Semua orang ingin tahu masa depan.
Raka mendapatkannya… tanpa pernah meminta.
Penglihatan pertama datang saat ia berusia delapan belas.
Dunia berhenti bergerak.
Udara membeku.
Dan di depannya muncul potongan kejadian — dosen menjatuhkan spidol, mahasiswa tertawa, listrik padam tiga detik kemudian.
Saat waktu kembali berjalan, semuanya terjadi persis sama.
Raka pikir itu kebetulan.
Sampai ia mulai melihat lebih jauh.
Besok.
Minggu depan.
Bulan depan.
---
Ia tidak langsung menjadi kaya.
Awalnya hanya hal kecil.
Menjawab soal ujian sebelum diajarkan.
Menjual motor sebelum harga jatuh.
Membeli saham sebelum melonjak.
Keberuntungan yang terlalu sempurna.
Dalam lima tahun, ia memiliki perusahaan sendiri.
Dalam sepuluh tahun, ia menjadi simbol kesuksesan.
Media menyebutnya visioner.
Ia hanya tersenyum.
Jika dunia adalah permainan kartu… ia sudah melihat semua kartu lawan.
---
Suatu malam, setelah rapat besar, penglihatan baru datang.
Namun kali ini berbeda.
Ia melihat angka.
Melayang di atas kepala orang-orang.
Angka kecil berwarna redup.
Awalnya ia mengabaikan.
Sampai ia melihat angka di atas sekretarisnya berubah.
3650.
Menjadi 3649.
Lalu 3648.
Turun setiap hari.
Ia mengira itu halusinasi.
Sampai penglihatannya menunjukkan masa depan lain—
pemakaman sekretaris itu… sepuluh tahun lebih cepat dari seharusnya.
Raka mulai memperhatikan.
Dan pola itu muncul.
Setiap kali ia menggunakan visinya untuk mengambil keputusan besar…
angka seseorang di sekitarnya berkurang.
Tidak banyak.
Kadang hanya satu hari.
Kadang satu minggu.
Namun selalu ada yang membayar.
---
Ia berhenti menggunakan kemampuannya selama beberapa hari.
Angka-angka itu berhenti berubah.
Tidak ada yang berkurang.
Dadanya terasa dingin.
Selama ini… semua keberhasilannya bukan gratis.
Ia hanya memindahkan waktu hidup orang lain… menjadi keberuntungan miliknya.
---
Raka mencoba mengabaikannya.
Terlalu banyak yang sudah ia bangun.
Terlalu banyak orang bergantung padanya.
Ia kembali melihat masa depan.
Dan bisnisnya kembali menang.
Namun angka di atas kepala orang-orang mulai jatuh lebih cepat.
Sampai suatu hari…
ia melihat angka di atas seseorang yang baru ia kenal.
Seorang perempuan bernama Hana.
Ia tertawa mudah, berbicara tanpa takut padanya seperti orang lain.
Angkanya kecil.
Sangat kecil.
120.
Raka membeku.
Seratus dua puluh hari.
---
Ia berhenti total menggunakan kemampuannya.
Menolak semua keputusan besar.
Perusahaannya mulai goyah.
Investor panik.
Media menyerang.
Namun angka Hana tetap turun.
119.
118.
117.
Ia sadar sesuatu yang lebih mengerikan—
harga itu sudah ditarik sejak lama.
Sejak ia pertama kali melihat masa depan yang membawanya bertemu Hana.
---
Hari ke-120 datang terlalu cepat.
Raka duduk di sampingnya di rumah sakit.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak melihat apa pun.
Tidak ada visi.
Tidak ada masa depan.
Hanya sekarang.
Hana tersenyum lemah.
“Kamu kelihatan takut.”
Ia menggenggam tangannya.
“Aku cuma… baru sadar waktu itu mahal.”
Ia ingin meminta maaf.
Namun bagaimana menjelaskan bahwa seluruh hidupnya dibangun dari potongan umur orang lain?
Monitor detak jantung berbunyi panjang.
Dan angka di atas kepalanya menghilang.
Untuk pertama kalinya…
Raka benar-benar buta terhadap masa depan.
---
Beberapa tahun kemudian, ia menjual semua perusahaannya.
Menghilang dari dunia bisnis.
Orang-orang berkata sang legenda jatuh.
Tidak ada yang tahu alasan sebenarnya.
Ia hanya hidup sederhana.
Tanpa melihat hari esok.
Karena ia akhirnya mengerti—
masa depan bukan sesuatu yang harus dimiliki.
Melainkan sesuatu yang harus dijalani.
Dan beberapa harga…
baru terasa ketika tidak ada waktu tersisa untuk membayarnya.
**— END —**