Sore itu, langit Jakarta tampak seperti kanvas yang tumpah cat abu-abunya. Gerimis tipis mulai turun, membawa aroma aspal basah yang khas. Di sudut pangkalan ojek yang bersahaja, Pak bakri duduk menekur. Jaket hijaunya sudah pudar, warnanya tak lagi cerah, persis seperti harapan-harapan yang kadang terasa kusam digerus beban harian.
Pak Bakri adalah laki-laki biasa. Sangat biasa. Tak ada yang istimewa dari perawakannya yang mulai membungkuk, atau garis-garis di wajahnya yang menceritakan betapa kerasnya aspal ibu kota memperlakukannya. Namun, di balik dada yang sering sesak oleh polusi itu, tersimpan sebuah hati yang luasnya melebihi samudera.
"Belum pulang, Pak?" tegur kawan seprofesinya.
Pak Bakri tersenyum, tipe senyum yang teduh, yang membuat orang di sekitarnya merasa tenang. "Satu tarikan lagi, Man. Buat beli obat batuk si Bungsu. Kasihan, semalam tidurnya tidak nyenyak."
Laki-laki itu kembali menatap layar ponselnya yang retak di pojok kanan. Sebuah pesanan masuk. Titik jemputnya di sebuah mal mewah, tujuannya ke pinggiran kota yang cukup jauh. Pak Bakri segera memakai helmnya, merapikan masker, dan meluncur membelah kemacetan.
Penumpangnya adalah seorang pemuda necis, wajahnya ditekuk muram, telinganya disumpal earphone. Sepanjang perjalanan, pemuda itu tak henti menggerutu tentang macet, tentang atasannya yang galak, dan tentang hidupnya yang ia rasa paling malang sedunia.
Pak Bakri hanya diam. Ia menyetir dengan hati-hati, memastikan penumpangnya tak terkena cipratan air genangan. Di kepalanya, ia tak memikirkan keluhan pemuda itu. Ia justru sedang menghitung-hitung: Tarif ini cukup untuk obat, sisa sedikit untuk beli telur dua butir, sisanya untuk tabungan bayar kontrakan yang sudah menunggak seminggu.
"Pak, pelan sedikit! Jalanan licin!" bentak si pemuda saat motor Pak Bakri sedikit goyang terkena lubang.
"Maaf, Mas. Maaf sekali," sahut Pak Bakri lembut. Tak ada nada marah. Baginya, setiap orang punya beban masing-masing, dan mungkin pemuda ini sedang membawa beban yang berat di pundaknya.
Sesampainya di tujuan, si pemuda menyodorkan uang pas, lalu bergegas pergi tanpa ucapan terima kasih. Pak Bakri hanya mengangguk kecil, menatap punggung pemuda itu dengan tatapan seorang ayah. Ia kemudian merogoh saku jaketnya, mencari secarik kertas kecil yang selalu ia bawa.
Kertas itu berisi tulisan tangan istrinya: "Hati-hati di jalan, Pak. Kami menunggu di rumah dengan doa."
Air mata Pak Bakri hampir luruh. Sederhana sekali bahagianya. Ia tidak butuh mobil mewah seperti yang ia lihat di parkiran mal tadi. Ia tidak butuh jam tangan seharga motornya. Ia hanya butuh kekuatan untuk terus menarik gas, demi tawa anak-anaknya saat ia pulang membawa kresek berisi roti murah.
Tiba-tiba, ia melihat sesuatu di aspal. Sebuah dompet kulit berwarna cokelat. Milik penumpangnya tadi. Pak Bakri terdiam. Jika ia buka dompet itu, mungkin ada uang jutaan rupiah di dalamnya. Cukup untuk melunasi kontrakan, cukup untuk membeli baju baru buat istri, bahkan cukup untuk memperbaiki motornya yang sudah sering mogok.
Setan membisikkan kenyamanan. Malaikat membisikkan kejujuran.
Pak Bakri menarik napas panjang. Ia memutar balik motornya. Ia mencari alamat yang ada di kartu identitas di dalam dompet itu. Perlu waktu tiga puluh menit memutar jalanan becek untuk menemukan rumah si pemuda tadi.
Saat si pemuda membuka pagar, wajahnya pucat pasi. Ia sedang kebingungan mencari dompetnya. Begitu melihat Pak Bakri berdiri di depan gerbang dengan jaket basah kuyup, ia tertegun.
"Ini, Mas. Jatuh di depan tadi," Pak Bakri menyodorkan dompet itu. Masih utuh. Tak satu rupiah pun bergeser.
Si pemuda menerima dompetnya dengan tangan gemetar. Ia menatap Pak Bakri, dari ujung helm hingga sepatu kets yang lubang di bagian depan. "Bapak... kenapa balik lagi? Bapak kan bisa ambil ini semua."
Pak Bakri tersenyum lagi. Senyum yang sama. "Mas, uang di dalam sana memang bisa membelikan saya motor baru. Tapi kejujuran ini, hanya bisa saya beli dengan ketenangan hati saat shalat malam nanti. Saya ingin pulang ke rumah dengan tangan yang bersih untuk membelai kepala anak saya."
Pemuda itu terdiam seribu bahasa. Sesuatu yang keras di hatinya tiba-tiba luruh. Ia yang merasa paling malang, baru saja ditampar oleh kemuliaan seorang laki-laki yang ia anggap "biasa-biasa saja".
Malam itu, Pak Bakri pulang dengan membawa sebotol obat batuk dan dua butir telur. Istrinya menyambut di pintu dengan hangat. Tak ada kemewahan di meja makan mereka, hanya ada rasa syukur yang mengepul bersama uap nasi panas.
Di rumah mewah di seberang sana, si pemuda necis terduduk di kamarnya, merenungi makna kebahagiaan yang sebenarnya. Sementara di rumah petak mungilnya, Pak Bakri tidur dengan sangat nyenyak. Ia adalah orang biasa, dengan pekerjaan biasa, tapi ia memiliki kekayaan yang tak akan pernah bisa dihitung oleh kalkulator manapun di dunia ini: Ikhlas.