“Apa kamu pikir aku tidak tahu kamu mencampur sesuatu di sup itu?”
Tanganku gemetar, tapi suaraku tidak.
Di seberang meja, suamiku tertawa kecil.
“Sayang, kamu terlalu sensitif.”
Adik tiri suamiku menyentuh bahuku, pura-pura menenangkan.
“Jangan bercanda seperti itu, Kak.” “Tidak ada hal bahaya di sup itu kak” lanjutanya pura-pura nya
Tubuhku lemah. Sejak seminggu terakhir, kepalaku sering berputar. Nafasku pendek. Perutku seperti dibakar.
Dan semalam… aku mendengar semuanya.
“Dosisnya sudah pas. Pelan-pelan saja. Biar seperti sakit biasa.”
“Setelah dia mati, apartemen dan tabungannya jadi milikku semuanya.”
“Untung dia tidak pernah bilang siapa ayahnya. Kalau tahu siapa ayahnya dan ternyata dia cuma wanita biasa, aku tidak akan susah payah pura-pura mencintainya dan menikahinya.”
Wanita biasa?
Aku tersenyum pahit.
Mereka tidak tahu satu hal.
Aku sebenarnya adalah putri tunggal pemilik Grup Mahardika.
Ayahku pernah berkata sebelum pernikahan itu:
“Kalau dia mencintaimu tanpa tahu siapa kamu, Ayah akan merestui. Tapi kalau dia berubah setelah tahu… jangan salahkan Ayah.”
Aku keras kepala. Aku memilih cinta.
Dan cinta itu membunuhku.
Malam itu racun bekerja cepat.
Aku jatuh di pelukan suamiku.
Dia berteriak pura-pura panik.
“Sayang! Bertahanlah!”
Air mata palsunya menetes di pipiku.
Saat pandanganku menggelap, aku melihat adik tiri suamiku tersenyum tipis di belakangnya.
Aku mati… dengan kebodohan.
____________________________________
Aku terbangun sambil terengah.
Tanggal di ponselku membuat jantungku berhenti.
Tujuh hari sebelum kematianku.
Aku duduk diam lama.
Lalu tertawa pelan.
“Baiklah… mari kita mulai lagi.”
Kali ini, aku bukan wanita yang jatuh cinta.
Aku adalah putri Mahardika.
--------
Hari pertama, aku memanggil nomor yang sudah lama tidak kuhubungi.
“Ayah.”
Di ujung sana hening cukup lama.
“Akhirnya, kamu menelepon Ayah Sayang.”
Suaranya berat, tapi aku tahu ia menahan rindu.
“Ayah… kalau aku minta bantuan, apakah Ayah masih mau membantuku dan melindungiku?”
“Ada apa Sayang? Siapa yang berani menyentuh putriku ini hmm?”
Air mataku hampir jatuh. Tapi aku menahannya.
“Biarkan aku bermain dulu Yah. Kalau aku gagal… Ayah boleh menghancurkan mereka.”
Ayah terdiam beberapa detik.
“Baik, Kamu ternyata benar-benar anakku.”
———————
Hari kedua, aku pura-pura semakin lemah.
Disitu aku bisa melihat suamiku dan adik tirinya tersenyum sinis saat aku tidak melihat mereka
————————
Hari ketiga, aku menangis di depan suamiku.
“Aku takut, aku sakit parah Mas…”
Dia memelukku.
Hangat.
Menjijikkan.
“Tentu saja tidak, Sayang. Aku akan selalu menjagamu.”
Tangannya mengelus rambutku, sementara aku tahu tangan itulah yang menuangkan racun.
————————
Hari keempat, aku memasang kamera kecil di ruang makan.
Saat mereka pergi, aku mulai memasang kamera di ruang makan dan mencari posisi yang tepat supaya mencangkup seluruh ruang makan.
—————————
Hari kelima, aku sengaja meninggalkan pintu sedikit terbuka.
Dan seperti yang kuduga,,,
Mereka masuk ke dapur bersama.
“Besok dosis terakhir.”
“Cepat sekali dia mati, ya?”
Rekaman itu jelas.
Sangat jelas.
——————————
Hari ketujuh.
Hari kematianku yang seharusnya.
Aku mengenakan gaun putih sederhana.
Suamiku tersenyum melihatku.
“Hari ini, kamu sangat cantik sekali Sayang.”
“Tentu saja Mas,” jawabku tenang. “Ini hari yang sangat penting.”
Bel berbunyi.
Ketika pintu terbuka dan lima pria berjas hitam masuk, wajah suamiku berubah.
Lalu ayahku melangkah masuk.
Wibawanya memenuhi ruangan.
Adik tiri suamiku langsung pucat.
“Di-dia siapa Kak?”
Aku berdiri perlahan.
“Perkenalkan, beliau adalah Ayahku.”
Sunyi.
Suamiku tertawa kaku.
“Kamu jangan bercanda—”
“Grup Mahardika,” ucap ayah dingin. “Nama itu pasti tidak asing lagi bagimu, bukan?”
Sendok di tangan suamiku jatuh.
Aku melemparkan map berisi hasil laboratorium, rekaman video, dan laporan transfer dana.
“Aku memindahkan semua aset atas namaku tiga hari lalu. Jadi rencanamu gagal total.”
Polisi masuk tepat waktu.
Suamiku mundur panik.
“Ini salah paham!”
Aku mendekat.
“Arsenik dosis rendah. Tujuh hari. Kamu pikir aku tidak akan sadar Mas?”
Adik tiri suamiku menangis.
“Kak, aku gak salah. Aku dipaksa Kak!”
Aku menatapnya tanpa emosi.
“Di kehidupan pertamaku, mungkin aku akan percaya.”
“Kehidupan pertama?” suamiku berbisik.
Aku tersenyum.
“Anggap saja Tuhan memberiku kesempatan melihat wajah aslimu sebelum benar-benar mati.”
Ayah berbicara tegas.
“Kalian bukan hanya akan dipenjara. Semua perusahaan keluargamu akan bangkrut dalam satu malam.”
Suamiku berlutut.
“Kamu anak dari Pak Mahardika?! Kenapa kamu tidak bilang?!”
Aku menunduk sedikit agar wajahku sejajar dengannya.
“Karena aku ingin dicintai tanpa uang.”
Air matanya jatuh.
Terlambat.
“Kali ini, aku tidak mati.”
Borgol diklik.
Mereka dibawa pergi.
Ruangan kembali sunyi.
Ayah mendekat dan menyentuh bahuku.
“Kamu sudah sadar dan kamu lebih pintar Sayang.”
Aku tersenyum kecil.
“Tidak, Yah. Aku hanya berhenti menjadi bodoh.”
Di kehidupan kedua ini—
Aku bukan korban.
Aku adalah akhir dari mereka.
Dan untuk pertama kalinya…
Aku merasa puas.