Di sebuah kota kecil bernama Noorabad, di wilayah tua India, berdirilah rumah-rumah batu berukir ayat-ayat suci. Kota itu dikenal sebagai kota religius; azan selalu menggema lembut setiap fajar, dan para tetua adat memegang teguh aturan turun-temurun.
Di sudut kota, hiduplah seorang gadis enam belas tahun bernama Saherra. Wajahnya lembut, matanya teduh, tetapi hidupnya tidak pernah benar-benar tenang.
Ayahnya, Farid, adalah lelaki yang keras dan mudah marah. Ia frustrasi karena tidak memiliki anak laki-laki. Setiap kali mendengar ejekan tetangga, amarahnya dilampiaskan kepada istri dan putrinya.
“Kau tak memberiku pewaris!” bentaknya suatu malam.
Saherra hanya bisa memeluk ibunya dalam diam. Di dalam hatinya, ia sering berdoa agar suatu hari ia bisa keluar dari rumah itu.
Di bagian lain Noorabad, berdiri rumah besar milik keluarga pemimpin adat agama kota. Di sanalah tinggal Maher, cucu dari pemimpin kelompok tersebut.
Maher dikenal cerdas, tampan, dan dingin. Ibunya meninggalkannya sejak kecil, pergi entah ke mana. Sejak itu, hatinya seperti terkunci.
“Perempuan hanya membawa luka,” ucapnya suatu ketika pada temannya.
Tatapannya selalu tajam setiap kali melihat perempuan. Ia tak percaya pada kasih sayang.
Suatu hari, Farid melihat kesempatan untuk menaikkan derajatnya. Ia mengusulkan aliansi pernikahan kepada kakek Maher.
“Anakku akan menjadi istri yang patuh,” katanya penuh harap.
Kakek Maher, yang ingin mempererat hubungan keluarga terpandang dengan warga kota, menyetujui.
Tanpa bertanya pada hati anak-anak itu, perjodohan pun ditetapkan.
---
Pertemuan pertama mereka terjadi di halaman masjid tua. Saherra berdiri dengan pakaian sederhana, menunduk sopan.
Maher datang dengan jubah bersih dan langkah mantap.
Saat mata mereka bertemu, Maher menatapnya dengan jijik tipis.
“Ini calon istriku?” gumamnya pelan, seolah menilai barang dagangan.
Saherra yang mendengar hanya mengernyit.
“Dia ini kenapa? Tatapannya seperti orang kesurupan,” pikirnya.
Setiap kali mereka dipertemukan dalam acara keluarga, Maher selalu bersikap dingin.
“Kau harus belajar banyak sebelum menjadi bagian dari keluargaku,” ucapnya suatu hari.
Saherra membalas dengan suara pelan namun tegas,
“Aku tidak pernah meminta menjadi bagian dari duniamu.”
Maher terdiam, tidak menyangka gadis miskin itu berani menjawab.
Hari-hari menjelang lamaran terasa berat. Saherra semakin sering melihat ibunya menangis diam-diam. Ia tahu pernikahan ini mungkin akan membebaskannya dari rumah penuh amarah, tetapi ia takut masuk ke rumah penuh kebencian.
Maher pun tidak lebih tenang. Setiap kali teringat ibunya yang pergi, hatinya kembali mengeras.
“Aku tidak akan peduli padanya,” tekadnya.
Namun malam sebelum lamaran, sesuatu terjadi.
Saherra melihat seorang anak kecil terjatuh di pasar. Tanpa ragu ia menolong, membersihkan luka anak itu, dan menenangkan ibunya.
Maher yang kebetulan lewat melihat semuanya.
Untuk pertama kalinya, tatapannya tidak berisi jijik.
“Kenapa kau membantu mereka?” tanyanya tiba-tiba.
Saherra menatapnya lurus.
“Karena tidak semua orang punya seseorang yang melindungi.”
Jawaban itu menusuk sesuatu dalam hati Maher.
Hari lamaran tiba. Penduduk Noorabad berkumpul. Doa dibacakan, cincin disiapkan.
Maher memandang Saherra yang duduk tenang. Gadis yang dulu ia anggap lemah ternyata memiliki keberanian yang tak ia miliki—keberanian untuk tetap lembut di tengah luka.
Saherra menatap Maher tanpa takut. Dalam hatinya ia berkata,
“Jika takdir membawaku ke sini, aku tidak akan hidup sebagai bayangan.”
Di bawah langit Noorabad yang jingga, lamaran pun berlangsung.
Belum ada cinta di antara mereka.
Hanya dua hati yang sama-sama terluka.
Namun di kota kecil itu, orang-orang percaya,
bahkan hati yang keras seperti batu
bisa retak perlahan
oleh kesabaran dan kebaikan yang tulus.
Dan kisah Saherra serta Maher baru saja dimulai.
Part 1.