Aku menatap papan pengumuman di sekolah. Saat melihat papan pengumuman dari urutan paling bawah karna kebiasaan aku melihat dari bawah ke atas. Dan akhirnya, aku dapat melihat jika namaku tercantum di daftar juara kelas. Senyumku lebar, lega tapi hatiku berdebar.
“Selamat ya, Ra”
Suara itu datang dari samping. Aku menoleh.
Dia. Daffa.
Sejak SMP, aku selalu mengira dia hanya teman biasa. Diam, kalem, duduk di belakangku. Tidak pernah terlalu dekat, tapi selalu ada.
“Aku… aku senang melihat kamu dapat juara kelas,” katanya pelan. Wajahnya sedikit memerah.
Aku tersenyum canggung.
“Terima kasih, Daf…”
Tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya. Ada getaran yang aku baru perhatikan sekarang.
Sehari kemudian,
Aku menemukan catatan kecil di lokerku,
"Aku suka kamu sejak SMP. Tapi aku terlalu takut bilang."
Jantungku langsung berdetak kencang. Aku menatap sekeliling, mencari siapa yang menulisnya. Tidak ada orang. Hanya catatan itu. Aku menutup loker dengan tangan gemetar.
Hari-hari berikutnya,
Aku mulai memperhatikan hal-hal kecil.
Buku pelajaran yang selalu tertata rapi di mejaku, catatan jawaban PR yang misterius muncul.
Pesan singkat tanpa nama di telepon, “Jangan lupa makan siang ya :)”
Dan setiap kali aku menoleh, matanya selalu mengintip.
Aku tersenyum sendiri, merasa campur aduk, senang, gugup, penasaran.
Suatu sore,
Saat pulang, hujan deras turun. Aku berlari mencari tempat berteduh di bawah pohon besar. Tiba-tiba, seseorang menepuk bahuku.
“Rara…”
Aku menoleh. Basah kuyup, tapi wajahnya cerah.
“Maaf, aku terlambat…”
Dia memegang payung, tapi tetap membuatku basah. Aku ingin marah, tapi bibirku tersenyum sendiri.
“Kenapa Daf?” tanyaku, suara bergetar sedikit.
“Aku harus bilang… aku tidak bisa menunggu lagi.”
Matanya menatapku dalam-dalam.
“Aku suka sama kamu, Rara. Sejak SMP, dan aku tidak ingin menyesal.”
Aku terdiam, jantungku seperti berhenti beberapa detik.
“Aku juga… aku juga suka sama kamu,” jawabku akhirnya, suara pelan.
Hujan turun semakin deras, tapi aku tidak peduli.
Di bawah payung kecilnya, kami tertawa.
Untuk pertama kalinya, aku menyadari. Kadang cinta terbesar datang dari seseorang yang selalu ada… tapi jarang kita sadari. Dan aku bersumpah, tidak akan melepasnya lagi.