Dahulu kala, di sebuah kerajaan bernama Tirta Kencana, berdirilah Telaga Nirmala—danau yang airnya jernih seperti kaca. Konon, siapa pun yang bercermin di sana akan melihat bukan wajahnya, melainkan isi hatinya.
Di kerajaan itu hiduplah Putri Cempaka Ayuningrum, putri tunggal raja yang cantik namun manja. Ia memiliki segalanya—gaun sutra, perhiasan emas, dan taman bunga yang luas. Tetapi satu hal yang tidak ia miliki adalah rasa syukur.
Suatu sore, Putri Cempaka bermain bola emas kesayangannya di tepi Telaga Nirmala. Bola itu hadiah ulang tahunnya yang paling berharga.
Namun takdir berkata lain.
Bola emas itu terlepas dari tangannya dan tercebur ke dalam telaga.
“Ah! Bola emasku!” serunya panik.
Ia mencoba meraih, tetapi air terlalu dalam. Putri pun duduk di tepi telaga dan menangis.
Tiba-tiba terdengar suara kecil dari balik teratai.
“Mengapa kau menangis, Putri?”
Putri menoleh dan terkejut melihat seekor katak hijau dengan mata berkilau menatapnya.
“Apa urusanmu, katak menjijikkan?” jawabnya ketus.
Katak itu tidak marah.
“Aku bisa mengambilkan bola emasmu. Tapi kau harus berjanji akan menjadi temanku. Makan bersamaku. Duduk di sampingku. Dan tidak menghinaku.”
Putri ragu. Ia memandang air telaga, membayangkan bola emasnya hilang selamanya.
“Baiklah! Aku berjanji,” katanya asal.
Katak itu menyelam. Tak lama kemudian, ia muncul membawa bola emas di mulutnya.
Putri bersorak girang, merebut bola itu, lalu berlari kembali ke istana tanpa menoleh.
Katak itu memandang punggungnya dengan sedih.
Malam harinya, saat Putri sedang makan malam bersama Raja, terdengar ketukan kecil di pintu istana.
Tok. Tok. Tok.
Seorang pelayan membuka pintu dan terperanjat melihat seekor katak berdiri di sana.
“Aku datang menagih janji Putri Cempaka Ayuningrum.”
Putri pucat. Ia mencoba menyangkal.
“Ah, Ayah, itu hanya katak. Mana mungkin aku berteman dengan makhluk seperti itu?”
Raja yang bijaksana menatap putrinya tajam.
“Janji adalah janji, Cempaka. Seorang putri tidak boleh ingkar.”
Dengan berat hati, Putri mengizinkan katak itu duduk di mejanya. Katak meminta duduk di kursi empuknya. Putri menggerutu, tapi terpaksa menurut.
Saat katak meminta tidur di kamarnya, Putri sudah tak tahan.
“Cukup! Kau terlalu berani!” serunya.
Dalam kesal, ia melemparkan katak itu ke dinding.
Namun alih-alih terdengar suara tubuh kecil jatuh, ruangan dipenuhi cahaya terang.
Di hadapannya berdiri seorang pemuda tampan dengan pakaian kerajaan.
“Aku Pangeran Arka dari negeri seberang,” katanya lembut. “Aku dikutuk menjadi katak karena kesombongan dan keangkuhanku. Hanya janji tulus dan keberanian hati yang bisa mematahkan kutukan itu.”
Putri terdiam. Ia menyadari—bukan lemparannya yang mematahkan kutukan, melainkan momen ketika ia akhirnya berhenti melihat katak sebagai makhluk hina dan mulai memperlakukannya sebagai tamu.
Pangeran Arka menatapnya.
“Kita sama-sama pernah sombong. Mungkin takdir mempertemukan kita agar belajar.”
Sejak hari itu, Putri Cempaka Ayuningrum berubah. Ia menjadi lebih rendah hati dan berhati lembut.
Tak lama kemudian, Pangeran Arka melamarnya. Kali ini, Putri menerima bukan karena wajah tampan atau gelar kerajaan—melainkan karena ia telah belajar melihat hati, bukan rupa.
Dan Telaga Nirmala tetap jernih,
mengingatkan siapa pun yang datang
bahwa janji dan kerendahan hati
adalah sihir paling kuat di dunia.
Tamat.