judul “Tak Selalu Memiliki”.
Pada suatu hari, Arin sedang menghadiri acara pernikahan saudara dari pihak ibunya. Suasana ramai dan penuh kebahagiaan,Tiba-tiba ponsel arin berbunyi. Saat ia membuka layar, ada notifikasi dari seseorang bernama Arya.
Arya adalah teman dekat Bima, mantan kekasih Arin.
Pesan itu terasa seperti kode. Cara Arya bertanya, cara ia memberi perhatian, semuanya seakan menyiratkan sesuatu. Arin mencoba mengabaikannya, menganggap itu hanya perasaan sesaat.
Namun seiring berjalannya waktu, Arya semakin berani menunjukkan perasaannya. Hingga pada suatu hari, Arya mengatakan dengan sangat yakin,
“Arin, aku sudah lama mengagumimu, tapi aku tidak berani mengatakan karena sahabatku lebih dulu mengatakannya kepadamu,dan sekarang kamu dan shabatku udah tidak ada hubungan apa"lagi.Maukah kamu memulai hubungan denganku?”
Arin kaget dan bingung. Ia tidak menyangka Arya akan mengatakan itu secara langsung.
“Maaf, Arya. Kamu sahabat dekatnya Bima, dan aku juga baru putus dua bulan sama Bima. Aku mau sendiri dulu,” jawab Arin pelan.
Namun Arya tidak menyerah. Ia terus meyakinkan Arin. Tiga kali Arin menolak, tetapi Arya tetap bertahan dengan perasaannya. Sampai akhirnya, karena luluh oleh kesungguhan Arya, Arin berkata, “Iya… tapi dengan syarat hubungan kita privat.”
Arya setuju.
Hubungan itu berjalan diam-diam.
Suatu hari, Bima kembali mengajak Arin balikan untuk kedua kalinya. Namun Arin menolak dengan halus.
“Maaf, Bima. Aku nggak bisa.”
Bima yang belum mengetahui hubungan Arin dan Arya akhirnya tahu dari orang lain. Ia langsung menghubungi Arin dan mengatakan bahwa ia kecewa dan sakit hati karena sahabatnya sendiri memulai hubungan dengan mantan kekasihnya.
Arin semakin bingung harus gimana. Arin tidak mau menyakiti keduanya.
Bima adalah pria yang baik dan lembut, tetapi hubungan mereka dulu sering hancur karena Arin yang teledor dan pelupa. Hal kecil sering menjadi pertengkaran besar. Arin merasa lelah berantem terus. Ia juga merasa kasihan pada Bima, karena seolah-olah Bima tidak kuat menghadapi sifatnya. Dan disitualah hubungan mereka berakhir.
Hari demi hari, Arin mulai merasa bersalah. Hubungannya dengan Arya membuat persahabatan Arya dan Bima retak. Arya mulai dijauhi. Bima berubah menjadi lebih pendiam.
Suatu malam, Arin menghubungi arya.
“Arya maaf aku nggak mau jadi penyebab kamu dan Bima bermusuhan,” ucap Arin dengan rasa bibgung. “Aku merasa semua ini salah.”
Lalu Arya menjawab. “Aku tahu risikonya dari awal. Tapi aku nggak mau kehilangan kamu.”
Arin menjawab. “Tapi aku ngga mau jadi perusak hubungan persahabatan kalian.”
Akhirnya, dengan berat hati, Arin memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Arya. Bukan karena ia tidak punya rasa, tetapi karena ia sadar semuanya dimulai dalam keadaan yang belum selesai, arin juga menyadarinya bahwa arin sudah mulai sangat mencintai Arya, tapi disisi lain arin ga mau jadi penyebab hancurnya persahabatan mereka.
Arya menerima keputusan itu meski hatinya terluka.Tapi Arya berkata, "sebenrnya aku juga mau bilang ini sama kamu aku merasa bersalah sama Bima, tapi aku masih sayang dan cinta sama kamu.Arin pun sangat sedih mendengarnya hal itu, tapi lebih baik begini daripada harus merusah persahabatan Bima dan Arya.
Beberapa waktu kemudian, Arin juga berbicara jujur pada Bima. Ia meminta maaf atas kebingungan dan rasa sakit yang terjadi. Bima tidak langsung tersenyum, tetapi ia belajar menerima kenyataan.
Dari semua yang terjadi, Arin akhirnya mengerti satu hal penting:
Tidak semua cinta harus dimiliki.
Kadang, melepaskan adalah cara untuk memperbaiki keadaan dan menyelamatkan banyak hati.
💌 Pesan / Amanat:
Dalam cinta, jangan terburu-buru mengambil keputusan saat hati belum benar-benar siap. Kejujuran dan kedewasaan sangat penting agar tidak melukai orang lain. Tidak semua rasa harus dipertahankan, karena terkadang melepaskan adalah pilihan yang paling bijaksana.