"Bodoh!!"
"Sekarang bukan saatnya untuk menyerah kepada masadepan"
Terdengar sayup suara yang tak begitu jelas. Suara itu telah menyatu dengan aliran air disekitar.
"Dasar gadis bodoh! Cepatlah bangkit!"
Demi mendengar sumber suara, aku memaksa jantung untuk kembali berdetak.
Sakit... Sesak... Itulah yang kurasakan.
Kelopak mata yang telah menutup kini dipaksa untuk terbuka kembali.
Mencari cahaya diantara kegelapan, yang nampak mustahil kudapatkan.
Namun tunggu sejenak...
Hey! Apa itu? Apakah itu cahaya harapan?
Jemariku menggapainya seolah mengharapkan bantuan.
Apakah kali ini ada harapan lagi?
Namun... Sepertinya sudah terlambat, kini kesadaran ku kembali memudar tanpa penyesalan.
Byurr!!
Riak air menyembur menggapai atmosfer menandakan ada sesuatu yang ikut tercebur disamudra itu.
Diantara kegelapan samudra, terlihat sebuah cahaya yang berusaha menggapai tubuh gadis yang tak berdaya.
Sejumlah sulur bercahaya mengejar tubuh itu seolah setiap detik adalah nyawa bagi ribuan makhluk hidup.
"Dasar gadis bodoh! Ia telah kehilangan keseimbangannya lagi"
Tubuh gadis itu telah digapai sulur cahaya.
"Kembali!"
Dalam sekejap tubuh gadis itu penuh cahaya dan menghilang diantara cahaya.
"Hey nak! Bangunlah"
"Bangkitlah"
"Hey nak! Bertahanlah"
"Dasar gadis bodoh! Cepatlah bangkit"
"Kami mengkhawatirkan mu"
"Bangkitlah bodoh!"
"Bangunlah!"
"Kami menyayangimu"
Kesadaran ku kembali pulih, sayup sayup terdengar suara yang begitu familiar ditelingaku.
Tubuhku kembali menghangat setelah merasakan dingin yang menyergap.
H²O keluar keluar dari mulut serta hidungku, yang diganti oleh O² yang mengisi paru paru.
Sakit sekali rasanya.
"Hey nak, syukurlah kau telah kembali"
Telingaku memang mendengar, namun mataku belum terbuka.
Aku mengerjap untuk menyesuaikan retina dengan sekitar.
Silau...
Apakah itu cahaya?
"Tak mengapa, lakukanlah secara perlahan"
Sebuah belaian lembut mendarat tepat diatas kepalaku.
Ini terasa ganjil...
Kutepis benda yang berada dikepalaku dengan bertindak siaga, meski menutup mata.
Karena aku terbiasa mengandalkan pendengaran untuk melihat diantara kegelapan.
Itulah takdir yang kujalani selama ini.
"Sekarang kamu aman nak, kamu telah tiba ditempat istirahat yang aman".
Sesuatu menggapai pundakku lantas mendekapkanku kepada sesuatu yang hangat.
"Lepaskan aku!"
Aku berteriak dan menyerang apapun didepan.
Namun aneh? Mengapa sosok itu tak melawan?
Sungguh! Ini benar-benar ganjil, sekiranya selama ini tempat yang kukira aman ternyata ancaman terbesar hingga membuatku hampir mati.
"Bukalah matamu, biarkan retina menyelesaikan tugasnya"
Bagaikan terhipnotis, kelopak mataku mulai terbuka.
Arrgghh silau!!
Pupil mataku mengecil menandakan perubahan yang signifikan, retina-ku belum siap menghadapinya.
Sakit... Sakit sekali
Kututup kedua mataku dengan telapak tangan guna meredup rasa nyeri ini.
"Huft, baiklah untuk sementara pakailah ini"
Kedua tanganku diturunkan dengan lembut.
Terasa sebuah kain menyentuh wajahku.
Menutup netra lantas mengikatnya dibelakang kepala.
"Untuk sekarang, kamu buta sementara hingga retina mulai beradaptasi dengan lingkungannya"
Kusentuh kain itu, terasa lembut dan hangat.
"Baiklah nak, kamu akan beristirahat hingga waktunya dirimu berkelana kembali"
"Aku akan melindungi, serta menemanimu saat ini"
"Karena selama ini kamu berjalan diatas air, tanpa pijakan kokoh, fondasi yang kuat, namun harus bertahan sementara air terus mengalir"
"Kamu bagaikan bunga lotus diantara sungai"
Aku merasakan kembali dekapan hangat itu namun...
Kali ini Aku tak melawan, entah mengapa dekapan ini terasa hangat dan nyaman.