Setelah lamaran itu, rumah besar keluarga Maher menjadi tempat tinggal baru Saherra.
Hari pertama ia melangkah masuk, udara terasa berbeda. Bukan karena kemewahannya—melainkan karena dinginnya.
Para pelayan menunduk hormat pada Maher, tetapi memandang Saherra dengan tatapan menilai. Gadis miskin dari sudut kota kini menjadi calon nyonya rumah besar.
Maher berjalan lebih dulu tanpa menoleh.
“Kau akan tinggal di sayap timur. Jangan mengganggu urusanku,” katanya datar.
Saherra menggenggam ujung dupattanya.
“Aku juga tidak berniat mengganggu hidupmu,” balasnya pelan.
Hari-hari berlalu dalam jarak. Mereka tinggal dalam satu atap, tetapi seperti dua dunia berbeda.
Maher tetap dingin. Jika berpapasan, ia hanya menatap singkat lalu pergi. Tatapan jijik itu memang mulai memudar, tetapi gengsi menahannya untuk bersikap lunak.
Sementara itu, Saherra mulai mengenal rumah besar itu. Ia mendapati bahwa banyak anak yatim datang setiap Jumat untuk belajar mengaji bersama kakek Maher.
Suatu hari, kakek Maher jatuh sakit ringan dan tak mampu mengajar. Anak-anak itu duduk kebingungan.
Tanpa ragu, Saherra maju. Dengan suara lembut, ia membacakan ayat dan menjelaskan maknanya sederhana. Anak-anak tersenyum, merasa nyaman.
Maher yang baru pulang terdiam di ambang pintu.
Ia melihat bagaimana anak-anak itu tertawa bersama Saherra. Ia melihat kesabaran di wajah gadis yang dulu ia anggap lemah.
“Kau tidak takut mereka menganggapmu rendah?” tanya Maher malam itu.
Saherra menatapnya tenang.
“Aku sudah terbiasa dianggap rendah. Tapi itu tidak membuatku berhenti berbuat baik.”
Jawaban itu membuat Maher teringat masa kecilnya. Saat ibunya pergi, orang-orang berbisik bahwa ia anak yang tidak cukup berharga untuk ditinggali.
Untuk pertama kalinya, ia merasa Saherra memahami luka yang tak pernah ia ceritakan.
Namun badai belum selesai.
Ayah Saherra datang menuntut lebih banyak harta dari keluarga Maher sebagai “balasan” perjodohan. Ia mengancam akan mempermalukan mereka jika tidak diberi uang tambahan.
Maher murka.
“Ayahmu menjadikanmu alat tawar,” katanya dingin.
Saherra menunduk, bukan karena malu, tapi karena sudah terlalu sering diperlakukan seperti barang.
“Maaf,” ucapnya lirih.
Kata itu justru membuat dada Maher sesak.
“Kau tidak perlu meminta maaf atas kesalahan orang lain,” katanya pelan—suara yang belum pernah ia gunakan pada Saherra sebelumnya.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Maher tidak melihat Saherra sebagai perempuan yang pantas dibenci.
Ia melihat gadis yang bertahan hidup dalam luka yang tak kalah dalam dari miliknya.
Beberapa hari kemudian, ketika ayah Saherra kembali membuat keributan di depan rumah, Maher berdiri di hadapannya.
“Mulai hari ini, Saherra adalah tanggung jawabku. Jika kau menyakitinya lagi, kau berurusan denganku.”
Saherra yang mendengar itu membeku.
Bukan karena takut.
Melainkan karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang berdiri di depannya—bukan untuk menyakitinya, tapi melindunginya.
Sejak saat itu, jarak di antara mereka perlahan mencair.
Maher masih kaku. Saherra masih berhati-hati. Tapi tatapan jijik itu telah berubah menjadi tatapan ingin mengerti.
Suatu malam di atap rumah, di bawah langit Noorabad yang penuh bintang, Maher berkata pelan,
“Aku membenci perempuan karena ibuku pergi. Tapi mungkin… aku hanya takut ditinggalkan lagi.”
Saherra menatapnya lembut.
“Aku membenci rumahku karena ayahku kasar. Tapi aku tidak pernah berhenti berharap suatu hari ada rumah yang terasa aman.”
Angin malam berembus pelan.
Di kota kecil itu, dua hati yang tumbuh dalam luka mulai belajar satu hal:
Bukan semua perempuan meninggalkan.
Dan bukan semua lelaki menyakiti.
Kadang, takdir mempertemukan dua jiwa patah
bukan untuk saling menghancurkan—
melainkan untuk saling menyembuhkan.
Part 2 end.