Di tahun 2026, kematian bukan lagi misteri, melainkan komoditas. Sebuah aplikasi bernama Lifeline memungkinkan manusia melihat sisa umur mereka dalam bentuk angka digital di pergelangan tangan kiri. Lebih gila lagi, umur itu bisa ditransfer, dijual, atau dilelang lewat fitur "Keranjang Kuning".
Arka adalah pemuda Gen Z yang hidupnya hancur karena judi online dan gaya hidup flexing yang dipaksakan. Di pergelangan tangannya, angka itu berkedip merah: 00 Thn : 02 Bln : 12 Hr. Arka akan mati dua bulan lagi karena sirosis hati yang parah.
"Gue butuh asupan umur," gumam Arka sambil rebahan di kamar kosnya yang pengap. Dia membuka aplikasi Lifeline, mencari penjual umur dengan harga miring. Tapi saldo rekeningnya kosong melompong.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul.
[Transfer Masuk: +10 Tahun. Pengirim: "Rumah".]
Arka terlonjak. Angka di tangannya berubah menjadi 10 tahun lebih dua bulan. Dia langsung menelepon ibunya di kampung. Ibunya, seorang janda pemetik teh yang bicaranya selalu lambat dan penuh jeda.
"Bu, Ibu ngapain?! Ibu barusan transfer umur ke Arka?" suara Arka meninggi, campur aduk antara kaget dan merasa bersalah.
Di seberang telepon, suara batuk kering terdengar. "Ibu nggak butuh lama-lama di sini, Le. Ibu sudah lihat kamu lahir, sudah lihat kamu besar. Ibu cuma pengen kamu punya waktu buat... benerin semuanya."
"Tapi sisa umur Ibu tinggal berapa?!"
"Masih cukup buat nunggu kamu pulang lebaran nanti," jawab Ibunya tenang.
Arka terdiam. Dia melihat angka 10 tahun itu. Di pasar gelap digital, 10 tahun umur manusia setara dengan harga satu buah mobil mewah. Arka sempat berpikir picik: Kalau gue jual 5 tahun aja, gue bisa bayar utang dan hidup enak.
Pikiran itu menghantuinya selama seminggu. Kebiasaan buruk Arka belum hilang. Dia merasa punya "napas tambahan", jadi dia kembali foya-foya. Sampai suatu malam, dia iseng membuka profil akun "Rumah" milik ibunya di aplikasi tersebut.
Ada fitur History yang tak sengaja ia klik. Mata Arka membelalak.
Selama lima tahun terakhir, setiap kali Arka pamer foto liburan di Instagram atau beli sepatu branded, ternyata ada transfer umur kecil-kecilan dari ibunya.
[-1 Bulan untuk 'Biaya Wisuda Arka']
[-3 Bulan untuk 'DP Motor Arka']
[-1 Tahun untuk 'Bayar Utang Pinjol Arka']
Ibunya bukan menjual tanah atau perhiasan untuk gaya hidup Arka. Ibunya menjual detak jantungnya sendiri. Setiap kemewahan yang dipamerkan Arka di media sosial adalah potongan nyawa ibunya yang ditukar dengan uang di marketplace nyawa.
Arka gemetar. Dia melihat angka di pergelangan tangannya. Sepuluh tahun itu terasa sangat berat, seolah ia sedang memakai rompi pemberat yang terbuat dari daging dan darah ibunya sendiri.
Dia langsung memesan tiket bus pulang. Tanpa update status, tanpa foto tiket di story.
Sesampainya di rumah kayu di lereng gunung, Arka menemukan ibunya sedang duduk di kursi goyang. Pergelangan tangan kiri ibunya ditutupi kain jarik. Arka mendekat, bersimpuh, dan menyingkap kain itu.
00 Thn : 00 Bln : 03 Hr.
Ibunya hanya punya sisa tiga hari. Wajahnya sangat pucat, tapi matanya berbinar melihat Arka pulang.
"Bu... Arka balikin ya? Arka balikin 10 tahunnya sekarang," Arka menangis sesenggukan, membuka aplikasi Lifeline-nya, jemarinya gemetar mencari menu Transfer.
Ibunya memegang tangan Arka, menghalangi layar HP itu. "Jangan, Le. Barang yang sudah dikasih, nggak boleh diminta balik. Pamali."
"Tapi Ibu mau mati!" raung Arka.
"Semua orang bakal mati, Arka. Tapi nggak semua orang punya kesempatan buat ngerasa berguna sebelum mati. Ibu ngerasa jadi ibu paling kaya karena bisa kasih kamu waktu."
Malam itu, Arka tidak bisa tidur. Dia menyadari satu hal yang paling mind-blowing: Selama ini dia merasa paling modern dengan teknologi, merasa paling keren dengan gaya hidupnya, tapi dia adalah parasit digital yang memakan umur orang paling tulus di dunia.
Hari ketiga, tepat di detik-detik terakhir angka di tangan ibunya menuju nol, Arka memeluk ibunya erat.
00:00:01... 00:00:00.
Ibunya menghembuskan napas terakhir dengan senyuman. Angka di pergelangan tangan ibunya hilang, berganti tulisan: [Transaksi Selesai: Kasih Sayang Tak Terbatas].
Arka tidak menjual sisa 10 tahun umurnya. Dia menghapusnya aplikasi Lifeline dari HP-nya. Dia memilih hidup tanpa tahu kapan dia mati, tapi dia berjanji satu hal: Dia akan menghabiskan setiap detik dari 10 tahun pemberian ibunya itu untuk menjadi manusia yang benar-benar hidup, bukan sekadar bernapas.
Karena di dunia yang serba digital ini, satu-satunya hal yang tidak bisa di-copy-paste atau dibeli dengan koin adalah ketulusan seorang Ibu yang rela kehilangan detak jantungnya agar anaknya bisa bergaya di depan dunia.