Di sebuah pulau yang kaya tanah dan bukit-bukit batu, hiduplah masyarakat yang bergantung pada alam. Di tengah hutan mereka terdapat sebuah danau misterius yang disebut Danau Empat Wajah.
Tak ada yang tahu sejak kapan danau itu ada. Airnya kadang jernih seperti kaca. Namun anehnya, isinya sering berubah.
Konon dahulu, danau itu dijaga oleh empat roh penjaga alam:
Roh Air, Roh Pasir, Roh Timah, dan Roh Api.
Roh Air adalah yang paling lembut. Saat ia berkuasa, danau dipenuhi air segar. Ikan berenang, burung datang minum, dan warga mengambil air untuk sawah.
Roh Pasir berbeda. Ia muncul saat manusia mulai lupa bersyukur. Air danau perlahan surut, berganti hamparan pasir luas. Orang-orang kebingungan, tak bisa lagi menangkap ikan.
“Alam perlu istirahat,” bisik angin setiap kali pasir muncul.
Namun yang paling membuat orang takut adalah ketika Roh Api bangkit. Danau berubah merah menyala. Api muncul dari permukaannya seperti lidah-lidah panas menari. Tak seorang pun berani mendekat.
Tetua kampung berkata, “Itu tanda amarah alam.”
Ada pula masa ketika danau berubah menjadi timah berkilau, berat dan mengilap seperti cermin perak. Orang-orang tergoda mengambilnya. Mereka menambang tanpa henti, lupa bahwa danau itu bukan sekadar sumber kekayaan.
Semakin banyak timah diambil, semakin sering Roh Api muncul.
Hingga suatu hari, seorang anak yatim bernama Raka duduk di tepi danau yang sedang berubah menjadi pasir. Ia menangis.
“Aku tidak butuh timah. Aku hanya ingin danau yang tenang,” katanya.
Angin berhenti berembus. Permukaan pasir bergetar. Dari tengah danau muncul bayangan empat cahaya.
Suara lembut terdengar,
“Kami berubah sesuai hati manusia. Jika kalian serakah, kami menjadi api. Jika kalian merusak, kami menjadi pasir. Jika kalian tamak, kami menjadi timah. Namun jika kalian menjaga dan bersyukur, kami menjadi air.”
Raka berlari kembali ke kampung dan menceritakan semuanya.
Sejak hari itu, warga berhenti mengambil timah berlebihan. Mereka menanam pohon di sekitar danau. Mereka hanya mengambil secukupnya dan selalu mengadakan doa syukur.
Perlahan-lahan, danau kembali berisi air jernih.
Namun hingga kini, Danau Empat Wajah masih sesekali berubah. Bukan karena marah tanpa sebab, melainkan karena ia adalah cermin hati manusia.
Dan masyarakat percaya,
selama manusia menjaga alam dengan bijak, danau itu akan tetap menjadi sumber kehidupan bukan sumber bencana.
Tamat