“Aku tidak pernah menikahimu.”
Kalimat itu keluar dari mulut suamiku dengan wajah datar.
Aku tertawa kecil, berpikir dia bercanda.
Tapi ibunya berdiri di samping tempat tidur rumah sakit, menatapku dengan tatapan puas.
“Suamimu hanya mengalami kecelakaan ringan, jadi ingatannya sedikit terganggu,” katanya lembut. Terlalu lembut.
Tiga hari lalu,
Suamiku dijemput ibunya dengan alasan makan malam keluarga.
Malam itu juga dia “kecelakaan”.
Sekarang,
Sebagian ingatannya hilang. Termasuk tentang pernikahan kami. Foto-foto kami tidak lagi ada di rumah keluarga mereka. Dokumen pernikahan entah bagaimana “hilang”.
Dan aku kembali menjadi orang asing.
-------
“Aku tidak ingat kamu,” katanya lagi.
Tanganku gemetar.
“Kita menikah dua tahun lalu.”
Dia hanya diam.
Ibunya menyentuh lengan suamiku, “Jangan dipaksa, Nak. Dia hanya wanita yang terobsesi padamu.”
Obsesi?
Aku yang dituduh.
Padahal sejak awal ibunya menolak kehadiranku. Karena aku bukan dari keluarga berada. Karena aku hanya guru biasa. Karena menurutnya, aku merusak masa depan anaknya.
Seminggu setelah itu,
Aku sadar aku hamil. Aku berdiri di kamar mandi kecil apartemen kami, memandangi dua garis merah.
Air mataku jatuh. Aku ingin memberitahunya. Tapi dia bahkan tidak mengingatku.
Ancaman mulai datang.
Pesan tanpa nama:
“Pergi sebelum semuanya terlambat.”
Aku tahu itu bukan dia.
Itu Ibunya.
Malam itu listrik apartemenku mati.
Aku baru saja hendak tidur ketika suara langkah terdengar dari ruang tamu. Jantungku hampir berhenti.
Seseorang berdiri di depan pintu kamar. Pria tinggi, berpakaian hitam. Tangannya memegang sesuatu yang berkilat.
Pisau.
“Aku tidak punya uang,” suaraku gemetar.
Dia tidak menjawab.
Ia melangkah mendekat. Aku memejamkan mata. Apa Ini akhirku, batinku
Tapi suara pria itu tiba-tiba berubah pelan.
“Kamu hamil?”
Aku membuka mata perlahan.
“A-apa?”
Dia menatap perutku.
“Aku tidak membunuh wanita hamil.”
Aku membeku.
“Kamu dikirim oleh siapa?” tanyaku pelan, walau sudah tahu jawabannya.
Dia tidak menjawab langsung.
“Tugas awalku memastikan kamu hilang dari hidup pria itu.”
Hilang.
Bukan sekadar mati.
Dia menurunkan pisaunya.
“Ibu mertua kamu sangat serius.”
Air mataku jatuh tanpa suara.
“Aku tidak melakukan apa-apa…”
Pria itu menatapku lama. Lalu berkata sesuatu yang tidak pernah kuduga.
“Kalau kamu tetap di sini, kamu benar-benar akan mati. Dan bayi itu juga.”
“Lalu apa yang harus kulakukan?”
Ia menarik napas panjang. “Aku akan membawamu pergi.”
Pagi itu,
Semua orang mengira aku sudah mati. Karena apartemenku terbakar. Mayat yang ditemukan hangus tak dikenali. Ibunya menangis di depan media. Berpura-pura berduka.
Suamiku hanya diam. Tatapannya kosong.
Aku bangun di sebuah desa terpencil jauh dari kota. Rumah kayu sederhana, udara dingin.
Pria itu berdiri di luar, menatap sawah.
“Kenapa kamu menolongku?” tanyaku.
Dia tidak langsung menjawab.
“Aku dibayar untuk membunuhmu. Tapi aku tidak dibayar untuk membunuh anak yang belum lahir.”
Aku menggenggam perutku pelan.
“Suamiku…”
“Ingatan bisa dihapus,” katanya datar. “Tapi perasaan tidak selalu ikut hilang.” lanjutnya
Aku menatapnya, “Maksudmu?”
Ia menoleh padaku.
“Waktu dia menyerahkan fotomu untuk menjadi target, tangannya gemetar.”
Jantungku berdetak cepat.
“Dia yang menyerahkan?”
“Tidak. Ibunya. Tapi dia melihatnya.”
Sunyi.
Jadi mungkin… di suatu tempat di dalam dirinya… masih ada aku.
Berbulan-bulan berlalu.
Aku melahirkan seorang bayi laki-laki.
Sementara itu,
Di kota, skandal besar pecah. Rumah sakit tempat suamiku dirawat diselidiki karena praktik ilegal manipulasi memori.
Seseorang membocorkan rekaman CCTV malam “kecelakaan”.
Ibunya terlihat berbicara dengan dokter sebelum prosedur. Kasusnya mencuat, bisnis keluarganya runtuh.
Suatu sore,
Pria itu memberiku ponsel.
“Ada seseorang ingin bicara.”
Di layar, wajah suamiku.
Matanya merah.
“Kalau kamu masih hidup… tolong beri aku satu kesempatan lagi.”
Air mataku jatuh.
Ia memegang dadanya, “Aku tidak ingat semuanya… tapi setiap kali melihat laut, aku merasa kehilangan seseorang.”
Laut.
Tempat pertama kali dia melamarku. Ia tidak sepenuhnya lupa. Ingatan bisa disuntik, bisa dihapus.
Tapi cinta yang tumbuh sendiri… Sulit dimatikan.
Aku mematikan panggilan itu perlahan.
Belum.
Belum saatnya.
Aku menatap anakku yang tertidur.
Kalau suatu hari aku kembali, itu bukan sebagai wanita yang dibuang. Tapi sebagai ibu dari anaknya.
Dan kali ini, tidak ada yang bisa memisahkan kami lagi.