat terluka. Aku seperti hidup dari kata-kata mereka.
Pagi itu, aku pergi ke sekolah dengan bangga. Dengan baju rapi dan bersih yang kupakai, aku berjalan memasuki kelas dengan senyuman lebar. Salah satu murid datang menghampiriku, lalu ia berkata dengan nada mengejek, “Ih, si Tasya pagi-pagi sudah mandi saja. Padahal Tasya lebih cantik kelihatan tidak mandi daripada mandi, kelihatan jelek.”
Kata-kata itulah yang kudengar. Aku yang sudah rapi bukan mereka puji, justru mereka menjauh dariku.
Sejak mendengar kata-kata itu, aku merasa sedih. Aku pulang ke rumah dengan perasaan yang bercampur aduk. Aku melihat diriku di cermin, lalu berkata, “Apakah aku sejelek itu?”
Sebenarnya, aku tidak sejelek itu. Ya, aku memang memiliki kulit yang gelap dan berkilau, tetapi setidaknya aku sudah berpakaian rapi. Namun, karena aku hidup dari kata-kata orang lain, aku pun kembali menjadi diriku yang dulu. Aku tidak mau pergi ke sekolah dengan pakaian yang rapi, tidak mau pergi ke sekolah setelah mandi dengan bersih. Aku memakai baju yang acak-acakan, kurang bersih, dan menyisir rambutku apa adanya saja.
Satu kata-kata murid itu mengubah pola pikirku, mengubah caraku memandang dunia, dan mengubah caraku memandang diriku sendiri. Dulu, aku ingin belajar rapi karena aku merasa menjadi rapi akan membuat hidupku lebih baik dan aku tidak dibully lagi. Namun, setelah aku belajar rapi, dunia seolah tidak mengizinkannya. Dunia mengatakan bahwa aku jauh lebih baik, jauh lebih cantik saat aku tidak berpakaian rapi. Kata-kata murid itu membuatku hidup dalam pola pikir seperti itu.
Karena pola pikir itu, aku pun tumbuh menjadi anak yang berantakan. Aku tidak tahu cara berdandan, tidak tahu memilih baju. Bahkan, saat aku belajar untuk bermake up pun, ada di dalam diriku yang berkata, “Kamu tidak layak memakai itu. Kamu lebih cantik kalau kamu seperti ini. Kalau kamu pakai itu, berlebihan.”
Karena suara-suara itu, aku tidak mau belajar berdandan dan tidak mau berpakaian rapi, karena berpikir aku lebih cocok tanpa berdandan dan tanpa kerapian.
Suatu hari, kakakku datang. Dia menawariku sebuah baju yang indah. Dia memberikannya dengan penuh kasih sayang. Dia berkata, “Ini kamu pakai. Ini terlihat cocok untuk kamu.”
Aku mengambil baju itu, lalu memandangi baju tersebut. Baju itu sangat indah, tetapi terasa sangat jauh dan tidak cocok dengan tubuhku, dengan kulitku. Kulitku berwarna gelap, sedangkan baju yang diberikan oleh kakakku berwarna putih. Jadi, aku merasa tidak cocok memakai baju putih itu.
Akhirnya, aku menolak. Aku berkata, “Tidak usah, aku pakai baju yang ini saja. Aku lebih suka warna gelap daripada warna putih.”
Pola pikir yang rusak itu terbawa sampai aku tumbuh dewasa. Aku tumbuh menjadi anak yang tidak rapi, menjadi anak yang jorok, menjadi anak yang berantakan. Aku merasa aku jauh lebih cantik tanpa mendandani diriku sendiri.
Saat aku bekerja, atasanku selalu berkata, “Belajar rapi.” Saat aku bertemu teman, mereka juga berkata, “Pakai baju ini biar kelihatan rapi.” Saat aku berkumpul dengan orang lain, aku melihat mereka sangat rapi, sedangkan aku sangat berantakan.
Saat itu, ada perasaan yang tumbuh dalam hatiku. Ia berkata seperti ini, “Jangan menanam pola pikir lama itu. Kamu berhak melakukan apa pun yang kamu mau. Kamu tidak dihalangi, mau kamu pakai baju putih, baju gelap, bermake up, mandi dengan benar, itu urusan kamu, bukan urusan orang lain.”
Namun, pola pikir lama itu adalah tembok yang sangat besar yang menguasai diriku saat itu. Aku pun menjawab kata hatiku, “Tidak, aku lebih cocok seperti ini. Orang-orang lebih suka aku seperti ini.” Padahal, aku hanya takut dinilai.
Saat aku sudah berusia 23 tahun, aku mulai menyadari bahwa ternyata pola pikirku itu salah. Aku hidup dari kata-kata orang lain. Memang kenapa kalau aku memakai baju putih? Memang kenapa kalau aku terlihat jelek di mata mereka? Memang kenapa kalau aku suka berdandan? Memang kenapa kalau aku punya gaya yang khas? Seharusnya aku berpikir seperti itu sejak dulu.
Namun, karena aku hidup dari kata-kata orang lain, aku membawa pola pikir lama itu, kalimat yang menyakitkan itu, yang hanya beberapa kalimat yang pernah diucapkan. Dia hanya mengatakan bahwa aku terlihat jelek saat aku sudah mandi, tetapi itu terbawa sampai aku tumbuh dewasa. Karena pola pikir itu lahir sejak aku masih kecil, luka itu tertanam dalam hatiku, dan aku membawanya sampai dewasa. Tentu saja, kebiasaan itu susah diubah.
Namun, saat kita menyadarinya, membuang luka lama itu, dan mengubah pola pikir kita—mengubah pola pikirku—aku pun mau belajar untuk lebih berhati-hati, lebih percaya diri, dan lebih memikirkan diriku sendiri. Aku tidak mau hidup berdasarkan kata-kata orang lain.
Siapa pun aku, dari mana pun asalku, apa pun statusku, aku adalah ciptaan Tuhan yang berharga. Aku adalah lukisan yang Tuhan buat. Aku adalah karya terindah yang pernah Tuhan ciptakan.
Jadi, aku belajar bahwa yang memengaruhi hidupku menjadi seperti ini bukan karena aku berantakan, tetapi karena masih ada luka lama itu. Aku akan belajar untuk membuang luka lama tersebut. Aku akan belajar untuk hidup dengan rapi. Aku akan belajar menyukai apa yang aku suka, bukan apa yang orang lain suka.
Teman-teman, mungkin bukan hanya aku saja yang merasakan ini. Orang lain juga pasti ada yang merasakannya, mungkin di antara kalian juga. Aku berharap kalian juga akan sembuh dari luka-luka kalian dan hidup dengan percaya diri.
Ayo, teman-teman, kalian sangat berharga. Percayalah pada diri kalian. Jangan pernah hidup berdasarkan kata-kata orang lain.
Terima kasih sudah membaca.🥰