Menjadi dewasa itu ternyata tidak mudah.
Kirana baru menyadarinya ketika usianya menginjak dua puluh tujuh tahun. Dulu, waktu masih kecil, ia sering tak sabar ingin cepat besar. Ingin bebas. Ingin punya uang sendiri. Ingin dianggap mampu mengambil keputusan sendiri. Tapi sekarang, saat semua itu sudah ada di tangannya, justru ia rindu pada masa ketika hidup terasa begitu sederhana.
Masa kecil yang tahunya cuma main, sekolah, lalu tidur.
Pagi itu, Kirana duduk di teras rumahnya sambil memandangi langit yang mendung. Di tangannya ada secangkir teh yang sudah mulai dingin. Pikirannya penuh oleh tagihan listrik yang belum dibayar, pekerjaan kantor yang menumpuk, dan pertanyaan-pertanyaan hidup yang tak kunjung menemukan jawaban.
“Kenapa dulu pengin banget jadi orang dewasa sih…” gumamnya pelan.
Dulu, sepulang sekolah, ia akan langsung berlari ke lapangan dekat rumah. Bermain lompat tali, petak umpet, atau sekadar duduk bersama teman-teman sambil tertawa tanpa beban. Tak ada yang dipikirkan selain besok main apa lagi.
Kalau sedih, ia cukup menangis di pangkuan ibunya. Kalau lapar, tinggal makan. Kalau lelah, tinggal tidur. Sesederhana itu.
Sekarang?
Menangis pun harus diam-diam. Takut dibilang lemah. Lelah tak bisa sembarangan berhenti. Dunia orang dewasa seakan tak memberi jeda.
Beberapa hari lalu, Kirana dimarahi atasannya karena laporan yang terlambat. Padahal semalaman ia sudah begadang. Ia pulang dengan mata sembab, tapi tetap harus tersenyum saat bertemu orang rumah. Ia tak ingin terlihat rapuh.
Kadang ia merasa, menjadi wanita dewasa seperti dituntut harus kuat sepanjang waktu. Harus bisa mengurus diri sendiri, membantu keluarga, menjaga perasaan orang lain, bahkan tetap terlihat baik-baik saja di tengah hati yang kacau.
Malam itu, listrik tiba-tiba padam. Rumah menjadi gelap. Kirana duduk di ruang tamu, hanya diterangi cahaya lilin kecil. Hening.
Entah kenapa, suasana itu mengingatkannya pada masa kecil. Dulu kalau listrik padam, ia justru senang. Ia dan adiknya akan bermain bayangan tangan di dinding, tertawa-tawa tanpa takut gelap.
Perlahan, senyum kecil terbit di bibirnya.
Mungkin yang ia rindukan bukan sekadar masa kecilnya. Tapi perasaan ringan dan tulus yang dulu ia miliki.
Kirana menarik napas panjang.
Ia sadar, waktu tak mungkin diputar kembali. Ia tak bisa lagi menjadi gadis kecil yang tak tahu apa-apa tentang rumitnya kehidupan. Tapi mungkin, ia masih bisa belajar membawa sedikit cara berpikir anak kecil ke dalam hidupnya yang sekarang.
Belajar tertawa tanpa alasan. Belajar memaafkan dengan cepat. Belajar menikmati hal-hal sederhana.
Menjadi dewasa memang tidak mudah. Tapi bukan berarti harus selalu terasa berat.
Di bawah cahaya lilin yang mulai mengecil, Kirana berjanji pada dirinya sendiri—ia boleh lelah, boleh sedih, boleh menangis. Ia manusia, bukan baja.
Dan esok pagi, ia akan bangun lagi. Bukan sebagai anak kecil yang lari ke lapangan, tapi sebagai wanita dewasa yang pelan-pelan belajar berdamai dengan hidupnya.
Karena mungkin, menjadi dewasa bukan tentang kehilangan masa kecil.
Melainkan tentang membawa kenangan itu sebagai kekuatan untuk terus melangkah.
Selesai