Di jalanan kota yang ramai, ada seorang tukang becak bernama Pak Soleh yang selalu berjualan di sudut jalan dekat pasar. Ia berbeda dengan tukang becak lain—selain mengantar penumpang, ia suka bercerita tentang mimpi-mimpi yang ia lihat setiap malam. Banyak orang menganggapnya aneh, tapi ada sebagian yang senang dengar cerita-ceritanya saat sedang dalam perjalanan.
Suatu pagi yang hujan, seorang wanita muda dengan wajah pucat datang dan meminta diantar ke sebuah rumah tua di pinggiran kota. Sepanjang perjalanan, wanita itu tidak berkata apa-apa, hanya menatap jalanan dengan ekspresi kosong. Ketika mereka sampai di rumah tujuan, wanita itu hanya memberikan uang yang cukup banyak dan berkata, "Besok malam, datang ke sini lagi ya. Aku akan memberimu sesuatu yang penting."
Pak Soleh merasa heran tapi tetap menyetujui. Keesokan malam, ia datang ke rumah itu seperti yang disepakati. Rumahnya sunyi dan gelap, tapi pintu sudah terbuka lebar. Ketika ia masuk, wanita itu sudah menunggu di ruang tamu dengan secangkir teh hangat.
"Aku bernama Lila," ujarnya dengan suara lembut. "Saya punya kemampuan untuk melihat masa depan seseorang melalui mimpi mereka. Dan dari mimpi-mimpi yang kamu ceritakan setiap hari, aku tahu bahwa kamu punya masa lalu yang menyakitkan."
Pak Soleh terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangkat kepalanya. Ia memang pernah memiliki keluarga bahagia—istri dan dua anak kecil. Namun kecelakaan lalu lintas beberapa tahun yang lalu membuatnya kehilangan mereka semua. Sejak itu, ia memilih menjadi tukang becak dan menggunakan cerita mimpi sebagai cara untuk melupakan rasa sakitnya.
"Kamu selalu melihat mimpi tentang orang-orang yang sedang dalam kesusahan, bukan?" tanya Lila. "Itu karena kamu punya hati yang lembut dan ingin membantu mereka. Aku ingin memberimu kesempatan untuk membuat mimpi itu menjadi kenyataan."
Lila memberikan sebuah batu kecil yang bersinar dengan cahaya keperakan. "Setiap kali kamu melihat seseorang yang sedang kesusahan, pegang batu ini dan berpikir tentang cara untuk membantunya. Batu ini akan membantu kamu menemukan jalan yang benar."
Pak Soleh menerima batu itu dengan hati-hati. Sejak itu, ia mulai melihat dengan lebih jelas orang-orang di sekitarnya. Ia membantu seorang ibu tunggal yang tidak punya uang untuk membayar sekolah anaknya dengan mengumpulkan sumbangan dari penumpangnya. Ia juga membantu seorang pemuda yang tersesat jalan hidupnya menemukan pekerjaan di sebuah bengkel dekat pasar.
Setiap kali ia berhasil membantu seseorang, batu itu akan bersinar lebih terang. Namun seiring waktu, Pak Soleh merasa bahwa batu itu mulai menjadi lebih berat di tangannya. Ia merasa seperti harus terus membantu orang lain bahkan ketika dirinya sendiri sudah merasa lelah dan capek.
Suatu malam, ia kembali ke rumah Lila untuk memberitahukan hal itu. Namun ketika ia sampai di sana, rumah itu sudah kosong dan penuh debu—seolah-olah sudah tidak ada yang tinggal di sana selama bertahun-tahun. Di meja tamu, ada sebuah surat yang tertinggal:
"Pak Soleh, batu itu hanya alat untuk membantumu melihat bahwa kamu punya kekuatan untuk membantu orang lain. Tapi ingat, kamu juga harus merawat dirimu sendiri. Cinta dan perhatianmu adalah anugerah terbesar, bukan batu ini. Sekarang waktunya kamu harus melanjutkan perjalananmu dengan kekuatanmu sendiri."
Pak Soleh merasakan batu di tangannya menjadi semakin ringan hingga akhirnya menghilang sama sekali. Ia keluar dari rumah itu dengan hati yang lebih tenang. Ia tidak lagi membutuhkan batu untuk membantu orang lain—karena ia sudah tahu bahwa kekuatan itu selalu ada di dalam dirinya.
Namun beberapa bulan kemudian, ketika kota dilanda wabah penyakit yang membuat banyak orang kesusahan, Pak Soleh jatuh sakit karena terlalu sering membantu orang lain tanpa memperhatikan dirinya sendiri. Saat ia berbaring lemah di rumah sakit, banyak orang yang datang mengunjunginya—semua orang yang pernah ia bantu. Mereka membawa makanan, cerita, dan doa untuknya.
Pak Soleh tersenyum lembut saat melihat mereka. Ia tahu bahwa meskipun ia mungkin tidak akan sembuh lagi, ia telah hidup dengan arti yang benar—memberikan cinta dan bantuan kepada orang lain. Ketika mata terakhirnya tertutup, ada senyum damai di wajahnya, dan semua orang yang ada di sana tahu bahwa tukang becak yang melihat mimpi itu telah menemukan kedamaian yang dicarinya.