“Maaf, tapi aku mencintainya.”
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut suamiku.
Di ruang tamu rumah yang kubeli dengan uangku sendiri. Wanita di sampingnya tersenyum menang. Aku menatap mereka berdua dengan tenang.
“Aku sudah mengurus surat cerai,” lanjutnya. “Tolong tanda tangan. Jangan membuat semuanya sulit.”
Sulit?
Tiga tahun aku mendukungnya dari nol.
Tiga tahun aku membiarkannya merasa hebat.
Tiga tahun aku pura-pura tidak melihat pesan-pesan mesra di ponselnya.
Aku mengambil map itu. Membukanya perlahan.
“Apa kamu yakin Mas?” tanyaku lembut.
Dia mengangguk tanpa ragu.
“Perusahaan sekarang stabil. Aku tidak ingin reputasiku rusak karena drama.”
Aku hampir tertawa.
Perusahaan stabil?
Andai dia tahu.
Aku berdiri dan berjalan ke rak kecil di sudut ruangan. Mengambil satu dokumen lain.
“Kamu tahu kenapa perusahaanmu tidak pernah benar-benar bangkrut waktu krisis dua tahun lalu?”
Dia mengerutkan kening.
“Itu karena aku kerja keras.”
Aku tersenyum tipis.
“Tidak. Itu karena ada investor anonim yang menyuntik dana 40% saham.”
Wajahnya mulai berubah.
Wanita di sampingnya memegang lengannya. “Mas, dia bicara apa?”
Aku meletakkan dokumen itu di meja. Nama lengkapku terpampang jelas sebagai pemegang saham mayoritas.
“Investor itu adalah aku.”
Sunyi.
“Tidak mungkin,” dia berbisik.
“Ayahku pemilik grup investasi yang membelinya diam-diam. Dan aku pemilik sahnya.”
Wajahnya memucat.
Wanita itu mundur selangkah.
“Jadi sebelum kamu memintaku pergi dari rumah ini,” lanjutku pelan, “aku hanya ingin memastikan kamu tahu satu hal.”
Aku mengambil pulpen. Menandatangani surat cerai.bLalu menatapnya lurus.
“Besok pagi, kamu bukan lagi direktur.”
“Apa maksudmu?!”
Tak menunggu hingga besok, tiba-tiba ponselnya bergetar.
Pesan masuk dari dewan direksi.
Voting selesai.
Dia resmi dicopot.
Tangannya gemetar.
“Kamu tidak bisa melakukan ini padaku!”
Aku berdiri, menatapnya dengan dingin.
“Kenapa tidak? Kamu baru saja melakukannya padaku.”
Wanita itu mencoba berbicara, tapi suaranya tercekat.
Aku mendekat sedikit. “Dan satu lagi… audit internal akan dimulai minggu ini. Semua transaksi mencurigakanmu akan diperiksa.”
Wajahnya berubah pucat pasi.
Dia tahu.
Aku tahu.
Ada dana yang ia gelapkan untuk wanita itu.
“Aku akan hancur…” bisiknya.
Aku tersenyum lembut. “Itu pilihanmu.”
Satpam yang kupanggil masuk ke dalam rumah.
“Tolong Pak, antarkan mereka keluar sekarang.”
Dia menatapku, seolah baru mengenalku.
“Siapa kamu sebenarnya?”
Aku berdiri tegak.
“Wanita yang seharusnya tidak pernah kamu remehkan.”
Kemudian, mereka berdua di seret keluar sama satpam hingga sampai gerbang. Lalu, gerbang segera ditutup.
Pintu tertutup.
Sunyi.
Aku menghela napas panjang. Bukan karena sedih. Tapi karena akhirnya selesai juga masalah ini.
Besok, namaku akan diumumkan sebagai CEO baru. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku. Aku tidak akan lagi bersembunyi di balik bayangan seorang pria.