Langit pagi di SMAS Angkasa tampak biasa saja, seolah dunia berjalan normal seperti hari-hari lainnya. Tidak ada yang tahu bahwa di antara ratusan siswa berseragam putih abu-abu, duduk seorang gadis yang hidupnya jauh dari kata biasa.
Alliora Seika Zaryana.
Gadis berusia tujuh belas tahun itu dikenal dingin. Tatapannya datar, langkahnya tenang, dan hampir tak pernah terlihat tersenyum. Murid kelas 11.A itu dijuluki siswa “kelas hoki”, tapi bagi Liora, keberuntungan bukan sesuatu yang ia percayai. Ia hanya percaya pada latihan, insting, dan bertahan hidup.
Sejak kecil, ia tidak dibesarkan dengan dongeng sebelum tidur atau liburan keluarga. Ayahnya, Baskara — sosok yang namanya cukup untuk membuat banyak orang gemetar — membesarkannya di dunia yang keras. Hutan lepas, pulau terpencil, dan latihan tanpa ampun menjadi bagian dari masa kecilnya. Liora diajarkan satu hal: bertahan hidup dalam kondisi apa pun.
Entah miskin atau kaya, aman atau berbahaya, hatinya tetap tenang.
Hari itu, hidup sekolahnya mulai berubah sejak ia bertemu Vion Revaldo Eden.
Ketua OSIS kelas 12.B itu terkenal menakutkan. Para siswa otomatis diam saat ia lewat. Namun anehnya, sikapnya berubah setiap berada di dekat Liora.
“Lo tuh serius terus. Capek nggak sih?” kata Vion suatu pagi, duduk santai di meja depan kelasnya.
Liora bahkan tidak mengangkat kepala.
“B aja.”
Vion hanya tertawa kecil. Entah kenapa, gadis dingin itu justru membuatnya penasaran.
Tak lama kemudian, sebuah fakta terungkap. Ayah Vion ternyata tangan kanan Baskara. Dunia mereka ternyata sudah terhubung jauh sebelum mereka saling mengenal.
Dan hubungan itu membawa sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pertemanan sekolah.
Malam itu, Liora dipanggil pulang lebih cepat.
Ruang kerja Baskara selalu terasa berat. Lampunya redup, udara dingin, dan suasana yang membuat siapa pun sulit bernapas lega.
Baskara berdiri membelakanginya.
“oknum Kota timur memberontak,” ucapnya pelan. “ mereka menindas rakyat. Hak mereka dirampas. Sudah terlalu lama.”
Liora diam, menunggu perintah berikutnya.
“sudah d kasih kesempatan mereka tetap seperti itu saya sudah muak” lanjut Baskara. “Evakuasi warga. Setelah itu… bumihanguskan.”
Tidak ada nada marah. Tidak ada ancaman. Justru ketenangan itulah yang membuat perintah itu terasa mutlak.
Liora mengangguk sekali.
“Baik, Pah.”
Tidak ada pertanyaan. Tidak ada keraguan.
Itulah tugasnya.
Operasi dimulai dua hari kemudian.
Kota timur yang dulu ramai kini dipenuhi kekacauan. Warga ketakutan, sementara para oknum mencoba melarikan diri menyelamatkan diri sendiri.
Liora bergerak cepat bersama timnya. Fokus utamanya bukan kehancuran — melainkan penyelamatan warga sipil.
“Prioritas evakuasi,” perintahnya melalui alat komunikasi. “Pastikan tidak ada warga tertinggal.”
Suara ledakan kecil terdengar di kejauhan, bukan sebagai teror, tetapi sebagai tanda runtuhnya kekuasaan yang selama ini menindas.
Dari atap gedung tinggi, Liora mengamati pergerakan kota dengan senapan kesayangannya di tangan. Tatapannya tajam, namun tetap tenang.
Beberapa oknum mencoba kabur diam-diam melalui jalur belakang kota.
Klik.
Liora menarik napas perlahan.
Ia tidak merasakan amarah. Tidak juga kepuasan. Hanya tanggung jawab.
Satu per satu pelarian mereka dihentikan sebelum sempat meminta bantuan.
Di sisi lain kota, Vion menjalankan tugasnya.
“Semua sinyal bantuan udah gue putus,” katanya lewat komunikasi radio. “Nggak ada yang bisa keluar dari area.”
“Bagus,” jawab Liora singkat.
Vion tersenyum kecil walau tak terlihat.
“Lo emang nggak pernah panik ya?”
“Hanya menjalankan misi.”
Jawaban itu membuat Vion terdiam beberapa detik.
Di balik sikap dinginnya, ia tahu Liora memikul beban yang tidak seharusnya ditanggung seseorang seusianya.
Menjelang fajar, seluruh warga berhasil dievakuasi.
Kota itu kosong.
Bangunan-bangunan pemerintahan yang dulu menjadi simbol keserakahan kini berdiri tanpa kuasa.
Liora berdiri di tengah jalan utama, memandang langit yang mulai berubah warna.
“Area bersih,” lapornya.
Dari kejauhan, suara runtuhan mulai terdengar. Operasi terakhir dijalankan — menghancurkan sistem kekuasaan lama agar tidak kembali menindas.
Api menyala, namun bukan untuk menghancurkan kehidupan. Justru untuk mengakhiri ketidakadilan.
Angin pagi membawa abu tipis ke udara.
Vion berjalan mendekat, memasukkan tangannya ke saku jaket.
“Pertama kali gue lihat kota sebesar ini jatuh dalam satu malam,” katanya.
Liora tidak menjawab.
“Kita ini… pahlawan atau penjahat?” tanya Vion tiba-tiba.
Liora menatap api di kejauhan.
“Bukan keduanya,” jawabnya pelan. “Kita cuma memastikan orang yang lemah bisa hidup.”
Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar sedikit lebih lembut.
Vion tersenyum tipis.
“Mungkin itu alasan gue selalu ikut lo.”
Liora melirik sekilas, lalu kembali menatap depan.
Matahari perlahan terbit, menerangi kota yang kini bebas dari penguasa lama.
Sebuah misi besar telah selesai.
Namun bagi Alliora Seika Zaryana, ini hanyalah awal dari jalan panjang sebagai anak mafia yang hidup di antara dua dunia — sekolah yang tampak normal, dan kenyataan gelap yang hanya sedikit orang tahu.
Ia berbalik pergi tanpa menoleh lagi.
Langkahnya tetap tenang.
Seolah apa pun yang menunggu di depan, ia sudah siap menghadapinya.
Tamat. ✨