Di bangku kelas satu SMP, Aleta tidak pernah menyangka bahwa duduk sebangku dengan Dedy akan mengubah caranya memandang sekolah.
Awalnya biasa saja. Dedy itu tipe cowok yang rame, gampang ketawa, dan selalu punya cerita aneh setiap pagi. Kadang tentang kucingnya yang kabur, kadang tentang tugas matematika yang lupa dikerjakan. Aleta yang pendiam sering hanya tersenyum, tapi diam-diam, setiap tawa Dedy terasa seperti bunyi lonceng kecil di hatinya.
Entah sejak kapan rasa itu tumbuh.
Mungkin sejak Dedy meminjamkan jaketnya waktu Aleta kedinginan di kelas.
Mungkin sejak mereka sering pulang sekolah bareng, menyusuri jalan yang sama sambil berbagi es teh plastik lima ribuan.
Atau mungkin sejak Dedy tanpa sadar selalu mencari Aleta setiap kali kerja kelompok.
Dua tahun.
Dua tahun Aleta menyimpan perasaannya sendirian. Ia menjadi sahabat terbaik Dedy—teman cerita, teman bercanda, teman pulang. Tapi tak pernah lebih dari itu.
Kelas dua SMP berlalu dengan kenangan sederhana: duduk berdampingan di kantin, tertawa saat dihukum guru, dan hujan-hujanan sepulang sekolah. Namun, Dedy tetap tidak pernah menyadari tatapan Aleta yang terlalu lama, atau degup jantungnya yang terlalu cepat.
Memasuki kelas tiga SMP, Aleta mulai lelah.
Ia sadar, menunggu seseorang yang tidak tahu dirinya ditunggu adalah hal paling sunyi di dunia. Maka perlahan, ia mencoba mengubur rasa itu. Ia berhenti berharap Dedy akan tiba-tiba berkata, “Aku suka kamu.”
Di saat itulah Noah hadir.
Noah adalah siswa pindahan. Tinggi, kalem, dan punya cara bicara yang lembut. Berbeda dengan Dedy yang ramai, Noah lebih banyak mendengarkan. Ia memperhatikan hal-hal kecil—seperti warna pita rambut Aleta atau buku novel yang sering ia baca.
Awalnya Aleta ragu membuka hati. Tapi Noah datang dengan kesungguhan yang tidak setengah-setengah. Ia mengantar Aleta pulang, membawakan cokelat saat Aleta ulang tahun, dan secara terang-terangan bilang, “Aku suka kamu.”
Kalimat yang selama ini ingin ia dengar… justru datang dari orang lain.
Tak lama kemudian, kedekatan Aleta dan Noah mulai terlihat jelas. Mereka sering bersama. Dan untuk pertama kalinya, Dedy tampak berbeda—lebih pendiam, lebih sering memperhatikan dari jauh.
Sampai suatu sore, di lapangan sekolah yang mulai sepi, Dedy akhirnya bicara.
“Aleta… aku nggak tahu harus mulai dari mana,” katanya, menunduk.
Aleta terdiam.
“Aku suka kamu. Dari dulu. Cuma… aku takut kamu nggak ngerasa yang sama.”
Jantung Aleta seperti berhenti berdetak.
Dalam hati ia berteriak: Kenapa baru sekarang?
Semua perasaan yang ia kubur seperti menggali dirinya sendiri keluar. Namun semuanya sudah berbeda. Noah sudah ada di sisinya.
Bingung, campur aduk, dan tak ingin melukai siapa pun, Aleta membuat keputusan yang terdengar seperti permainan.
“Minggu ini kita ke air terjun, ya,” katanya pada Dedy dan Noah. “Siapa yang datang duluan ke sana… dia yang jadi pacarku.”
Ia tahu itu kekanak-kanakan. Tapi ia tak cukup berani memilih hanya dengan kata hati.
Hari itu tiba.
Air terjun kecil di pinggir kota menjadi saksi kegelisahan Aleta. Suara air jatuh memecah kesunyian, sementara ia berdiri menunggu dengan napas tak tenang.
Dalam hati ia berbisik,
Andai saja Dedy bilang dari dulu… pasti aku nggak akan ragu.
Beberapa menit berlalu.
Langkah kaki terdengar dari kejauhan. Aleta menoleh.
Noah.
Dengan kemeja putih sederhana dan senyum hangat, Noah berdiri di sana, sedikit terengah tapi bahagia.
“Aku nggak mau kalah,” katanya pelan.
Tak lama kemudian, Dedy datang. Ia berhenti beberapa meter dari mereka, memahami situasi tanpa perlu dijelaskan.
Tatapan mereka bertemu.
Aleta menunduk sebentar, lalu menarik napas panjang.
“Aku janji… siapa yang datang duluan,” ucapnya lirih.
Noah tersenyum dan menggenggam tangan Aleta dengan hati-hati. Dan di depan air terjun itu, mereka resmi bersama.
Dedy hanya tersenyum tipis. “Semoga kamu bahagia,” katanya.
Aleta tahu, sebagian hatinya pernah menjadi milik Dedy. Tapi cinta bukan hanya soal siapa yang lebih dulu disukai—melainkan siapa yang berani lebih dulu memperjuangkan.
Dan hari itu, yang datang lebih dulu… bukan hanya ke air terjun.
Tapi juga ke masa depan Aleta.
Selesai