Namaku K.
Bukan karena keren.
Tapi karena aku lupa namaku sendiri sejak hari Rabu yang terselip di antara Selasa dan Kamis.
Aku adalah seekor kukang.
Bukan kukang yang bisa kau temukan di hutan Kalimantan, bukan juga yang viral karena mukanya terlihat seperti sedang menyesali hidup. Aku kukang yang berbeda. Aku bekerja. Aku punya KTP. Aku punya mimpi. Walaupun gerakanku tetap lambat, bahkan saat mimpi itu hampir jatuh dari meja.
Pagi ini, matahari terbit terlalu cepat. Aku belum selesai menguap ketika dunia sudah setengah jalan menuju sore.
“Aneh,” gumamku pelan.Saking pelannya, gumaman itu baru selesai tiga jam kemudian.
Aku tinggal di pohon mangga yang tidak pernah berbuah mangga. Ia berbuah sendok. Jangan tanya kenapa. Bahkan pohonnya sendiri bingung. Di bawah pohon itu ada warung kopi milik seekor kucing bernama Sastro. Sastro tidak pernah mengeong. Ia hanya berbicara dalam bahasa matematika.
“2 + 2 = kamu terlambat lagi,” katanya setiap pagi. Aku tidak pernah tahu bagaimana menjawab itu. Jadi biasanya aku mengangguk selama 15 menit.Hari ini berbeda.Hari ini aku bangun dan mendapati tanganku bergerak cepat.
Cepat. Sangat cepat. Aku panik. Sebagai kukang, kecepatan adalah hal tabu. Itu seperti melihat ikan memakai sepatu. Tidak masuk akal. Tidak sopan. Sedikit menyinggung alam semesta. Aku mencoba memperlambat diri. Aku menatap dahan. Biasanya butuh lima menit hanya untuk berkedip. Tapi kali ini—sekedip.
Aku berkeringat. Lambat. Untungnya.
“Ada yang salah,” pikirku. Pikiran itu selesai dalam dua detik. Biasanya perlu dua hari.
Aku turun dari pohon , dengan kecepatan normal manusia. Sastro menatapku dengan mata menyipit seperti grafik yang menurun tajam.
“√(kamu),” katanya pelan.
“Apa artinya itu?” tanyaku.
“Artinya kamu setengah dirimu sendiri.”
Aku terdiam.Selama lima belas detik saja. Ini buruk.Aku menyadari sesuatu yang mengerikan: Dunia sedang melambat. Bukan aku yang cepat. Burung yang biasa terbang gesit kini melayang seperti balon kehilangan motivasi. Daun jatuh seolah sedang mempertimbangkan pilihan hidup. Bahkan angin bertiup sambil menguap. Aku satu-satunya yang normal.Dan itu terasa sangat salah.
Aku mencoba memanjat kembali ke pohon. Tapi pohon itu menolak. “Maaf,” kata pohon mangga-sendok itu. “Kami sedang istirahat dari gravitasi.”
“Apa?”
“Gravitasi lelah. Sudah ribuan tahun menarik semua orang ke bawah. Hari ini ia cuti.”
Aku melihat ke tanah. Batu melayang dua senti dari permukaan. Sastro juga sedikit mengambang, tapi tetap tenang, seperti ini bagian dari diskon akhir pekan.“Apa yang harus kulakukan?” tanyaku.
Sastro mengaduk kopi yang tidak pernah habis.“Biasanya kau lambat. Hari ini kau cepat. Dunia lambat. Keseimbangan terganggu. Seseorang harus kembali ke titik nol.”
“Titik nol di mana?”
“Di antara detik yang tidak pernah terjadi.”
Aku menatap jam di dinding warung. Jarumnya berhenti di angka 13. Padahal jam itu hanya sampai 12.
Aku berjalan ke arah sungai kecil di ujung desa. Airnya mengalir mundur. Ikan-ikan berjalan kaki di dasar sungai, tampak lelah. Di tengah sungai, ada cermin.Cermin itu tidak memantulkan wajahku. Ia memantulkan diriku… yang sangat lambat. Versi asli. Yang mengangkat tangan butuh waktu satu musim.
“Kamu harus kembali,” kata bayanganku dari dalam cermin.
“Bagaimana?"
“Lupakan terburu-buru.”
“Aku tidak pernah terburu-buru!”
“Justru itu. Hari ini kamu takut ketinggalan.”
Aku terdiam. Mungkin benar. Mungkin aku lelah dianggap lambat. Mungkin diam-diam aku ingin cepat seperti yang lain. Produktif. Efisien. Tidak jadi bahan lelucon kura-kura. Aku menutup mata.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…
Aku sengaja bergerak lebih lambat dari biasanya.Aku mengangkat tanganku… sangat pelan. Sangat. Pelan.
Dunia menahan napas. Air sungai berhenti mundur. Burung kembali mengepak. Gravitasi pulang dari cuti dengan wajah sedikit bersalah. Aku membuka mata. Semua kembali normal. Aku kembali menjadi kukang yang lambat.Sastro mengangguk.
“1 + 1 = seimbang.” Aku tersenyum. Butuh lima menit untuk selesai tersenyum itu. Hari kembali berjalan seperti biasa.Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa tertinggal.
Karena ternyata, menjadi lambat bukan berarti kalah. Kadang, dunia hanya butuh seseorang yang cukup pelan…untuk mengingatkan bahwa tidak semua hal harus dikejar. Aku kukang. Dan hari ini, aku tidak ingin menjadi cepat. Aku ingin menjadi cukup.