Polisi datang pukul 02.17 dini hari.
Aku masih berlutut di lantai ruang tamu ketika mereka memborgolku.
“Pak, Istri Anda sudah meninggal.”
Aku menatap tubuhnya yang terbujur kaku. Pisau dapur masih tertancap di dadanya. Darah membasahi karpet putih yang baru kami beli minggu lalu.
“Aku tidak membunuhnya,” kataku pelan.
Detektif itu menatapku tanpa ekspresi. “Sidik jari Anda ada di gagang pisau.”
Tentu saja ada,itu pisau di rumahku. CCTV mati tepat satu jam sebelum kejadian, tetangga mendengar kami bertengkar.
Motifnya jelas, asuransi jiwa atas namanya baru aktif dua bulan lalu.
Kasus yang sempurna.
Terlalu sempurna.
————————
Tiga bulan sebelumnya.
“Aku takut Mas,” bisiknya malam itu.
Aku memeluknya.
“Takut apa Sayang?”
“Dia kembali Mas.”
Dia.
Mantan tunangannya. Seorang pengusaha yang terkenal licik dan obsesif.
“Aku sudah menikah,” katanya waktu itu. “Dia tidak mungkin beranikan?.”
Aku salah.
Ancaman mulai datang.
Pesan tanpa nama.
Foto-foto rumah kami.
Seseorang mengawasi.
Kami melapor, tapi tidak ada bukti cukup.
Lalu suatu malam dia berkata, “Kalau sesuatu terjadi padaku… jangan percaya siapa pun.”
Termasuk kamu? Aku hampir bertanya.
__________
Kembali ke ruang interogasi.
“Kenapa Anda menaikkan asuransi istrinya?” tanya detektif.
“Karena dia takut sesuatu terjadi padanya.”
“Dan Anda pikir membunuhnya solusi?” Aku hanya tersenyum tipis.
“Saya pikir Anda menyelidiki dengan fakta, bukan asumsi.”
Dia menggeser sebuah foto ke depanku. Rekaman CCTV parkiran minimarket dua blok dari rumah kami. Seorang pria turun dari mobil hitam.
Wajahnya familiar.
Mantan tunangan Istriku.
Detektif menghela napas. “Kami menemukan rekaman ini pagi tadi.”
Aku menatapnya tenang.
“Dan?”
“Pria itu masuk ke area rumah Anda 40 menit sebelum kematian.”
Aku bersandar. “Jadi saya bebas?”
Detektif itu menatapku lama.
“Belum.” Ia mencondongkan tubuhnya. “Karena ada satu hal yang aneh.”
Jantungku berdetak stabil.
“Apa?”
“Istri Anda sudah meninggal sepuluh menit sebelum pria itu masuk.”
Sunyi.
Ia menatapku tajam. “Jadi siapa yang membunuhnya?”
Aku tersenyum perlahan.
“Kamu.”
Detektif itu membeku.
Lalu suara langkah kaki terdengar dari belakang. Dan seseorang masuk ke ruangan.
Istriku.
Hidup.
Detektif berdiri kaget.
“Bagaimana mungkin—?!”
Aku berdiri perlahan, membuka borgol yang sebenarnya tidak terkunci sepenuhnya.
“Karena tidak ada yang mati.”
Tubuh yang ditemukan malam itu bukan istriku. Itu manekin silikon realistis, dibuat oleh tim khusus. Darahnya? Darah hewan dari laboratorium. Pisau? Sudah disiapkan.
Semua ini jebakan.
Istriku berjalan mendekat.
Wajahnya dingin. “Mantan tunanganku tidak pernah berhenti menguntitku,” katanya. “Dan hukum tidak bisa menyentuhnya tanpa bukti.”
Aku melanjutkan.
“Jadi kami menciptakan motif yang membuatnya masuk perangkap. Dia yakin aku membunuh istriku. Dan seperti biasa, dia datang untuk memastikan.”
Detektif menatap kami tidak percaya. “Kalian mempertaruhkan hukum?”
Istriku tersenyum tipis. “Tidak. Kami memberi kalian bukti.”
Polisi lain masuk tergesa-gesa.
“Pak! Kami menemukan rekaman baru. Pria itu mencoba membakar bukti di rumah korban setelah masuk!”
Detektif menatapku.Kali ini bukan dengan kecurigaan. Tapi dengan pengakuan.
“Kalian merencanakannya sejak awal?”
Aku menggenggam tangan istriku. “Dia pikir dia memburu kami.”
Istriku menatap lurus ke depan.
“Padahal sejak awal… kami yang memburunya.”
————————
Seminggu kemudian,
Pria itu resmi ditahan atas percobaan pembunuhan dan penguntitan.
Kasusku ditutup.
Publik percaya aku hampir jadi pembunuh. Mereka tidak pernah tahu betapa tipisnya garis antara korban dan perencana.
Malam itu,
Istriku menatapku di balkon.
“Kamu tidak takut semua ini gagal Mas?”
Aku tersenyum kecil.
“Takut.”
“Lalu kenapa tetap melakukannya?”
Aku mendekat.
“Karena jika aku harus memilih antara menjadi tersangka… atau kehilanganmu…”
Aku menatap kota yang berkilau di bawah.
“Aku akan menjadi monster dalam cerita mereka.”
Asal kamu tetap hidup.
Dan di dunia ini. Terkadang, untuk menangkap predator… Kamu harus terlihat seperti mangsanya.