Di lereng gunung yang diselimuti kabut, tersembunyi sebuah kolam kecil bernama Tirta Lelana. Airnya jernih kebiruan, tak pernah kering meski kemarau panjang. Penduduk desa percaya, kolam itu mampu mencuci dosa siapa pun yang mandi di dalamnya.
Konon, kolam itu muncul dari air mata seorang pertapa suci yang berdoa siang dan malam agar manusia diberi kesempatan kedua.
Namun ada satu syarat yang sering dilupakan orang-orang:
kolam itu hanya membersihkan dosa yang disesali, bukan yang ingin diulangi.
Suatu hari, datanglah seorang pemuda bernama Brata. Ia dikenal licik dan sering menipu orang desa. Ketika usahanya bangkrut dan ia dijauhi banyak orang, ia mendengar tentang kolam itu.
“Kalau dosaku bisa hilang, aku bisa mulai lagi,” pikirnya.
Ia mendaki gunung dengan niat ringan, bukan untuk menyesal, melainkan untuk mengulang hidup dengan cara yang sama.
Saat Brata menceburkan diri ke kolam, airnya mendadak keruh. Ia merasa dingin menusuk tulang. Bayangannya di permukaan air tidak berubah—tetap wajah penuh tipu daya.
Ia keluar dengan kesal.
“Bohong! Kolam ini tidak ajaib!”
Dari balik pepohonan, terdengar suara tua.
“Kolam tidak bisa membersihkan hati yang tidak ingin bersih.”
Brata menoleh, tetapi tak melihat siapa pun.
Beberapa hari kemudian, datang seorang perempuan tua bernama Sari. Ia datang dengan langkah gemetar.
“Aku menyesal telah membenci anakku sendiri,” katanya sambil menangis. “Aku terlalu keras padanya.”
Ia berlutut di tepi kolam dan menangis lama sebelum akhirnya masuk perlahan ke dalam air.
Ajaibnya, air tetap jernih. Permukaan kolam memantulkan wajah Sari yang damai. Ketika ia keluar, wajahnya tak berubah muda atau bersinar, tetapi matanya terasa lebih ringan.
Ia pulang, memeluk anaknya, dan meminta maaf.
Sejak itu, penduduk mulai mengerti.
Kolam Tirta Lelana bukan tempat untuk lari dari kesalahan.
Ia adalah tempat untuk menghadapi kesalahan.
Tahun-tahun berlalu. Banyak orang datang. Ada yang pulang dengan hati ringan. Ada pula yang pergi dengan air tetap keruh.
Hingga suatu hari, Brata kembali.
Kali ini bukan karena ingin mengulang tipu daya, tetapi karena ia benar-benar lelah hidup dalam kebohongan.
Ia duduk lama di tepi kolam.
“Aku salah,” bisiknya. “Aku menyakiti banyak orang. Aku tidak ingin seperti itu lagi.”
Air mata jatuh satu per satu ke permukaan air.
Ketika ia masuk ke dalam kolam, air tetap jernih. Ia merasa hangat, bukan dingin. Bayangannya di air tidak berubah menjadi orang suci—tetapi ia melihat dirinya dengan mata yang jujur.
Saat keluar, ia bukan manusia baru.
Ia hanya manusia yang berani berubah.
Sejak saat itu, legenda Kolam Pencuci Dosa tersebar luas.
Namun orang-orang bijak selalu mengingatkan "Air hanya membasuh tubuh.Penyesalan dan perubahanlah yang benar-benar membersihkan jiwa".
Tamat.