“Apa maksudmu kamu istriku?”
Gelas di tanganku hampir jatuh.
Kami berdiri di ruang tamu rumah yang sudah kutempati tiga tahun terakhir.
“Apa kamu bercanda Mas?” suaraku gemetar.
Dia menatapku dingin. “Saya tidak pernah menikah.”
Saya.
Bukan aku.
Bukan sayang.
Bukan nama panggilanku.
Saya.
Aku tertawa gugup.
“Berhenti bercanda Kamu Mas. Ini tidak lucu sama sekali.”
Dia mengambil ponselnya dan menunjukkan layar.
Status: Lajang.
Tidak ada foto pernikahan. Tidak ada foto kami.
Aku berlari ke kamar.
Lemari kosong.
Gaun pengantin tidak ada.
Album foto hilang.
Aku membuka laci meja rias.
Buku nikah.
Hilang.
Keesokan harinya,
Aku pergi ke kantor catatan sipil. Namaku tidak tercatat sebagai istrinya. Tanggal pernikahan kami… tidak pernah ada.
Aku menatap layar komputer petugas itu. “Ini, tidak mungkin…”
Petugas itu menggeleng, “Data Anda memang belum pernah menikah Nona.”
Aku keluar dengan kepala berputar. Kalau ini lelucon… terlalu sempurna.
Aku mulai menyelidiki sendiri.
Rekening bersama? Tidak ada.
Tagihan atas namaku? Tidak pernah ada.
Semua bukti hidupku bersamanya seperti dihapus bersih.
Satu-satunya hal yang tersisa, sebuah cincin di jariku. Cincin yang tidak bisa kulepas.
Malam itu aku kembali ke rumah.
Dia duduk santai di sofa.
“Kamu masih di sini?”
Nada suaranya seperti aku penyusup.
“Kenapa kamu melakukan ini ke Aku Mas?” tanyaku.
Dia tersenyum tipis, “Melakukan apa?”
Aku mendekat.
“Kita menikah, Aku tidak gila.”
Dia berdiri.
“Kalau kamu terus memaksa, saya akan panggil keamanan.”
Detik itu juga, pintu kamar tamu terbuka.
Seorang wanita keluar, mengenakan piyama.
Menggosok matanya.
“Mas… siapa dia?”
Darahku terasa membeku.
Mas.
Wanita itu berjalan mendekat dan menggenggam lengannya.
“Kamu kenal dia Mas?”
Dia menatapku tanpa emosi.
“Tidak.”
Tidak.
Satu kata yang menghancurkan tiga tahun hidupku.
Aku keluar dari rumah itu malam itu juga.
Bukan karena aku kalah, tapi karena aku mulai mengerti.
Ini bukan soal lupa.
Ini penghapusan.
Dan hanya ada satu orang yang punya akses, kekuasaan, dan kecerdasan untuk melakukannya.
Dia.
Tiga minggu kemudian,
Aku menemukan sesuatu. Sebuah email lama yang belum sempat terhapus.
Subjek: Proyek Reset.
Pengirim: Suamiku.
Isi pesan hanya satu kalimat.
“Jika dia tahu terlalu banyak, kita jalankan rencana B.”
Lampiran: kontrak kerja.
Namaku ada di sana.
Tapi bukan sebagai istri.
Sebagai… pasien.
Aku membaca ulang.
“Program Terapi Identitas Eksperimental.”
Tujuannya: membentuk kepribadian baru melalui sugesti, manipulasi lingkungan, dan kontrol memori.
Tanganku gemetar.
Jadi selama ini, bukan dia yang menghapusku.
Aku yang ditanamkan.
Aku tidak pernah benar-benar menjadi istrinya.
Aku adalah bagian dari eksperimen.
Wanita itu?
Istri aslinya.
Aku?
Subjek uji coba yang dibuat percaya bahwa aku menikah dengannya.
Air mataku jatuh tanpa suara.
Semua kenangan manis.
Semua janji.
Semua pelukan.
Direkayasa.
___________
Malam itu aku kembali.
Bukan untuk memohon.
Tapi untuk mengakhiri.
Dia terkejut melihatku berdiri di depan pintu.
“Kamu lagi, ngapain kesini?”
Aku menatapnya tenang.
“Aku sudah ingat.”
Wajahnya menegang.
Wanita itu muncul di belakangnya.
“Kita harus hentikan ini,” kataku pelan. “Atau aku akan membocorkan program kalian.”
Dia tersenyum tipis.
“Kamu pikir orang akan percaya padamu? Kamu hanya pasien dengan gangguan identitas.”
Aku tersenyum balik.
“Tidak. Tapi media akan percaya dokumen asli yang sudah kukirim satu jam lalu.”
Wajahnya berubah.
“Apa?”
“Aku mungkin eksperimenmu,” lanjutku pelan, “tapi kamu lupa satu hal.”
Aku mendekat.
“Kamu mengajarkanku berpikir seperti kamu.”
Sirene terdengar di kejauhan.
Bukan polisi.
Wartawan.
Aku sudah kirim semuanya, mulai dari Kontrak. Email. Rekaman suara.
Dia membeku.
Untuk pertama kalinya, ekspresinya retak.
“Kamu tidak mungkin—”
“Aku mungkin bukan istrimu,” potongku, “tapi aku bukan bonekamu lagi.”
Lampu kamera mulai menyala dari luar. Skandal besar akan meledak besok pagi.
Dan kali ini, yang terhapus bukan lagi hidupku. Tapi reputasinya.
——————————
Kadang misteri terbesar bukan siapa pelakunya. Tapi siapa sebenarnya dirimu.
Dan malam itu… Aku akhirnya memilih menjadi diriku sendiri.