Di masa yang sangat purba, sebelum cahaya dan gelap dipisahkan oleh sumpah perang, dunia malaikat dan iblis masih menyatu dalam satu kerajaan langit bernama Arasyvara.
Di sana, makhluk bersayap putih dan makhluk bersayap hitam hidup berdampingan. Bukan tanpa perbedaan, tetapi tanpa peperangan.
Di istana tertinggi Arasyvara, hiduplah pangeran mahkota dari klan iblis: Azrhael.
Sayapnya hitam legam berkilau seperti malam tanpa bulan. Tatapannya tajam, auranya kuat, dan seluruh kerajaan tahu bahwa suatu hari ia akan menjadi penguasa kegelapan.
Azrhael dibesarkan dengan satu ajaran:
“Kegelapan harus kuat. Jangan pernah tunduk pada cahaya.”
Di sisi lain istana, jauh dari aula megah dan ruang takhta, hiduplah seorang malaikat tingkat rendah bernama Lumeira.
Ia bukan pejuang.
Bukan penyanyi pujian surgawi.
Ia hanya seorang dayang yang bertugas membersihkan aula pertemuan dan merapikan jubah para malaikat tinggi.
Sayapnya kecil. Cahayanya redup dibanding malaikat lain. Ia sering diremehkan.
Namun ia memiliki sesuatu yang tidak semua makhluk punya—hati yang tulus.
Takdir mempertemukan mereka secara tak sengaja.
Suatu malam, Azrhael berjalan sendirian di koridor cahaya-kegelapan yang memisahkan dua wilayah. Ia muak dengan tuntutan menjadi kuat, muak dengan latihan tanpa akhir.
Di ujung lorong, ia melihat Lumeira terjatuh. Ember kristalnya pecah, serpihan cahaya berserakan.
“Apa kau buta?” suara Azrhael dingin.
Lumeira terkejut melihat pangeran mahkota berdiri di depannya. Ia segera menunduk.
“Maaf, Yang Mulia.”
Biasanya, makhluk lain gemetar di hadapannya. Tapi saat Azrhael melihat mata Lumeira, ia tidak melihat ketakutan—melainkan ketulusan.
Ia mendengus dan pergi.
Namun entah mengapa, bayangan malaikat kecil itu terus muncul di pikirannya.
---
Hari-hari berikutnya, Azrhael sengaja melewati lorong tempat Lumeira bekerja.
Kadang ia hanya berdiri diam, memperhatikan bagaimana Lumeira menyeka lantai dengan sabar.
“Kenapa kau tidak mengeluh?” tanya Azrhael suatu hari.
Lumeira mengangkat wajahnya.
“Karena tugas kecil pun tetap berarti jika dilakukan dengan niat baik.”
Jawaban itu terasa aneh bagi Azrhael.
Di dunia iblis, nilai diukur dari kekuatan.
Di dunia malaikat, nilai diukur dari kemurnian cahaya.
Lumeira tidak memiliki keduanya dalam ukuran besar. Tapi ia memiliki kedamaian yang tak pernah Azrhael rasakan.
Perlahan, percakapan mereka bertambah.
Azrhael mulai duduk di tangga kristal saat Lumeira bekerja. Ia bertanya tentang hal-hal kecil: mengapa malaikat menyukai bunga cahaya, mengapa Lumeira tersenyum saat sendirian.
Lumeira tidak pernah menyadari bahwa setiap senyumnya membuat jantung pangeran kegelapan bergetar.
Namun rahasia tidak pernah bisa tersembunyi lama.
Para petinggi iblis mulai menyadari perubahan Azrhael. Auranya tidak lagi sekeras dulu. Latihannya berkurang.
“Pangeran telah terkontaminasi cahaya,” bisik mereka.
Di sisi lain, malaikat tinggi memandang Lumeira dengan curiga.
“Dayang rendahan tidak pantas berbicara dengan iblis mahkota.”
Tekanan mulai datang dari dua dunia.
Suatu malam, Azrhael menemukan Lumeira menangis di taman senja.
“Aku diperingatkan untuk menjauh darimu,” ucapnya pelan.
Azrhael mengepalkan tangan.
“Aku juga.”
Untuk pertama kalinya, Azrhael merasa marah bukan karena harga dirinya—melainkan karena takut kehilangan seseorang.
“Jika dunia ini harus terbelah,” katanya lirih, “aku tidak ingin berada di sisi yang jauh darimu.”
Lumeira menatapnya dengan mata berkilau.
“Cahaya dan gelap tidak selalu musuh. Mereka hanya belum belajar memahami.”
Namun takdir tidak selembut harapan.
Perpecahan besar akhirnya terjadi. Malaikat dan iblis memutuskan berpisah selamanya, menciptakan dua alam berbeda.
Pada malam terakhir sebelum pemisahan, Azrhael berdiri di batas langit.
“Aku bisa membawamu ke alam iblis,” katanya.
Lumeira menggeleng lembut.
“Dan membuatmu kehilangan tahta?”
“Tahta tidak berarti tanpa alasan untuk hidup.”
Air mata cahaya jatuh dari mata Lumeira.
“Jika memang kita ditakdirkan berpisah, biarlah cinta kita menjadi bukti bahwa dulu… cahaya dan gelap pernah bersatu.”
Ketika fajar kosmik terbit, dunia terbelah.
Azrhael menjadi Raja Iblis pertama.
Lumeira tetap malaikat kecil di alam cahaya.
Namun legenda berbisik,
setiap kali senja turun dan langit berwarna ungu,
itu adalah saat di mana cahaya dan gelap saling menyentuh lagi.
karena cinta seorang pangeran iblis
pada malaikat dayang kecil
tak pernah benar-benar padam.
Tamat.